Kerelaan

KERELAAN


            Selamat malam, terimalah salam Dhamma dari saya, Buddhanubhavena sotthi hottu. Setelah para Bhante menjalankan vassa ada momen tertentu yang begitu indah yaitu di saat kita bisa memberikan dana kepada para Bhante, atau dikenal dengan sebutan Masa Kathina. Ya, Sangha Dana merupakan kesempatan yang sangat bagus bagi kita untuk bisa berbagi kepada para Bhante, menyokong kehidupan para Bhante.

            Dalam acara ini, ada hal-hal penting yang bisa kita danakan, jubah / pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, ataupun dana berubah uang. Para Bhante selama beraktivitas hanya memiliki 2 jubah, saat inilah para umat bisa berdana jubah baru untuk digunakan oleh para Sangha, tidak hanya bermanfaat bagi satu Bhante namun bisa saja untuk menyokong Samana yang lain. Sebenarnya, apa makna utama dari Kathina ini?

            Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk kembali menguraikan apa yang telah disampaikan oleh Bhante Uttamo baik pada saat di Padepokan Dhammadipa Arama maupun saat berceramah di Samaggi Jaya Blitar. Inti dari Kathina sebenarnya adalah berupa KERELAAN. Dalam hal ini, kita diberi suatu kesempatan untuk rela berbagi sekaligus melepas sedikit yang kita miliki demi kebahagiaan orang lain, dalam hal ini untuk menyokong kehidupan para Samana. Memiliki kerelaan untuk berbagi tidaklah mudah. Dalam hal ini, Bhante Uttamo Mahathera menggambarkan beberapa kondisi dalam kehidupan kita.

            Ketika ada yang meminta ikan yang kita miliki, kita bisa saja memberikan ikan itu. Begitu pula, ketika kita memiliki kucing peliharaan, ketika diminta orang lain pun, kita masih mau memberikannya. Tetapi, ketika orang tua harus melepaskan anak wanitanya yang hendak dilamar oleh orang lain, mulai timbul keraguan atau pula kemelekatan. Bahkan, kadang timbul pemikiran bahwa, “saya sudah merawatnya dari kecil, sekarang dia mau pergi diambil oleh calon suaminya, saya belum bisa merelakan”. Ada kalanya, sebagai orang tua, kita tak bisa mengutamakan ‘ego’ kita untuk memaksakan kehidupan anak kita. Karena ‘ego’, kadang kala sang anak bukannya memperoleh kebahagiaan namun keterpaksaan dan akhirnya menderita.

            Satu hal lagi, ketika ada yang meminta pasangan hidup kita, kerelaan itu mulai mengecil. Tak ada yang mau memberikan pasangan hidup yang disayangi. Ya, itulah gambaran kerelaan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita maupun yang sulit kita lakukan karena beberapa faktor.

            Kerelaan berarti tidak ada rasa enggan dalam melepas sesuatu yang kita miliki. Mau tak mau, pada suatu saat apa yang kita miliki akan terlepas dari kita. Seperti yang telah kita tahu, tak ada yang tak akan berubah dalam hidup kita. Saat ini kita hidup dengan baik, mungkin saja suatu saat kita lalai lalu bangkrut. Kondisi apapun selalu berubah. Maka dari itu, buat apa kita melekati apa yang kita miliki? Kalau sekarang kita tak rela untuk melepas, kalau sudah mendekati masa terakhir dalam hidup kita, bukankah semua akan terlepas dari tangan kita? Apakah anda akan menyesal karena ketidakrelaan anda?

            Pada kesempatan yang indah, di Dhammadipa Arama, saya sempat mendengarkan sebuah kisah dari Bhante, tentang dana Pindapatta yang diberikan oleh seseorang yang tak dikenal oleh Bhante. Di suatu kota, Bhante Uttamo sering menuju ke sebuah lokasi untuk menerima dana Pindapatta. Di saat itu, di setiap waktu, ada seorang ibu yang selalu berada di pojokan jalan yang dengan rajin memberikan dana kepada Bhante. Bukan hanya sekali, bahkan itu menjadi suatu rutinitas. Setiap Bhante datang, orang itu sudah menunggu di pojokan jalan untuk memberikan dana Pindapatta kepada beliau. Apakah Bhante mengenal orang itu? Tidak sama sekali, tapi dalam hal ini sang ibu rela menunggu dan berbagi apa yang dimiliki kepada Bhante dengan kerelaan yang luar biasa.

            Di suatu hari, pada saat setelah hujan, Bhante Uttamo kembali ke lokasi itu untuk menerima dana Pindapatta. Namun, saat berada di sana Beliau tak melihat orang tersebut. Perkiraan Beliau hari ini sang ibu tak bisa datang untuk berdana. Tapi, tiba-tiba ada satu mobil yang datang dan ketika pintu terbuka, muncul seorang wanita dengan pakaian kerjanya, segera melangkah dan sekaligus bertumpu lutut di tempat yang becek untuk menunggu Sang Bhante dan memberikan dana Pindapatta. Bayangkan saja, ibu itu merelakan stockingnya kotor di tempat bekas hujan demi memberikan dana kepada Bhante. Demikianlah, kerelaan yang begitu besar telah ditunjukkan oleh sang ibu demi membuat orang lain bahagia.

