3 Cara untuk Menjalani Kehidupan
Memupuk banyak kebajikkan adalah sebab kebahagiaan
Jumat, 19 April 2019 diadakan acara SPD hari kedua yang kembali diisi oleh Y.M. Bhante Jayaratano Thera. Kali ini Bhante menyampaikan dhammadesana yang lebih padat dan bermanfaat. Demikianlah yang dapat saya tuliskan dari apa yang saya dengar:
Bhante mengawali dengan memberikan semangat bahwa SPD adalah kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk berlatih. Dengan adanya SPD, membentuk tekad bagi umat Buddha untuk mengikuti puja bakti, beratthasila, dan masih banyak hal bajik lagi. Enaknya, kita melakukan hal-hal bajik ini tidak sendirian. Kita datang ke vihara, bertemu dengan umat-umat lainnya, menambah semangat kita untuk semakin menambah kebajikkan.
Menuju ke topik utama yang disampaikan oleh Bhante, Bhante mengawalinya dengan mengingatkan kita tentang Dhamma dan kehidupan. Dhamma itu universal. Dhamma itu kebenaran, tidak memandang agama, gender, dan kondisi apapun, semua bisa memahami Dhamma. Melalui Dhamma, Sang Buddha mengajarkan 3 cara untuk menjalani kehidupan yang identik dengan perubahan. Kata orang, perubahan itu menyakitkan, tidak mengenakkan. Kalau kita bisa lebih memahami, kalau tidak ada perubahan maka tidak ada kemajuan. Walau menyakitkan hasil yang bisa kita dapatkan bisa membuat kita bahagia.
Ada suatu cerita mengenai burung elang. Burung elang adalah burung yang sangat perkasa. Berbeda dengan burung kecil yang memakan madu, kelihatannya terbang dengan lincah, cepat, namun energi yang dipakai banyak. Sedangkan elang sangatlah gagah, ia mampu melayang-layang di udara dengan menyeimbangkan kedua sayapnya. Tapi, kita tidak tahu bahwa elang pun harus melewati masa menderita untuk bertahan hidup.
Elang adalah burung pemangsa hewan lain. Dengan berbekal cakar / kuku yang panjang dan tajam dan paruh yang kuat, elang bisa menangkap mangsanya dengan cepat. Namun, kuku yang makin panjang dan paruh yang makin besar adalah penderitaan bagi elang itu. Namun, si elang melakukan perubahan yang sangat menyakitkan selama lebih kurang 150 hari. Pertama, ia terbang ke atas bukit yang tinggi, disana ia mematahkan kuku-kukunya sendiri. Oh, betapa sakitnya proses itu. Tidak hanya berhenti di situ, ia berusaha mematahkan paruhnya dengan menabrakkannya di atas batu. Yang terakhir, ia mencabuti bulu-bulunya yang sudah tua sampai akhirnya semua itu tumbuh kembali. Dari tumbuh kembali, si elang seperti terlahir kembali, bahkan sampai waktu yang lama. Lihat proses ini, perubahan itu sangat menyakitkan, tapi kalau tidak berubah kadang kita bisa kalah dan mati. Kalau tidak ada inovasi, kita bisa rugi.
Kembali ke 3 cara yang diajarkan Sang Buddha untuk kita menjalani hidup yang penuh perubahan, yang pertama adalah tidak menimpakan penderitaan kepada yang tidak menderita. Normalnya, setiap manusia itu sebenarnya tidak menderita. Tapi faktanya, hidup yang kita jalani tidak selamanya membahagiakan. Mengapa begitu? Karena tak lain sebabnya adalah diri kita sendiri. Menderita atau bahagia adalah dari diri kita sendiri. Bagaimananya caranya agar tidak menderita? Seperti yang kemarin disampaikan yaitu dengan kehati-hatian. Faktor utama yang mempengaruhi adalah dari diri kita sendiri, namun juga terdapat faktor dari luar diri kita. Jika kita tidak hati-hati, faktor di luar diri kita akan menambah penderitaan kita.
