Kamma tidak harus Berbuah
Dhamma itu adalah untuk seorang yang bijaksana, bukan untuk seorang yang tidak bijaksana (Anguttara Nikaya)
Malam ini Kamis, 18 April 2019, Vihara Samaggi Viriya, Malang memulai Sebulan Pendalaman Dhammanya hari pertama. Suatu kesempatan yang baik bagi kami bisa kembali bertemu dengan para Bhante dan mendengarkan Dhamma di waktu yang tepat. Sebagai pengisi yang pertama adalah Y.M. Jayaratano Thera. Kali ini tanpa mengetahui topik apa yang akan disampaikan oleh Bhante membuat kami semangat dan penasaran untuk belajar Dhamma. Dalam kesempatan ini, saya kembali ingin membagikan sedikit ulasan dari apa yang saya dengarkan, sebagai berikut:
Dhamma itu adalah untuk seorang yang bijaksana, bukan untuk seorang yang tidak bijaksana, kutipan Sutta dari Anguttara Nikaya menjadi pengantar dari Y.M. Jayaratano Thera. Sebagai umat Buddha, pemahaman kita mengenai seorang yang bijaksana identik dengan pencapaian kesucian ataupun janna. Kita yakin bahwa Guru Agung kita, Sang Buddha, merupakan sosok yang bijaksana. Namun, di kala itu, pada masa dimana Sang Buddha hidup, masih ada sosok-sosok yang dihormati sebagai guru dengan berbagai paham-paham yang telah ada. Segala sesuatu membutuhkan proses, tidak ada yang sekonyong-konyong tumbuh ataupun muncul. Salah satu faktor kemunculan Sang Buddha di Jambudipa adalah untuk meluruskan apa yang telah ada namun keliru. Bagi budaya India kuno mungkin tepat, tapi budaya akan terus tumbuh dan apa yang telah ada bisa saja berbelok.
Salah satu dari guru-guru yang mungkin pernah kita tahu dari riwayat Guru Agung kita, yaitu Alara Kalama serta Uddakha Ramaputta. Mereka adalah guru yang telah berhasil bahkan mencapai janna. Namun, kedua guru tersebut belum bisa mencapai pencerahan / kesucian seperti pertapa Gautama. Mengapa bisa demikian? Sang Buddha bukan sekedar hanya mencapai janna, namun Beliau telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi, bahkan sampai arupajanna. Beliau mencapai pencerahan, menjadi Guru Agung yang bijaksana yang telah mencapai kesucian. Yang mau ditekankan dalam hal ini, pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah, sangat sulit. Namun, kedua guru tersebut belum mencapai kondisi di mana mereka bisa memahami kotoran batin.
Satu poin lain yang digarisbawahi dan ingin diluruskan oleh Sang Buddha ialah kamma. Sang Buddha ingin meluruskan dan mengajarkan kepada kita. Maklumlah, setiap orang bisa memahami / menerima sesuatu dengan pandangan masing-masing. Huruf M bisa dilihat secara berbeda oleh orang yang berbeda posisi. Sebenarnya apa sih kamma itu?
Kamma itu niat, cetana, maka dari itu niat itu bisa terkondisikan baik maupun buruk. Yang sering kita lihat diluaran sana itu hanya gejala-gejala kammanya. Karma yang sesungguhnya kita kurang tahu bahkan bisa saja keliru. Kondisi di luar itu mempengaruhi hasil kammanya. Misal sebagai menantu kita ingin memberikan segala yang manis dan terbaik bagi mertua, kue yang manis, senyuman yang manis, daging yang enak banget. Namun, sayang sekali si mertua ini kolesterolnya tinggi, jadi niat si menantu ini tidak tersampaikan karena gejala / kondisi yang ada.
Ada satu pemahaman dari Sutta yang sering kita terima, kalimatnya seperti ini: Seperti benih yang ditabur, begitu pula penabur kebajikan akan menuai kebajikan, penabur keburukkan akan menuai keburukkan. Sebenarnya, kalimat ini bisa dianggap tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Loo, kok begitu? Benar, menanam mangga pasti buahnya mangga. Menanam padi pasti keluar padi. Betul. Namun, Sang Buddha membuat perubahan, bahwa kamma itu tidak selalu harus berbuah. Orang cenderung takut kalau melakukan banyak hal buruk, pasti akhirnya buruk juga. Tapi sebenarnya, itupun belum tentu harus berbuah. Kalau segala kamma itu berbuah, tidak akan ada kehidupan suci, tidak akan ada perubahan.