            Apalah gunanya melekati harta kita? Sebesar apapun dana yang kita pegang, ketika kita mati, harta itu akan berpindah tangan. Apakah kita lebih memilih untuk terlepas daripada melepas keterikatan kita? Bisa menyokong kehidupan para Samana, merupakan hal yang luar biasa, dimana kita bisa memperoleh kebajikan maupun membahagiakan orang lain.

            Bahkan, sebenarnya, dalam setiap kesempatan dalam hidup kita, bukan pada saat Kathina pun, hendaknya kita rela untuk berbagi pada orang-orang di sekitar kita. Ketika kita tak memiliki materi, relakan tenaga atau ilmu kita untuk membantu orang lain. Ketika memiliki materi yang cukup, bukanlah hal yang tepat untuk melekati dan tak mau berbagi. Bahkan, dalam hal melakukan kebajikan, tanpa kerelaan kebajikan itu tak akan pernah terealisasikan.

            Mengapa hal itu bisa terjadi? Dalam melakukan suatu kebajikan, kadang kala kita harus berkorban waktu, berkorban tenaga, tanpa ada tekad tanpa ada kerelaan bagaimana kita bisa berkorban? Kebajikan yang diyakini mau tak mau harus rela dilakukan demi kebahagiaan orang lain. Pertanyaannya, kembali ke diri kita masing-masing, relakah kita berkorban untuk bisa membuat orang lain bahagia? Paling tidak, relakah kita melihat orang tua kita bahagia? Orang yang sudah bersusah payah melahirkan kita, orang yang telah menyokong hidup kita. Janganlah sampai penyesalan terjadi di saat-saat terakhir kehidupan mereka, hanya karena kita tak rela melakukan yang terbaik bagi mereka semasa hidup mereka.

            Pada kesempatan ini, ketika saya mendengar Bhante berceramah, saya pun teringat apa yang pernah disampaikan oleh Atthasilani Gunanandi. Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh banyak orang untuk memperoleh kemajuan dalam hidupnya adalah dengan kerelaan. Bahkan bergerak maju pun butuh kerelaan untuk melangkahkan kaki kita setahap demi setahap. Ibarat menaiki tangga, dari tangga ke satu sampai tangga ke-tujuh, jika tak rela melangkahkan kaki kita setahap demi setahap, bagaimana mungkin kita mampu mencapai tangga yang lebih tinggi?

            Rela untuk berbagi, rela untuk melepas, memang mungkin membuat apa yang kita miliki menjadi hilang. Tapi yang perlu diingat, bahwa ketika kita tak rela melepas saat ini, pada suatu saat pun apa yang kita miliki akan terlepas. Namun, ketika ada kerelaan untuk berbuat kebajikan, kebahagiaan yang timbul tak akan pernah terlepas ibarat bayang-bayang yang menyertai bendanya. Untuk menutup ulasan ulang ini, saya menyertakan sebuah Sutta yang disampaikan Oleh Sang Buddha tentang gambaran kerelaan, dalam Nidhikanda Sutta. Mari kita renungi isi Sutta tersebut. Kita simpan apa yang terbaik, dan kita pun rela untuk melepasnya demi kebahagiaan orang lain. Semoga hidup anda berbahagia dalam masa Sangha Dana ini. Semoga semua makhluk berbahagia karena timbunan kebajikan yang anda miliki. Sabhe satta bhavantu sukhitatta…sadhu..sadhu…sadhu.

Nidhikanda Sutta

Nidhiṁ nidheti puriso, gambhīre odakantike
Atthe kicce samuppanne, atthāya me bhavissati
Rājato vā duruttassa, corato pīḷitassa vā
Iṇassa vā pamokkhāya, dubbhikkhe āpadāsu vā
Etadatthāya lokasmiṁ, nidhi nāma nidhīyati
Tāvassunihito santo, gambhīre odakantike
Na sabbo sabbadā eva, tassa taṁ upakappati
Nidhi vā ṭhānā cavati, saññā vāssa vimuyhati
Nāgā vā apanāmenti, yakkhā vāpi haranti naṁ
Appiyā vāpi dāyādā, uddharanti apassato
Yadā puññakkhayo hoti, sabbametaṁ vinassati
Yassa dānena sīlena, saṃyamena damena ca
Nidhī sunihito hoti, itthiyā purisassa vā
Cetiyamhi ca saṅghe vā, puggale atithīsu vā
Mātari pitari cāpi atho jeṭṭhamhi bhātari
Eso nidhi sunihito, ajeyyo anugāmiko
Pahāya gamanīyesu, etaṁ ādāya gacchati
Asādhāraṇamaññesaṁ, acorāharaṇo nidhi
Kayirātha dhīro puññāni, yo nidhi anugāmiko
Esa devamanussānaṁ, sabbakāmadado nidhi
Yaṁ yadevābhipatthenti, sabbametena labbhati
Suvaṇṇatā susaratā, susaṇṭhānā surūpatā 
Ādhipaccaparivāro, sabbametena labbhati
Padesarajjaṃ issariyaṁ, cakkavattisukhaṁ piyaṁ
Devarajjampi dibbesu, sabbametena labbhati
Mānussikā ca sampatti, devaloke ca yā rati
Yā ca nibbānasampatti, sabbametena labbhati
Mittasampadamāgamma, yonisova payuñjato
Vijjā vimutti vasībhāvo, sabbametena labbhati
Paṭisambhidā vimokkhā ca, yā ca sāvakapāramī
Paccekabodhi buddhabhūmi, sabbametena labbhati
Evaṃ mahatthikā esā, yadidaṃ puññasampadā
Tasmā dhīrā pasaṁsanti, paṇḍitā katapuññatan'ti

