Aku Membajak, Menabur, lalu Makan

Suatu ketika ada seorang Brahmana bernama Kasi dari Bharadvaja yg setelah membajak membagikan makanan kepada 500 pegawainya, ketika Sang Buddha dengan mata batinnya melihat Brahmana tersebut dan menghampirinya seraya membawa mangkok pindapatta...

Sang Brahmana melihat Buddha namun tetap saja mengacuhkannya, sampai pada akhirnya dia menyapa Sang Buddha yang tetap berdiri tanpa beranjak dari tempat tersebut sembari berkata, 'Gautama, aku membajak, setelah membajak aku menabur benih, setelah itu aku makan'...
Sebenarnya ini sindiran halus kepada Sang Buddha, tapi karena Sang Buddha datang membawa mangkuk kosong tanpa ada kerbau dan alat membajak, sedangkan dia bekerja keras baru makan...Sang Buddha dengan tenang menjawab 'Brahmana, aku jg membajak, menabur benih, dan makan'...
Betapa herannya si brahmana, karena tanpa peralatan bagaimana Sang Buddha membajak, menabur benih, lalu makan?...lalu, Sang Buddha menjelaskan kata2Nya...
Yang dimaksud dengan benih bukan benih sungguhan sperti milik seorang petani, benih adalah simbolisasi dari keyakinan atau saddha,...
Sebagai umat Buddha, kita harus punya benih keyakinan yg baik kepada Triratna: Buddha, Dhamma, Sangha...tapi bukan semata mata meyakini begitu saja tanpa ada pemahaman yang benar terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha..maka dari itu dibutuhkan pengertian dan pemahaman yg benar...

Buddha is my Teacher,
Dhamma is my Way,
Sangha is my Guide,

Gimana cara meningkatkan keyakinan? MAU TAK MAU kita harus menjalankan Dhamma baru bisa mengenal Buddha dan Sangha, jangan hanya pasif tapi harus aktif...berlindung pada Triratna adalah perlindungan yang aktif tidaklah hanya berdiam diri karena sudah dilindungi...ikuti ajaran-Nya maka perlindungan baru didapatkan,
Jangan pernah menukar permata yg kita miliki, dengan batu bata
KITA sudah memiliki 3 permata Triratna, maka jaga dan rawatlah dengan baik, jangan pernah menukarnya dengan batu bata...tingkatkan keyakinan dengan terus mau belajar...
Salah satu peralatan membajak adalah tali kekang, tali kekang menyimbolkan pengendalian diri, simbol dari samvara...yg kita ktahui ada 5...dan pada ulasan saya sebelumnya sudah pernah saya uraikan, sila, sati, khanti, viriya, dan nana samvara...
Pisau bajak yang tajam menyimbolkan kebijaksanaan, pisau tajam untuk memotong kebodohan batin, memotong hal yg buruk dan jahat...ibarat Bodhisatva Manjusri yang membawa pedang untuk memotong kebodohan atau ketidaktahuan batin...simbol kebijaksanaan
Tonggak menyimbolkan kesederhanaan, walau kaya melimpah tetap sederhana jangan pamer2 karena itu bahaya, dalam Dhammapada dijelaskan bahwa:
'Kekayaan bisa menghancurkan orang bodoh'
Hidup sederhana, hidup bersahaja itulah hidup yang jauh lebih baik, hidup dengan bahagia...
Tali menyimbolkan pikiran, pikiran harus diikat jangan dibiarkan nglantur kesana kemari, bagaimana mau damai kalau pikiran bergerak terus, bagaimana mau bahagia kalau pikiran stress?...apa yg telah trjadi dahulu sering kali membuat penyesalan ,jika jelek, kita takut terulang kembali; kalau baik pingin diulang kembali...apa yg belum terjadi, belum pasti, juga dipikirkan akhirnya khawatir,
maka itu pikiran perlu diikat dengan tali agar diam dan untuk menyadari bahwa yg penting itu yang ada pada saat ini...daripada ingat2 masa lalu atau galau karena masa depan
Tongkat penghalau, menyimbolkan perhatian dan kewaspadaan...eling lan waspodo..jangan lengah sedikitpun karena dapat mendatangkan bahaya...
Inilah penjelasan Sang Buddha pada si brahmana, dimana membuat Kasi terkagum kagum, bahkan meminta untuk dijadikan Bhikkhu bukan hanya berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha...inilah kenapa SangBuddha tetap berdiam diri karena Beliau tau akan ada manfaat bagi si brahmana...
Dikutip kembali dari penyampaian Bhante Dhammiko saat SPD...smoga bermanfaat

Komentar

Postingan Populer