Majulah, Jangan Berputar Balik! Jadilah Pemenang!

"Majulah, jangan berputar balik. Jadilah seorang pemenang!"


Berbahagia rasanya malam ini saya bisa kembali mendengarkan Dhammadesana dalam acara SPD yang telah masuk di hari ke-8. Malam ini yang mengisi adalah Bhante Abhayanando Thera. Bhante menjelaskan suatu hal yang luar biasa, yang membuat saya serasa tersadarkan kembali. Demikian yang bisa saya tuliskan lagi berdasarkan apa yang telah saya dengar:

Bhante membuka dengan menceritakan pengalaman beliau melakukan pengembangan Dhamma terutama di daerah pelosok. Berbahagialah kita yang hidup di kota, bisa dengan mudah menemukan pembicara untuk mendengarkan Dhamma. Sedangkan keadaan di beberapa daerah, tidak semudah itu. Ada daerah yang baru mulai merintis. Baru menemukan 1 keluarga untuk mau belajar ajaran Buddha. Setelah itu berkembang ke dua  tiga keluarga. Artinya adalah bagaimanapun kondisinya, adanya kesempatan yang baik adalah hal yang berharga yang harus kita manfaatkan. Datang ke vihara tidak bisa nitip. Misal, anda sudah tua anda nitip ke yang muda-muda untuk datang ke vihara, itu tidak bisa. Kalau anda mau mendapatkan manfaatnya, seharusnya ya dari anda sendiri bukan orang lain.

Ketika tadi siang Bhante baru sampai ke Vihara, Bhante sempat melihat 2 relief dimana yang satu menggambarkan saat Pertapa Gautama menyiksa diri, yang satu saat sudah mencapai Pencerahan Sempurna. Satu relief dimana Pertapa Gautama menyiksa diri menggambarkan suatu perjuangan yang tidak mudah. Beliau berusaha keras untuk mencapai tujuan yang mulia. Inilah kehidupan yang penuh dengan proses. Dari penyiksaan diri itu muncul kesadaran bahwa itu tidak benar, maka ada usaha baik lagi untuk kembali ke jalan yang sesuai. Proses membuahkan hasil.

Faktanya, orang sering kali berbicara soal hasil daripada mengingat prosesnya. Untuk mencapai hasil kadang kala perlu proses yang tidak mudah. Ada umat yang komplain saya sudah banyak berbuat baik kok hasilnya tidak ada. Saya sudah banyak berdana kok hidup saya masih begitu-begitu saja. Saya sudah meditasi kenapa stress saya ndak hilang-hilang. Itulah manusia yang hanya bisa berbicara soal hasil. Pokok harus ada hasil, hasil, hasil, padahal harusnya ada prosesnya.

Janganlah anda terpaku dengan hasil. Mencapai suatu tujuan butuh waktu, butuh proses, butuh perjuangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bisa saja seseorang itu tidak tahu, salah, lalu timbul penyadaran, itulah proses. Kita harus memahami bahwa mencapai kualitas terbaik butuh perjuangan. Memang tidak mudah. Kenapa kok tidak mudah? Karena kita sering termanjakan dengan yang instant, mie instant, kopi instant. Sayang sekali, nyatanya tidak ada yang instant. Ada umat yang membandingkan dulu di kehidupan Sang Buddha banyak sekali yang mendengar Dhamma sebentar sudah mencapai tingkat kesucian, sekarang sulit sekali. Ya, karena memang beda pemahaman dan kualitasnya.

Sebuah batu akik saja menjadi indah karena proses. Batu ditempa, dihaluskan, kalau prosesnya satu saja tidak dilakukan ya tidak bisa indah. Dalam Thera Gatha, tertuliskan bahwa Majulah, jangan berputar balik. Maka anda bisa jadi pemenang!. Menang atas apa? Menang atas diri sendiri. Sukses mengalahkan lobha, dosa, moha. Tapi, namanya berjalan, kadang kita itu bisa lelah, jenuh, akhirnya kita berhenti sejenak ngopi di warung sebelum maju lagi. Tapi ada pula yang memutuskan untuk mundur, putar balik, bahkan berhenti. Orang yang bisa maju dengan stabil ialah yang bisa mencapai tujuannya.