Seperti diulas kemarin, Dhamma itu untuk orang yang bijaksana bukan untuk yang tidak bijaksana. Bijaksana itu seperti apa? Orang yang bijak, adalah orang yang mampu menganalisa mana yang baik mana yang buruk, bisa memahami, mau berlatih, dan bisa terus mempraktikkan. Dengan menjadi bijaksanalah, manusia lebih terarah dengan Dhamma itu sendiri, dan selalu berhati-hati. Kalau sudah begini, seharusnya faktor luar diri itu tidak menjadi masalah yang akan menambah penderitaan.
Cara yang kedua adalah tulus berbuat kebaikkan. Umat Buddha identik dengan "ritual-ritual" salah satunya saat upacara kematian. Alangkah bagusnya jika kita mampu menciptakan suasana yang sesuai dan mengesankan bagi keluarga. Enaknya, dalam agama kita, puja bakti pembacaan paritta itu tidak monoton, kita bisa merangkainya dengan kekreatifan kita. Misal, dengan membacakan arti parittanya dengan jelas. Manfaatnya bukan hanya untuk umat yang beragama Buddha, siapa tahu yang beragama non-Buddhis pun bisa terkesan. Mengulang kembali kata Bhante di awal tadi, Dhamma itu universal. Anda tidak harus menjadi umat Buddha untuk bisa mempelajari dan memahami Dhamma. Ini yang bisa kita lakukan dengan baik. Berbuat baik, melayani dengan tulus.
Kebaikkan yang tulus diawali dengan cetana. Cetana bukan sekedar tekad. Tapi dengan awal yang baik, niatan yang baik, mengondisikan kita untuk mau belajar, mau berlatih, dan terus menerus melakukannya sampai menjadi kebiasaan. Begitu pula saat kita bekerja, berbekal kejujuran, berbekal semangat, maka kita bisa memperoleh kebahagiaan dalam pekerjaan kita. Dengan ketulusan dalam berbuat baik itulah sebab suatu kebahagiaan.
Cara yang terakhir adalah reaksi kita akan kebahagiaan yang muncul itu. Haruskah kita terkendali oleh ego kita, terlalu menikmati kebahagiaan yang muncul, dan terus melekatinya? Berbuat baik itu bukanlah pilihan namun keharusan. Hasilnya jika dilakukan dengan tulus akan berbuah kebahagiaan. Bahagia itu menyenangkan, semua orang suka. Tapi kadang kala kita kalah dengan ego kita. Nikmat sekali kebahagiaan itu, tapi kita tidak boleh melekatinya. Ingat bahagia pun bisa lenyap. Anicca itu perubahan. Begitu pula sebaliknya, kita tidak seharusnya terlalu membenci hal buruk yang terjadi. Ibarat kaca spion, spion diciptakan bukan berarti anda harus selalu melihatnya. Yang terjadi mungkin malah hal buruk. Apa yang telah muncul di masa lalu telah lenyap, telah berubah.
Jika kita masih bingung apa yang harus kita lakukan, ingatlah akan kesabaran atau Khanti. Jangan malah menjadi sombong karena anda sudah mendapatkan kebahagiaan. Tidak baik pula jika anda membanding-bandingkan kebahagiaan anda dengan orang lain. Berusahalah sabar dan sadar. Saya sadar saya senang, saya sadar saya dipuji. Dilengkapi dengan kesabaran membimbing kita semakin menyadari tentang anicca. Oh, bahagia itu menyenangkan tapi nanti juga akan lenyap. Jika kita telah berhasil mengendalikan ego kita, tidak melekati yang muncul maupun yang lenyap, tugas kita adalah bersemangat untuk membiasakan diri selalu berbuat baik.
Itulah 3 cara yang diajarkan oleh Guru Agung kita untuk menjalani hidup yang isinya perubahan. Diawali dengan tidak menimpakan penderitaan kepada yang tidak menderita dengan perbuatan kita sendiri, tulus berbuat kebajikkan, dan juga mampu mengendalikan ego, tidak melekat, dan terus semangat dalam membiasakan diri selalu berbuat baik. Maka dari itu, sesuailah bahwa memupuk kebajikkan adalah sebab kebahagiaan.
