Tujuan Meditasi yang Seharusnya

Tujuan Utama Meditasi yang Seharusnya

Oleh: Indra Kurniawan


Malam minggu kata sebagian besar orang adalah waktu untuk bersenang-senang. Tetapi, tidak ada salahnya, malam minggu digunakan untuk latihan meditasi. Sungguh menyenangkan hati saya, malam ini saya bisa berlatih meditasi dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat berguna sekali agar kita tidak sampai memiliki pandangan yang keliru. Pandangan yang keliru ujung-ujungnya berbuah penderitaan. Tidak enak kan? Sehari-hari kita tidak terpisahkan dengan masalah, karena hal yang tidak seharusnya terjadi kita malah tambah menderita, bukan hal yang diharapkan kebanyakan orang. Maka dari itu, saya ingin mengulas kembali atas apa yang telah saya dengarkan tadi. Hal yang patut kita pahami dan praktikkan dengan baik karena manfaatnya ya kita sendiri yang bisa merasakan.

Meditasi merupakan salah satu praktik yang paling populer terutama dalam ajaran Buddha mazhab Theravada. Selain paling populer, sebenarnya meditasi juga merupakan latihan yang paling praktis. Kok bisa? Praktis karena kita tidak perlu mengeluarkan uang, tenaga berlebih, waktunya pun sangat flexible. Faktanya, tidak semua umat Buddhis menyukai meditasi. Seperti yang pernah saya tulis, banyak alasan yang bisa keluar kalau diajak meditasi. Ntah ndak ada waktu lah, capek lah, bosan lah, ndak kuat lah. Ekstremnya lagi ada yang bilang aduu meditasi itu nambah beban, nambah penderitaan, sakit. Ya, benar sekali, memang sakit, tapi sakit fisik saja itu mudah diatasi. Begitu batin yang sakit, kira-kira tambah mudah atau sulit untuk mengobatinya?

Bhante tadi mengawali latihan meditasi dengan menekankan bahwa selama panca indera anda aktif, sehat, mereka berlima akan cenderung mencari-cari sesuatu. Misal mata, mata cenderung bergerak untuk melihat sesuatu yang menarik. Meditasi bukanlah saat bagi anda untuk mencari-cari. Jujur, tidak ada yang perlu dicari jadi tidak ada gunanya panca indera anda aktif mencari-cari sesuatu. Objek meditasi anda tidak perlu dicari lagi, sudah tersedia, bahkan yang paling mudah sudah menempel di kehidupan sehari-hari anda selama anda masih hidup. Napas anda adalah objek yang paling populer digunakan sebagai latihan meditasi. Tugas pertama anda cuman mengetahui objek itu tersedia. Lalu, kudu opo maneh? Setelah mengetahui objek, sadari objek itu, amati objek itu, perhatikan objek itu, berkonsentrasilah. Sampai kapan? Sampai anda menyadari adanya perubahan.

Perubahan itu pasti. Catat, perubahan itu pasti ada dan suatu saat pasti lenyap. Sadari itu, lihat proses-prosesnya. Tapi, perubahan pun tidak selalu yang enak-enak, lebih terasa yang tidak enaknya. Kok bisa? Contoh, paling sering ketika bermeditasi kaki sakit, kesemutan. Itulah namanya perubahan. Tidak ada yang bisa menolak perubahan. Eh, aku cuman mau yang enak-enak, ndak mau yang jelek-jelek itu, tidak bisa seperti itu. Kalau-kalau munculnya adalah yang enak-enak dulu, suatu ketika tetap akan lenyap, dan muncul yang tidak enak. Sebaliknya, kalau muncul yang tidak enak terus, bukan berarti yang enak tidak akan muncul. Entah enak atau tidak bukan untuk dilekati, tapi hanya cukup disadari.

Dalam salah satu sutta Paritta Avamangala, ada salah satu bagian dalam Dhammaniyama Sutta yang sangat jelas menerangkan bahwa Ada atau tidak ada Tathagatha di dunia ini, perubahan, penderitaan, ketidak-akuan akan selalu ada. Sangat jelas, bahwa apa yang ada di dalam Dhamma adalah suatu kebenaran yang akan selalu ada dalam hidup kita. Menjadi bagian dalam proses hidup kita ya 3 hal itu, perubahan, penderitaan, dan ketida-akuan.

Masih dalam lingkup Paritta suci, dalam Abhinhapaccavekana Sutta, bait pertama hingga bait ketiga menjelaskan, eh wajar dalam hidup kita, kita akan menemui 3 utusan agung, usia tua, sakit, dan kematian. Kita tidak akan mampu menolaknya. Kita tidak akan mampu menghindarinya. Maka dari itu, dalam proses meditasi rasa sakit itu pasti hinggap di tubuh kita. Alasan pertama, itu hal yang sangat wajar selama kita masih hidup. Alasan kedua, karena di dalam tubuh kita, ada 4 unsur, yaitu unsur padat, cair, panas, dan udara. Ketika salah satu dari 4 unsur ini tidak seimbang dengan lainnya, tubuh fisik kita pasti sakit. Contoh, tanpa adanya unsur udara tubuh kita tidak bisa digerakkan. Kalau unsur panas kita meningkat pesat, tubuh kita akan kepanasan dan demam. Unsur cair yang berkurang kita akan dehidrasi. Untuk lengkapnya, saya pernah menuliskan di pembahasan tentang 4 unsur.