Sebagai contoh, kita pasti tahu kan sosok Angulimala. Dia namanya sebenarnya Ahimsaka. Karena ajaran dari gurunya, dia harus mengumpulkan seribu jari manusia. Namun, pada kejadian terakhir dimana hanya tinggal 1 jari saja, Sang Buddha muncul sebelum dia membunuh ibunya sendiri. Kalau mau diteliti, sebenarnya sudah lebih dari 1000 orang yang dia bunuh, loo tapi kenapa kok jarinya cuman 999? Ternyata, Angulimala itu awalnya ndak paham bagaimana caranya menyimpan jari-jari itu dengan benar. Jari yang dipotong kan sama dengan bangkai, disembunyikan manapun pasti tercium oleh hewan-hewan ataupun rusak. Sampai pada akhirnya ia menemukan cara dengan mengalungkan jari-jari tersebut. Maka dari itu orang-orang menyebutnya Angulimala.
Bayangkan saja, betapa banyak kamma buruk yang sudah ia sebar. Benih buruk telah ditabur, namun akhirnya beliau bisa loo mencapai kesucian. Bayangkan kalau semua kamma itu pasti berbuah / harus berbuah, apakah mungkin Angulimala bisa mencapai kesucian? Ingat, kalau semua kamma harus berbuah terutama kamma buruk, orang tidak akan ada yang mencapai kehidupan suci. Kalau kita mau hitung-hitungan, dalam sejentikkan jari tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan batin (citta), muncul ratusan ribu koti. 1 koti 10 juta. Dalam 1 detik muncul triliunan kamma. Bayangkan saja, kalau di hitung dalam menit, jam, hari, bahkan setahun plus usia anda, berapa banyak kamma yang harus berbuah? Itu belum kehidupan lampau, kalau semua itu harus berbuah, ngomong-ngomong kesampaian kah kita mencapai kesucian? Karena buah kamma tidak harus berbuah, ada kemajuan, ada perubahan. Kata orang, nasib bisa diubah.
Pembuktian lainnya adalah sosok lain yang kita kenal yaitu Bhante Siwali. Dalam kehidupan sebelumnya, beliau pernah ingin memberikan madu bagi temannya. Di kerajaan, raja sedang risau karena persediaan madunya habis untuk dipersembahkan kepada SammasamBuddha. Beliau menugaskan prajuritnya untuk mencari dimana-mana bahkan mau membayar berapapun. Ketemulah pengawalnya dengan pemuda itu yang membawa madu. Terjadi negosiasi, si prajurit bersih keras untuk membeli madu itu.
Si pemuda bersih keras tidak menjual madu itu berapapun yang ditawar. Lama-lama si pemuda penasaran kok segitunya si prajurit sampai ingin membeli dengan harga mahal. Dari cerita maksud sebenarnya prajurit tersebut, maka si pemuda pun memberikan madunya tanpa pamrih karena munculnya kebahagiaan serta keyakinan pada SammasamBuddha. Ketika di kehidupan Beliau sebagai Bhikkhu Siwali berkat kebaikkan yang beliau lakukan pada kehidupan tersebut, Beliau tak pernah kesulitan untuk mencari makan. Bahkan, ketika Sang Buddha berada di desa yang penduduknya kurang pun, para dewa menjelma sebagai penduduk desa yang berkecukupan untuk berdana. Itulah mengapa ketika kita memoles terus, memupuk kebajikan-kebajikan kita, maka benih kebaikkan yang kita tabur akan semakin banyak dan suatu ketika buah itu akan matang. Kelihatannya mudah sekali ya, namun tanpa keyakinan tanpa pelepasan tanpa pamrih tidak akan bisa seperti itu.
Kenapa kok buah kamma buruk kita bisa berbuah? Ternyata karena kita tidak hati-hati, kurang waspada. Maka dari itu kamma baik ketika kita bisa mengemas dengan baik, maka hal baik pula yang berbuah. Tapi kalau kita sembrono, hal yang buruk akan terkondisi. Maka, dari pencerahan yang disampaikan oleh Sang Buddha, kembali ditekankan bahwa ketika kita mau berhati-hati, kamma buruk tidak harus berbuah. Maka dari itu gunanya Dhamma adalah memperkuat mental kita, dengan apa? Ya dengan terus berlatih, belajar, maka nantinya cara menghadapinya kita akan berbeda. Segala yang timbul / berbuah pasti adalah hasil dari benih kita, bukan dari orang lain.