Semoga dengan sedikit ulasan ulang ini, memberikan kita pencerahan dan terus berlatih menjadi lebih baik. Sadhu, Sadhu, Sadhu...🙏🙏🙏
Jumat, 19 April 2019 diadakan acara SPD hari kedua yang kembali diisi oleh Y.M. Bhante Jayaratano Thera. Kali ini Bhante menyampaikan dhammadesana yang lebih padat dan bermanfaat. Demikianlah yang dapat saya tuliskan dari apa yang saya dengar:
Bhante mengawali dengan memberikan semangat bahwa SPD adalah kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk berlatih. Dengan adanya SPD, membentuk tekad bagi umat Buddha untuk mengikuti puja bakti, beratthasila, dan masih banyak hal bajik lagi. Enaknya, kita melakukan hal-hal bajik ini tidak sendirian. Kita datang ke vihara, bertemu dengan umat-umat lainnya, menambah semangat kita untuk semakin menambah kebajikkan.
Menuju ke topik utama yang disampaikan oleh Bhante, Bhante mengawalinya dengan mengingatkan kita tentang Dhamma dan kehidupan. Dhamma itu universal. Dhamma itu kebenaran, tidak memandang agama, gender, dan kondisi apapun, semua bisa memahami Dhamma. Melalui Dhamma, Sang Buddha mengajarkan 3 cara untuk menjalani kehidupan yang identik dengan perubahan. Kata orang, perubahan itu menyakitkan, tidak mengenakkan. Kalau kita bisa lebih memahami, kalau tidak ada perubahan maka tidak ada kemajuan. Walau menyakitkan hasil yang bisa kita dapatkan bisa membuat kita bahagia.
Ada suatu cerita mengenai burung elang. Burung elang adalah burung yang sangat perkasa. Berbeda dengan burung kecil yang memakan madu, kelihatannya terbang dengan lincah, cepat, namun energi yang dipakai banyak. Sedangkan elang sangatlah gagah, ia mampu melayang-layang di udara dengan menyeimbangkan kedua sayapnya. Tapi, kita tidak tahu bahwa elang pun harus melewati masa menderita untuk bertahan hidup.
Elang adalah burung pemangsa hewan lain. Dengan berbekal cakar / kuku yang panjang dan tajam dan paruh yang kuat, elang bisa menangkap mangsanya dengan cepat. Namun, kuku yang makin panjang dan paruh yang makin besar adalah penderitaan bagi elang itu. Namun, si elang melakukan perubahan yang sangat menyakitkan selama lebih kurang 150 hari. Pertama, ia terbang ke atas bukit yang tinggi, disana ia mematahkan kuku-kukunya sendiri. Oh, betapa sakitnya proses itu. Tidak hanya berhenti di situ, ia berusaha mematahkan paruhnya dengan menabrakkannya di atas batu. Yang terakhir, ia mencabuti bulu-bulunya yang sudah tua sampai akhirnya semua itu tumbuh kembali. Dari tumbuh kembali, si elang seperti terlahir kembali, bahkan sampai waktu yang lama. Lihat proses ini, perubahan itu sangat menyakitkan, tapi kalau tidak berubah kadang kita bisa kalah dan mati. Kalau tidak ada inovasi, kita bisa rugi.
Kembali ke 3 cara yang diajarkan Sang Buddha untuk kita menjalani hidup yang penuh perubahan, yang pertama adalah tidak menimpakan penderitaan kepada yang tidak menderita. Normalnya, setiap manusia itu sebenarnya tidak menderita. Tapi faktanya, hidup yang kita jalani tidak selamanya membahagiakan. Mengapa begitu? Karena tak lain sebabnya adalah diri kita sendiri. Menderita atau bahagia adalah dari diri kita sendiri. Bagaimananya caranya agar tidak menderita? Seperti yang kemarin disampaikan yaitu dengan kehati-hatian. Faktor utama yang mempengaruhi adalah dari diri kita sendiri, namun juga terdapat faktor dari luar diri kita. Jika kita tidak hati-hati, faktor di luar diri kita akan menambah penderitaan kita.
