Sabarrr....

Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā

Melatih kesabaran adalah cara bertapa yang tertinggi(Ovādapāṭimokkhadipāṭhā)

Salah satu cara membina diri adalah dengan melatih kesabaran, orang yang tak sabar hanya akan merasakan penderitaan ....menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yang menyenangkan bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yang tenang dengan dilandasi sikap yang benar...masalahnya, banyak sekali fenomena yang akan muncul di kehidupan kita, pertanyaannya, bagaimana cara kita menanggapi fenomena2 tersebut?
Derita datang karena apa yang kita lakukan dan apa yg kita pikirkan...dengan melatih kesadaran dan kesabaran-lah, penderitaan bisa berkurang...kebencian, dendam, amarah, tak ada manfaatnya...kalah dan menang yang tak dihadapi dengan bijaksana hanya mendatangkan pertikaian...
Ada 2 macam kesabaran:
Yang pertama, kesabaran yang paling rendah

Di saat kita makan, menghirup udara, antre, cuaca panas, dalam kondisi2 demikian yang mungkin kurang menyenangkan, di sanalah kita bisa membina diri untuk melatih kesabaran kita....
Yang kedua, kesabaran yang tertinggi

Apakah kesabaran yang lebih tinggi itu? Yaitu bersabar terhadap masalah yang lebih besar. Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:
“Ia menghina saya,

ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya.”
Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu,
maka kebencian tak akan pernah berakhir.

“Ia menghina saya,

ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya.”
Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu,
maka kebencian akan berakhir.

Kesabaran yang lebih tinggi ini amat sulit. Justru itulah merupakan latihan kesabaran yang tertinggi. Siapkah kita ketika ada teman atau orang di sekitar kita yang menghina kita atau memarahi kita? Benci, dendam, dengki bukan menyimbolkan kekuatan atau keperkasaan, tapi malah menunjukkan kelemahan mental / batin kita.
Bagi orang yang melatih kesabaran akan memperoleh lima (5) manfaat:

1. Ia akan disenangi oleh orang lain;
2. Ia akan terhindar dari bahaya;
3. Ia akan terhindar dari kesalahan;
4. Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yang tenang;
5. Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.

Hmm...lalu bagaimana cara melatih kesabaran?
1. Yang pertama ingatlah soal Anicca, Dukkha, dan Anatta. Semuanya selalu berubah-ubah, tidaklah kekal, tidak ada keakuan. Ketika kita menghadapi sebuah kesulitan, maka disanalah saatnya kita sadar bahwa kesulitan pun akan timbul dan lenyap, kondisi apapun akan berubah-ubah. Dengan menyadari hal itu, maka kita akan semakin kuat dalam bertahan dengan adanya kesulitan.
2. Yang kedua adalah: kesulitan yang kita alami janganlah kita hadapi dengan berpikir biasa. Apakah berpikir biasa itu? Ketika ada masalah, orang cenderung menyalahkan orang lain daripada melihat ke dalam dirinya masing2. 'Ia membenciku, ia menghinaku, ia menyakitiku'. Inilah yang diartikan sebagai pikiran biasa. Padahal, tak semua masalah itu diakibatkan oleh orang lain, coba kita bercermin melihat ke dalam batin kita, bukankah kita yang menyebabkan masalah kita sendiri? Karena sekali lagi, bahagia dan derita itu datang dan lenyap dari ktia sendiri, dari apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan perbuat. Dengan tahu dan sadar dengan cara berpikir kita, maka seharusnya tak ada tempat untuk menaruh dendam dalam hati kita.
Semoga dengan sedikit ulasan ulang dari apa yg telah disampaikan oleh Athasilani pada saat Puja Bakti tadi pagi, bisa bermanfaat bagi kita semua...Membina diri melatih kesabaran demi kebahagiaan...
Semoga semua makhluk berbahagia..sadhuuu...

Komentar

Postingan Populer