Sekali lagi, kamma tidak harus berbuah maka dari itu ada kehidupan suci. Maka dari itu dengan kehati-hatian, terus maju, maju, maju dan maju kita bisa lebih baik. Gunanya apa? Gunanya adalah pada kehidupan sehari-hari. Itulah Dhamma. Saat ini itulah Dhamma. Segala sesuatu yang ditekuni, dilatih terus, itulah baik. Meditasi salah satunya. Meditasi ada dalam Dhamma. Tapi apapun yang kita pelajari dalam retret, vipassana, jangan ditinggalkan di kegiatan itu saja. Meditasi itu juga dalam kehidupan anda sehari-hari. Maka dari itu, ada orang kenceng banget meditasinya, tapi diluar itu marahnya juga kenceng. Sati-nya ternyata belum kuat. Kilesanya belum pudar, maka belum bisa mencapai kesucian. Maka dari itu, apapun yang sudah baik, sudah dipelajari, ditinggal. Padahal saat ini, apa yang baik itu adalah Dhamma. Namun sering kali kita masih terpengaruh dengan yang Adhamma.
Sebagai penutup, ada loo yang berpikir kalau gak guna ngumpulin banyak kebajikkan, kamma baik itu bisa expired. Lebih lucu lagi, ketika melihat rupang Bhante Siwali, yang ada bukan mengingat kebaikan Beliau tapi sembahyang mohon dilimpahkan banyak makanan lah, hokky lah, apalah. Bukan itu, kita itu harus melihat lagi sifat-sifat nya, ingat sosoknya. Dari sana kita juga menjalani prosesnya. Dari sanalah kita bisa membuahkan benih kebaikkan kita. Dengan adanya itu ditambah Sati, yakinlah kita bakal dapat hal yang baik. Kalau berhasil, ya itulah meditasi yang bukan cuman teori tapi praktik yang seharusnya sehari-hari bisa kita terapkan. Maka dari itu, itulah vitamin kehidupan yaitu Dhamma itu sendiri. Keseharian andalah sebenarnya perang yang sesungguhnya, tinggal anda bisa menghadapinya atau tidak. Itulah Dhamma yang kita jalani.
Semoga kita semakin memahami soal kamma yang sebenarnya, bisa semakin hati-hati, dan hidup sesuai dengan Dhamma. Sadhu, Sadhu, Sadhu...🙏🙏🙏
Malam ini Kamis, 18 April 2019, Vihara Samaggi Viriya, Malang memulai Sebulan Pendalaman Dhammanya hari pertama. Suatu kesempatan yang baik bagi kami bisa kembali bertemu dengan para Bhante dan mendengarkan Dhamma di waktu yang tepat. Sebagai pengisi yang pertama adalah Y.M. Jayaratano Thera. Kali ini tanpa mengetahui topik apa yang akan disampaikan oleh Bhante membuat kami semangat dan penasaran untuk belajar Dhamma. Dalam kesempatan ini, saya kembali ingin membagikan sedikit ulasan dari apa yang saya dengarkan, sebagai berikut:
Dhamma itu adalah untuk seorang yang bijaksana, bukan untuk seorang yang tidak bijaksana, kutipan Sutta dari Anguttara Nikaya menjadi pengantar dari Y.M. Jayaratano Thera. Sebagai umat Buddha, pemahaman kita mengenai seorang yang bijaksana identik dengan pencapaian kesucian ataupun janna. Kita yakin bahwa Guru Agung kita, Sang Buddha, merupakan sosok yang bijaksana. Namun, di kala itu, pada masa dimana Sang Buddha hidup, masih ada sosok-sosok yang dihormati sebagai guru dengan berbagai paham-paham yang telah ada. Segala sesuatu membutuhkan proses, tidak ada yang sekonyong-konyong tumbuh ataupun muncul. Salah satu faktor kemunculan Sang Buddha di Jambudipa adalah untuk meluruskan apa yang telah ada namun keliru. Bagi budaya India kuno mungkin tepat, tapi budaya akan terus tumbuh dan apa yang telah ada bisa saja berbelok.
Salah satu dari guru-guru yang mungkin pernah kita tahu dari riwayat Guru Agung kita, yaitu Alara Kalama serta Uddakha Ramaputta. Mereka adalah guru yang telah berhasil bahkan mencapai janna. Namun, kedua guru tersebut belum bisa mencapai pencerahan / kesucian seperti pertapa Gautama. Mengapa bisa demikian? Sang Buddha bukan sekedar hanya mencapai janna, namun Beliau telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi, bahkan sampai arupajanna. Beliau mencapai pencerahan, menjadi Guru Agung yang bijaksana yang telah mencapai kesucian. Yang mau ditekankan dalam hal ini, pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah, sangat sulit. Namun, kedua guru tersebut belum mencapai kondisi di mana mereka bisa memahami kotoran batin.