Seseorang menyimpan hartanya
Dalam- dalam di lubang, di dasar sumur
Dia berpikir,’Jika muncul kebutuhan akan pertolongan
Harta ini akan ada di sana untuk menolongku di waktu itu.'
‘Untuk menebusku dari kemarahan raja, 
Atau untuk uang tebusan bila aku ditahan sebagai sandera,
Atau untuk melunasi hutang bila keadaan sulit,
Menolongku di masa kelaparan, atau di musibah’.
Dengan alasan- alasan inilah, apa yang di dunia
Disebut harta akan disimpan.
Meskipun harta itu disimpan tidak pernah bisa sedemikian baik 
Dalam- dalam di lubang. Di dasar sumur,
Sama sekali tidak akan mencukupi
Untuk melayaninya sepanjang waktu.
Jika simpanan itu berpindah dari tempatnya,
Atau dia lupa dengan tanda- tandanya,
Atau Naga- Naga mengambilnya pergi,
Atau Yakkha- Yakkha membuang- buangnya,
Atau mungkin, sanak keluarganya
Mencurinya sementara dia tidak menjaganya dengan baik,
Dan ketika buah kebaikannya telah habis,
Harta itu akan lenyap seluruhnya.
Tetapi bila seseorang perempuan maupun pria
Gemar berdana dan memiliki moralitas,
Atau dapat menahan nafsu indria serta memiliki pengendalian diri,
Inilah simpanan harta yang terbaik.
Harta tersebut dapat diperoleh dengan melakukan kebajikan, 
Pada tempat ibadah atau Sangha
Atau pada seseorang atau pada para tamu
Atau pada ibu dan ayah, atau pada orang yang lebih tua,
Simpanan harta ini adalah yang paling sempurna,
Yang tidak mungkin hilang,
Yang tidak mungkin ditinggalkan,
Ketika harus pergi dari dunia, dia pergi bersama simpanan ini
Tak ada mahluk lain yang dapat mengambil harta ini,
Dan para perampok tak dapat merampok simpanan ini,
Maka semoga teguh melakukan kebajikan,
Karena inilah simpanan yang paling baik.
Inilah simpanan yang sangat memuaskan
Yang menjadi keinginan para dewa dan manusia,
Tak peduli apa pun yang ingin mereka miliki,
Semua itu mereka peroleh melalui buah kebajikan yang disimpannya.
Wajah yang elok, suara merdu,
Tubuh yang indah, bentuk yang bagus,
Kekuasaan dan pengikut,
Semua itu diperoleh melalui buah kebajikan.
Kedaulatan dan kekuasaan raja kecil, atau kekaisaran,
Kebahagiaan Raja Cakkavatti (Raja Dunia),
Serta kekuasaan dewa di alam surga
Semua itu diperoleh melalui buah kebajikan.
Dan setiap kejayaan manusia,
Kegembiraan apa pun di alam surga,
Bahkan kesempurnaan Nibbana,
Semua itu diperoleh melalui buah kebajikan.
Seseorang memiliki sahabat- sahabat sejati,
Karena memiliki kebijaksanaan dan pandangan benar,
Memenangkan pengetahuan sejati dan pembebasan,
Semua itu diperoleh melalui buah kebajikan.
Memiliki pengetahuan untuk mencapai pembebasan,
mencapai kesempurnaan sebagai seorang siswa juga,
Mencapai kesempurnaan sebagai Pacceka Buddha atau Samma Sambuddha
Semua itu diperoleh melalui buah kebajikan.
Demikian besarnya hasil yang diperoleh,
Dari buah kebajikan ini,
Oleh karena itu maka yang teguh dalam sila dan yang bijaksana
Memuji penyimpanan buah kebajikan dan bertekad menyimpannya.
Sutta Pitaka, Khuddaka Nikaya, Khuddakapatha, Nidhikanda Sutta (Khp 8)

Sumber ulasan ulang ini disampaikan dari ceramah yang pernah disampaikan oleh Bhante Uttamo pada saat Kathina Puja di Batu dan Blitar, serta ada ulasan ulang dari ceramah Atthasilani Gunanandi tentang Maju dalam Hidup ketika di Samaggi Viriya. Semoga apa yang saya tuliskan disini bisa bermanfaat buat banyak orang.



Komentar

Postingan Populer