Alasan dan pikiran-pikiran sering kali menghambat kita untuk maju, misalnya berpikir ah ada apa sih di sana, tidak ada apa-apa, putar balik sajalah. Banyak orang yang bergerak, tapi tanpa tujuan, alias hilir mudik. Karena apa? Karena adanya keragu-raguan, takut, tidak peduli, orang merasa terbebani untuk terus maju. Pikiran buruk mendukung keputusan untuk mundur. Ketika kita berbuat baik pun, kadang kali orang berhenti karena pikiran-pikiran yang tidak mendukung, seperti Bhante, saya sudah berbuat baik terus, tapi kenapa saya begini saja. Kalau keputusan kita berhenti, ya kita tidak dapat apa-apa. Kita semakin jauh dari tujuan, semakin erat dengan yang namanya kecewa. Kecewa menyebabkan orang tidak mau berbuat apa-apa. Sayangnya, masih banyak yang seperti itu, kecewa -> mundur, berhenti, putar balik.

Tiap orang bisa punya kesempatan memupuk parami yang besar. Tiap orang boleh punya harapan besar. Semua itu diisi dan direalisasikan dengan berjuang, berjuang, dan berjuang, bukanlah penundaan. Berjuang itu tidak ada yang namanya berhenti, tidak ada yang namanya menunda. Maju sedikit mundur lagi, maju sedikit mundur lagi, akhirnya berhenti ndak maju-maju. Lalu, siapa yang bisa mengubah kondisi ini? Pastinya, ya diri sendiri. Yang kurang baik, anda jadikan lebih baik. Dulunya kurang sabaran, nantinya harus lebih sabar, tapi butuh waktu, butuh daya juang yang luar biasa. Sekali lagi, tidak mudah. Tapi percayalah Sang Buddha telah berhasil melewati kesulitan-Nya dan mencapai Pencerahan Sempurna.

Apa yang membuat Sang Buddha berhasil? Adanya tekad untuk maju bukan penundaan. Ada umat yang putus asa berkata kepada Bhante, Bhante saya ndak bisa meditasi, mungkin belum karma saya. Oh, ada juga ya orang bermeditasi harus menunggu karma. Ada juga orang yang usianya sudah tua, tapi semangat kalau ikut puja bakti. Itu buktinya usia bukan penghalang. Usia tua artinya bahwa kita sudah tidak boleh menunda. Lalu kalau masih muda? Dengan usia yang muda, anda harus lebih bisa memanfaatkan waktu. Jika anda bisa semangat bergosip, menonton sinetron, kenapa anda masih ragu melatih diri, sering ke vihara, meditasi? Anda lupa kalau hidup ini tidak kekal. Kematian itu bisa mendadak, hidup tidak kekal. Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, karena segala sesuatu tidaklah kekal.

Hapus kata menunda. Semua tidak kekal, jangan sampai anda menyesal. Anda harus bisa melihat dan memakai peluang untuk berbuat baik, jadikan peluang itu sebagai motivasi. Ketika jenuh, bosan, menghampiri, ingat lagi hidup ini tidak kekal. Anda harus mulai rajin. Bagi mereka yang memahami, bagi mereka yang mau memanfaatkan hidupnya sebaik mungkin, maka ia akan menjadi pemenang. Ketika anda punya cukup banyak uang, dan anda sadar ingin berbuat baik, memanfaatkan uang tersebut untuk berbuat baik, itu luar biasa. Hal tersebut berarti bahwa anda bisa melihat peluang untuk berbuat baik dengan apa yang anda miliki.

Sering kali kita ragu untuk berbuat baik, semisal ingin berdana tapi hanya dalam jumlah sedikit. Lanjutkan hal itu, lakukan terus menerus. Sedikit, sedikit, sedikit, jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Sedikit tidak masalah yang terpenting anda mau mengulanginya. Bijaklah dalam berbuat baik. Tambahkan kebahagiaan saat anda berbuat baik.