Satu poin lain yang digarisbawahi dan ingin diluruskan oleh Sang Buddha ialah kamma. Sang Buddha ingin meluruskan dan mengajarkan kepada kita. Maklumlah, setiap orang bisa memahami / menerima sesuatu dengan pandangan masing-masing. Huruf M bisa dilihat secara berbeda oleh orang yang berbeda posisi. Sebenarnya apa sih kamma itu?
Kamma itu niat, cetana, maka dari itu niat itu bisa terkondisikan baik maupun buruk. Yang sering kita lihat diluaran sana itu hanya gejala-gejala kammanya. Karma yang sesungguhnya kita kurang tahu bahkan bisa saja keliru. Kondisi di luar itu mempengaruhi hasil kammanya. Misal sebagai menantu kita ingin memberikan segala yang manis dan terbaik bagi mertua, kue yang manis, senyuman yang manis, daging yang enak banget. Namun, sayang sekali si mertua ini kolesterolnya tinggi, jadi niat si menantu ini tidak tersampaikan karena gejala / kondisi yang ada.
Ada satu pemahaman dari Sutta yang sering kita terima, kalimatnya seperti ini: Seperti benih yang ditabur, begitu pula penabur kebajikan akan menuai kebajikan, penabur keburukkan akan menuai keburukkan. Sebenarnya, kalimat ini bisa dianggap tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Loo, kok begitu? Benar, menanam mangga pasti buahnya mangga. Menanam padi pasti keluar padi. Betul. Namun, Sang Buddha membuat perubahan, bahwa kamma itu tidak selalu harus berbuah. Orang cenderung takut kalau melakukan banyak hal buruk, pasti akhirnya buruk juga. Tapi sebenarnya, itupun belum tentu harus berbuah. Kalau segala kamma itu berbuah, tidak akan ada kehidupan suci, tidak akan ada perubahan.
Sebagai contoh, kita pasti tahu kan sosok Angulimala. Dia namanya sebenarnya Ahimsaka. Karena ajaran dari gurunya, dia harus mengumpulkan seribu jari manusia. Namun, pada kejadian terakhir dimana hanya tinggal 1 jari saja, Sang Buddha muncul sebelum dia membunuh ibunya sendiri. Kalau mau diteliti, sebenarnya sudah lebih dari 1000 orang yang dia bunuh, loo tapi kenapa kok jarinya cuman 999? Ternyata, Angulimala itu awalnya ndak paham bagaimana caranya menyimpan jari-jari itu dengan benar. Jari yang dipotong kan sama dengan bangkai, disembunyikan manapun pasti tercium oleh hewan-hewan ataupun rusak. Sampai pada akhirnya ia menemukan cara dengan mengalungkan jari-jari tersebut. Maka dari itu orang-orang menyebutnya Angulimala.
Bayangkan saja, betapa banyak kamma buruk yang sudah ia sebar. Benih buruk telah ditabur, namun akhirnya beliau bisa loo mencapai kesucian. Bayangkan kalau semua kamma itu pasti berbuah / harus berbuah, apakah mungkin Angulimala bisa mencapai kesucian? Ingat, kalau semua kamma harus berbuah terutama kamma buruk, orang tidak akan ada yang mencapai kehidupan suci. Kalau kita mau hitung-hitungan, dalam sejentikkan jari tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan batin (citta), muncul ratusan ribu koti. 1 koti 10 juta. Dalam 1 detik muncul triliunan kamma. Bayangkan saja, kalau di hitung dalam menit, jam, hari, bahkan setahun plus usia anda, berapa banyak kamma yang harus berbuah? Itu belum kehidupan lampau, kalau semua itu harus berbuah, ngomong-ngomong kesampaian kah kita mencapai kesucian? Karena buah kamma tidak harus berbuah, ada kemajuan, ada perubahan. Kata orang, nasib bisa diubah.
Pembuktian lainnya adalah sosok lain yang kita kenal yaitu Bhante Siwali. Dalam kehidupan sebelumnya, beliau pernah ingin memberikan madu bagi temannya. Di kerajaan, raja sedang risau karena persediaan madunya habis untuk dipersembahkan kepada SammasamBuddha. Beliau menugaskan prajuritnya untuk mencari dimana-mana bahkan mau membayar berapapun. Ketemulah pengawalnya dengan pemuda itu yang membawa madu. Terjadi negosiasi, si prajurit bersih keras untuk membeli madu itu.