Seperti diulas kemarin, Dhamma itu untuk orang yang bijaksana bukan untuk yang tidak bijaksana. Bijaksana itu seperti apa? Orang yang bijak, adalah orang yang mampu menganalisa mana yang baik mana yang buruk, bisa memahami, mau berlatih, dan bisa terus mempraktikkan. Dengan menjadi bijaksanalah, manusia lebih terarah dengan Dhamma itu sendiri, dan selalu berhati-hati. Kalau sudah begini, seharusnya faktor luar diri itu tidak menjadi masalah yang akan menambah penderitaan.
Cara yang kedua adalah tulus berbuat kebaikkan. Umat Buddha identik dengan "ritual-ritual" salah satunya saat upacara kematian. Alangkah bagusnya jika kita mampu menciptakan suasana yang sesuai dan mengesankan bagi keluarga. Enaknya, dalam agama kita, puja bakti pembacaan paritta itu tidak monoton, kita bisa merangkainya dengan kekreatifan kita. Misal, dengan membacakan arti parittanya dengan jelas. Manfaatnya bukan hanya untuk umat yang beragama Buddha, siapa tahu yang beragama non-Buddhis pun bisa terkesan. Mengulang kembali kata Bhante di awal tadi, Dhamma itu universal. Anda tidak harus menjadi umat Buddha untuk bisa mempelajari dan memahami Dhamma. Ini yang bisa kita lakukan dengan baik. Berbuat baik, melayani dengan tulus.
Kebaikkan yang tulus diawali dengan cetana. Cetana bukan sekedar tekad. Tapi dengan awal yang baik, niatan yang baik, mengondisikan kita untuk mau belajar, mau berlatih, dan terus menerus melakukannya sampai menjadi kebiasaan. Begitu pula saat kita bekerja, berbekal kejujuran, berbekal semangat, maka kita bisa memperoleh kebahagiaan dalam pekerjaan kita. Dengan ketulusan dalam berbuat baik itulah sebab suatu kebahagiaan.
Cara yang terakhir adalah reaksi kita akan kebahagiaan yang muncul itu. Haruskah kita terkendali oleh ego kita, terlalu menikmati kebahagiaan yang muncul, dan terus melekatinya? Berbuat baik itu bukanlah pilihan namun keharusan. Hasilnya jika dilakukan dengan tulus akan berbuah kebahagiaan. Bahagia itu menyenangkan, semua orang suka. Tapi kadang kala kita kalah dengan ego kita. Nikmat sekali kebahagiaan itu, tapi kita tidak boleh melekatinya. Ingat bahagia pun bisa lenyap. Anicca itu perubahan. Begitu pula sebaliknya, kita tidak seharusnya terlalu membenci hal buruk yang terjadi. Ibarat kaca spion, spion diciptakan bukan berarti anda harus selalu melihatnya. Yang terjadi mungkin malah hal buruk. Apa yang telah muncul di masa lalu telah lenyap, telah berubah.
Jika kita masih bingung apa yang harus kita lakukan, ingatlah akan kesabaran atau Khanti. Jangan malah menjadi sombong karena anda sudah mendapatkan kebahagiaan. Tidak baik pula jika anda membanding-bandingkan kebahagiaan anda dengan orang lain. Berusahalah sabar dan sadar. Saya sadar saya senang, saya sadar saya dipuji. Dilengkapi dengan kesabaran membimbing kita semakin menyadari tentang anicca. Oh, bahagia itu menyenangkan tapi nanti juga akan lenyap. Jika kita telah berhasil mengendalikan ego kita, tidak melekati yang muncul maupun yang lenyap, tugas kita adalah bersemangat untuk membiasakan diri selalu berbuat baik.
Itulah 3 cara yang diajarkan oleh Guru Agung kita untuk menjalani hidup yang isinya perubahan. Diawali dengan tidak menimpakan penderitaan kepada yang tidak menderita dengan perbuatan kita sendiri, tulus berbuat kebajikkan, dan juga mampu mengendalikan ego, tidak melekat, dan terus semangat dalam membiasakan diri selalu berbuat baik. Maka dari itu, sesuailah bahwa memupuk kebajikkan adalah sebab kebahagiaan.
Semoga dengan sedikit ulasan ulang ini, memberikan kita pencerahan dan terus berlatih menjadi lebih baik. Sadhu, Sadhu, Sadhu...🙏🙏🙏
Komentar
Posting Komentar