Di manakah Dhamma, di manakah kebahagiaan?

Di Manakah Dhamma, Di Manakah Kebahagiaan?

Oleh: Indra Kurniawan


            Sebelumnya terimalah salam Dhamma dari saya, sothi hottu namo buddhaya. Pagi ini menurut saya adalah pagi yang penuh berkah. Satu alasan yang mewakili bahwa hari ini tidak hujan. Alasan lain, pagi-pagi saya menemukan makanan batin yang lezat dari seorang Bhante tentang Dhamma. Beliau adalah Bhante Santacitto. Ya, makanan lengkap yang bernutrisi bukan hanya bermaksud untuk mengenyangkan perut semata tapi juga untuk membina batin. Sejenak saya menyempatkan diri untuk merenungkan apa yang disampaikan oleh Bhante. Akhirnya, saya memperoleh suatu ide bahwa sebenarnya ada juga pertanyaan yang bisa ditanyakan seputar topik yang telah disampaikan oleh Beliau. Dan mungkin, ada yang bisa dikembangkan dari ulasan singkat tersebut. Saya bukanlah guru, tapi mungkin dari ulasan ini, ada manfaat yang bisa didapat.

            Pertanyaan pertama yang di-sharingkan oleh beliau, yaitu mengenai sebenarnya dimanakah Dhamma itu berada? Sering kali kita rajin ke vihara, rajin mendengarkan wejangan para Bhante atau pembicara lain, mungkin juga rajin membaca buku-buku, tapi ketika ditanya dimanakah sih Dhamma itu berada, ada yang mungkin tak tahu menahu tentang makna sebenarnya Dhamma itu. Mudahnya, orang mengartikan Dhamma itu sekedar ajaran Sang Buddha. Pemahaman itu tidaklah sepenuhnya salah. Namun, sayangnya ada yang tidak sadar sehingga belum merasakan bahwa dia telah menemukan Dhamma itu sendiri.

            Dhamma itu bukan sekedar ajaran. Dhamma itu merupakan kebenaran universal. Kebenaran tentang apa? Tak lain tak bukan, kebenaran atas segala yang berhubungan dengan makhluk hidup, baik dari fenomena kehidupan maupun dari hal perasaan yang muncul dan lenyap. Maka dari itu, dalam ulasan ‘Di manakah Dhamma?’ yang disampaikan oleh Bhante Santacitto, beliau menyatakan bahwa Tipitaka, buku-buku Dhamma, atau kata-kata seorang pembabar Dhamma hanya berfungsi sebagai panduan saja. Mereka bukanlah Dhamma yang sesungguhnya. Dhamma berada di dalam diri masing-masing orang, dalam setiap pengalaman seseorang.

            Datang ke vihara, membaca buku itu hanya sebagai pendukung dimana kita bisa menambah ilmu akan ajaran yang telah dibabarkan oleh Guru kita Sang Buddha. Orang cenderung ‘berkeliling’ ke sana kemari untuk belajar teori-teori pendukung. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, bahwa Dhamma itu adalah suatu kebenaran. Segala hal yang terjadi, muncul dan lenyap di sekitar kita, atau di kehidupan kita merupakan kebenaran. Di saat timbul perasaan sedih atau bahagia dan pada akhirnya padam, maka itulah Dhamma. Apapun pengalaman yang saat ini dan sekarang sedang diketahui, itulah Dhamma.  Dan, proses dimana kita menyikapi segala fenomena yang timbul dan lenyap secara bijak di sekitar kita, itulah Dhamma.

Maka dari itu, mengingatkan kembali apa yang pernah disampaikan oleh Guru Agung kita, ‘Datanglah dan buktikan sendiri’, hanya dengan mengalami sendiri timbul dan lenyapnya suatu fenomena dalam hidup kita, disanalah kita bisa menemukan Dhamma. Dhamma tak perlu dicari jauh-jauh, karena Dhamma itu ada di dalam diri kita masing-masing. Begitu juga, apa yang telah terjadi di masa lalu, dan apa yang belum terjadi di masa yang mendatang, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melakukan yang terbaik pada saat ini atau sekarang ini. Ketika kita bisa melakukannya dengan baik dan menemukan pengalaman berupa kebenaran, di situlah kita menemukan Dhamma.

Berhubungan dengan pertanyaan kedua, di manakah kebahagiaan itu, banyak kejadian dimana orang-orang bingung kesana kemari hanya demi menemukan kebahagiaan. Sama halnya dengan Dhamma, kebahagiaan itu sebenarnya bisa ditemukan di dalam diri kita masing-masing. Kenapa lebih banyak orang yang menderita daripada bahagia? Menderita atau tidaknya orang itu juga berasal dari dalam diri kita masing-masing. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan begitu besar pengaruhnya terhadap hasil yang kita dapatkan.

Semakin kita menyukai suatu hal, lalu melekatinya, disanalah tak ada namanya kebahagiaan. Semakin sering kita menyimpan amarah, benci, dendam, dan seringkali berpikir bahwa, ‘ia menghinaku, ia membenciku, ia membohongiku’, yang akan muncul dari pikiran-pikiran itu hanyalah penderitaan. Bahagia muncul di saat batin kita tenang dan damai. Maka dari itu, meditasi itu penting untuk bisa membina diri dan mengontrol perasaan kita. Kadang kala, kenapa kita bisa terlihat ‘bodoh’, terlena dengan hal yang nantinya akan berubah dan lenyap, itu tak lain disebabkan oleh melekati perasaan. Bahagia tak bisa muncul jika ada perasaan dendam, dengki, dll. Bahagia itu muncul dalam diri kita jika kita mau bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Bahagia muncul jika kita bisa membiasakan diri untuk tidak mengikuti tanha, lobha, dosa, dan moha. Orang yang sabar menemukan kebahagiaan. Orang yang tak memiliki nafsu menemukan kedamaian dalam hidupnya dan hidup dengan bahagia.

Maka dari itu, jika masih ada yang bingung untuk menemukan Dhamma dan kebahagiaan, berarti anda harus melihat dalam-dalam kepada diri anda sendiri. Bahwa, selama ini apa yang sudah kita lakukan? Sadar ndak sih kita selama ini? Atau, jangan-jangan kita melakukan sesuatu itu asal-asalan? Ahh, lupakan saja apa yang sudah terjadi, yang terpenting bagaimana kita bisa memanfaatkan satu hari dalam hidup kita dengan melakukan yang terbaik, salah satunya dengan merawat Sila. Orang yang merawat Sila menemukan kebahagiaan dalam hidupnya dan pastinya menemukan Dhamma yang sesungguhnya.

“Saat seseorang lebih memperhatikan untuk melihat Dhamma di dalam diri, kekhawatiran terhadap apa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, semakin berkurang. Demikian pula, kekhawatiran terhadap apa yang berada di luar, juga berkurang. Ia tidak khawatir dengan apakah Dhamma di luar sana lenyap. Mungkin ia khawatir apabila Dhamma lenyap dalam diri, tetapi apabila setiap pengalaman dilihat pula sebagai perubahan, ia pun tidak khawatir dengan saat ini.

(Bhante Santacitto)

Mari mulai detik ini, yukkk kita rajin-rajin membina diri, bukan untuk yang macam-macam, paling tidak kita bisa menemukan kebenaran dan kebahagiaan…

Semoga bermanfaat…
Semoga semua makhluk hidup berbahagia…


Sadhu..sadhu…sadhu…

Komentar

Postingan Populer