Si pemuda bersih keras tidak menjual madu itu berapapun yang ditawar. Lama-lama si pemuda penasaran kok segitunya si prajurit sampai ingin membeli dengan harga mahal. Dari cerita maksud sebenarnya prajurit tersebut, maka si pemuda pun memberikan madunya tanpa pamrih karena munculnya kebahagiaan serta keyakinan pada SammasamBuddha. Ketika di kehidupan Beliau sebagai Bhikkhu Siwali berkat kebaikkan yang beliau lakukan pada kehidupan tersebut, Beliau tak pernah kesulitan untuk mencari makan. Bahkan, ketika Sang Buddha berada di desa yang penduduknya kurang pun, para dewa menjelma sebagai penduduk desa yang berkecukupan untuk berdana. Itulah mengapa ketika kita memoles terus, memupuk kebajikan-kebajikan kita, maka benih kebaikkan yang kita tabur akan semakin banyak dan suatu ketika buah itu akan matang. Kelihatannya mudah sekali ya, namun tanpa keyakinan tanpa pelepasan tanpa pamrih tidak akan bisa seperti itu.
Kenapa kok buah kamma buruk kita bisa berbuah? Ternyata karena kita tidak hati-hati, kurang waspada. Maka dari itu kamma baik ketika kita bisa mengemas dengan baik, maka hal baik pula yang berbuah. Tapi kalau kita sembrono, hal yang buruk akan terkondisi. Maka, dari pencerahan yang disampaikan oleh Sang Buddha, kembali ditekankan bahwa ketika kita mau berhati-hati, kamma buruk tidak harus berbuah. Maka dari itu gunanya Dhamma adalah memperkuat mental kita, dengan apa? Ya dengan terus berlatih, belajar, maka nantinya cara menghadapinya kita akan berbeda. Segala yang timbul / berbuah pasti adalah hasil dari benih kita, bukan dari orang lain.
Sekali lagi, kamma tidak harus berbuah maka dari itu ada kehidupan suci. Maka dari itu dengan kehati-hatian, terus maju, maju, maju dan maju kita bisa lebih baik. Gunanya apa? Gunanya adalah pada kehidupan sehari-hari. Itulah Dhamma. Saat ini itulah Dhamma. Segala sesuatu yang ditekuni, dilatih terus, itulah baik. Meditasi salah satunya. Meditasi ada dalam Dhamma. Tapi apapun yang kita pelajari dalam retret, vipassana, jangan ditinggalkan di kegiatan itu saja. Meditasi itu juga dalam kehidupan anda sehari-hari. Maka dari itu, ada orang kenceng banget meditasinya, tapi diluar itu marahnya juga kenceng. Sati-nya ternyata belum kuat. Kilesanya belum pudar, maka belum bisa mencapai kesucian. Maka dari itu, apapun yang sudah baik, sudah dipelajari, ditinggal. Padahal saat ini, apa yang baik itu adalah Dhamma. Namun sering kali kita masih terpengaruh dengan yang Adhamma.
Sebagai penutup, ada loo yang berpikir kalau gak guna ngumpulin banyak kebajikkan, kamma baik itu bisa expired. Lebih lucu lagi, ketika melihat rupang Bhante Siwali, yang ada bukan mengingat kebaikan Beliau tapi sembahyang mohon dilimpahkan banyak makanan lah, hokky lah, apalah. Bukan itu, kita itu harus melihat lagi sifat-sifat nya, ingat sosoknya. Dari sana kita juga menjalani prosesnya. Dari sanalah kita bisa membuahkan benih kebaikkan kita. Dengan adanya itu ditambah Sati, yakinlah kita bakal dapat hal yang baik. Kalau berhasil, ya itulah meditasi yang bukan cuman teori tapi praktik yang seharusnya sehari-hari bisa kita terapkan. Maka dari itu, itulah vitamin kehidupan yaitu Dhamma itu sendiri. Keseharian andalah sebenarnya perang yang sesungguhnya, tinggal anda bisa menghadapinya atau tidak. Itulah Dhamma yang kita jalani.
Semoga kita semakin memahami soal kamma yang sebenarnya, bisa semakin hati-hati, dan hidup sesuai dengan Dhamma. Sadhu, Sadhu, Sadhu...🙏🙏🙏
Komentar
Posting Komentar