Setelah anda mendapatkan peluang, manfaatkan dengan baik, dan prioritaskan diri anda untuk meningkatkan kualitas anda. Apapun yang terjadi, anda harus siap. Kalau anda tidak siap, anda bisa-bisa berbalik arah. Perjalanan itu memang tidak mudah, berliku-liku. Kalau menuruti kondisi yang sulit, Bhante pun mungkin tidak bisa mencapai pelosok-pelosok itu. Kuatkan keyakinan, jalani jalan itu, maju bertahap. Anda pasti bisa mencapai tujuan anda. Adanya perasaan malas, masih ada waktu lagi, lelah, bosan, semua itu adalah penghambat yang akan muncul. Itulah yang mengajak anda untuk berhenti dan berputar balik. Mereka semua itu ibarat jalan macet yang menawarkan anda untuk mutar balik. Semua itu bagian dari menuju hasil walaupun tidak enak.

Ada seorang umat yang berlatih meditasi, ngomel awalnya, pegel, capek, lelah, bosan, dsb. Setelah ia latihan melewati batasannya, eh ia berkata kalau indah pada akhirnya. Capek itu pasti. Jenuh bisa muncul. Lelah memang. Anda bertahan, itu luar biasa. Indah pada akhirnya. Ini nyata karena ada umat yang masih muda yang awalnya ngomel macam-macam, bertahan 30 menit, dia berhasil menjalankannya. Benar sekali kalau anda sudah menjalankan prosesnya, anda baru bisa merasa oh seperti ini toh. Pengalaman juga ada karena proses, kalau anda jalani baru anda bisa merasakannya.

Hal yang tidak mudah dari pengalaman seharusnya memotivasi untuk terus bangkit walaupun anda selalu jatuh. Melihat pengalaman memudahkan kita berjalan. Ada sebuah cerita nyata lagi, seorang anak yang sangat sedih karena mamanya meninggal. Ia sedih sekali cukup lama. Dalam hal ini batinnya sakit, fisiknya pun sakit. Setelah ia ke vihara, bertemu dengan Bhante, berbicara. Ia memutuskan untuk kembali aktif ke vihara, ikut pabajja Samanera, lalu akan mengikuti Pabajja Upasampada. Lihat, inilah peluang yang bisa anda ambil untuk semakin dekat dengan praktik Dhamma.

Kalaupun sakit di dalam prosesnya, bangunlah jangan lengah. Anda harus segera menyadari bahwa kalau sakit anda harus bangkit lagi. Ketika kita melengkapi kehidupan kita dengan keyakinan, semangat, kesadaran, konsentrasi, pikiran-pikiran positif, kita bisa semakin maju. Kalau anda bisa seperti itu terus, anda akan menemukan tujuan anda, yaitu dengan melihat diri sendiri. Kok bisa begitu? Iya, anda mampu melihat diri sendiri, apakah sudah ada perkembangan, apakah sudah kemajuan dalam diri anda, itulah hasilnya yang penuh dengan proses. Mie instant pun butuh proses untuk membuatnya, 3 menit baru matang. Yang namanya instant saja butuh proses, maka harus tidak ada kata  menunda dan berhenti untuk terus maju mencapai hasil.

Akhir kata, hadapi dengan bijak apapun yang ada dalam hidup anda. Fokus dan jadikan Dhamma sebagai pedoman hidup anda. Hasil dan proses saling bergantungan. Jangan pernah katakan tidak untuk prosesnya jika anda mau mendapatkan hasilnya. Terus berpikir positif untuk mendapatkan kemajuan dalam batin. Ingat! Ketika kita berhenti, kita akan semakin menjauh dari tujuan. Semoga kita semua bisa semakin maju dalam Dhamma, semoga semua makhluk hidup berbahagia...(dikutip oleh Indra, 25-04-2019)

Komentar

Postingan Populer