Tujuan utama yang disepakati terutama dalam mazhab Theravada, bahwa meditasi itu adalah agar kita mampu mengikis kilesa. Tujuan utamanya ini. Kalau-kalau ada yang tanya loo laa Jhana dan tingkatan-tingkatannya itu bagaimana? Itu hanya bonus. Sama masih terkena anicca. Jadi ketika anda berhasil masuk Jhana tingkat 1, misalnya, itu juga hanya sementara. Jangan sekali-sekali memfokuskan untuk mencapai tingkatan-tingkatan tersebut. Tujuan utamanya bukanlah demikian. Mengikis kilesa nantinya adalah untuk mengembangkan batin menuju hal yang lebih baik. Ibarat kita sakit, kita direkomendasikan ke satu dokter, dokter ini memiliki 10 pasien, yang cocok dan sembuh juga belum tentu semua mungkin hanya 3. Cocok-cocokkan. Begitu juga pada zaman Sang Buddha, tidak semua murid Sang Buddha pada saat itu berhasil dalam meditasi sampai mencapai Jhana, ada yang berhasil ada pula yang gagal. Maka dari itu, pencapaian itu jangan dijadikan fokus utama hingga lupa tujuan sebenarnya.

Ketika kita berlatih meditasi dalam periode waktu yang cukup lama, misal 1 jam, jujur tidak ada satupun dari kita yang mampu selama 1 jam fokus hanya ke objek. Pikiran itu luar biasa, seperti monyet loncat kesana kemari. 10 menit mungkin berhasil fokus dengan bantuan hitungan, lalu teringat memori masa lalu, atau urusan yang belum selesai. Itu wajar dan pasti terjadi karena dalam diri manusia terutama dalam batin itu sendiri ada 4 hal yang selalu timbul tenggelam, yaitu perasaan, pencerapan, reaksi mental, dan kesadaran. Inilah manusia yang terdiri dari jasmani dan batin. Prosesnya selalu muncul lenyap, timbul tenggelam. Maka dari itu, Bhante menerangkan bahwa nyatanya memang Samantha dan Vipassana sangatlah dekat dan erat kaitannya, tidak terpisahkan. Dalam menit-menit awal mungkin kita hanya berkonsentrasi pada objek utama. Tapi ada waktu tertentu hal-hal dalam pikiran itu mulai bermunculan dan akan lenyap. Hal itu akan sekilas menjadi pengamatan kita terlepas dari objek utama. Proses yang terjadi seperti tadi yang saya tulis di atas, diketahui, disadari, diamati, diperhatikan, sadari perubahannya. Sudah itu saja, jangan dilekati sehingga menimbulkan reaksi yang tidak seharusnya terjadi.

Ada seorang teman saya mengungkapkan, bahwa suatu ketika di saat ia berlatih meditasi, ia sempat merasakan rasa sakit pada kakinya. Ia terus fokus ke objek utama dan rasa sakit itu hilang. Sebenarnya, benarkah rasa sakit itu hilang? Tidak, masih ada. Selama kaki anda masih ada, maka rasa sakit itu sebenarnya masih disana. Ibaratnya seperti ini, di dalam 1 ruangan yang diterangi lampu, pada saat jam 21.00 ada 4 orang berkumpul saling berbicara satu sama lain. Si A bisa melihat 3 orang lainnya dengan jelas karena adanya penerangan di dalam ruangan itu. Pertanyaannya, kalau semisal lampunya dimatikan sehingga kondisi gelap apakah ketiga orang tersebut hilang? Tidak, mereka masih ada disana, tapi karena kondisinya tidak mendukung, maka si A jadi tidak bisa melihat mereka semudah sebelumnya. Begitu juga yang terjadi saat kita duduk bermeditasi, rasa sakit seakan-akan hilang karena kita melatih diri kita untuk fokus kepada objek utama sehingga pikiran itu menyamarkan rasa sakit itu. Tapi, kalau dilihat kaki kita masih ada, maka rasa sakit pun sebenarnya masih berada di sana. Ketika fokus utama kita terganggu, kita bisa merasakan kembali sakit itu, rasa lelah ketika meditasi, rasa kesemutan, semua masih ada sebenarnya. Pemahaman perubahan atau anicca itu dapat kita pahami melalui batin kita setelah kita mampu menyadari, mengamati, dan memperhatikan objek utama dengan jelas.

Napas, sekali lagi, merupakan objek yang paling mudah untuk dipakai. Tapi kalau sekedar tahu keluar masuknya napas saja tidak cukup. Dari napas itu sendiri banyak fenomena yang bisa dilihat. Apa yang kita rasakan dari napas kita sebenarnya adalah cerminan batin kita. Kalau kita tidak bisa mengetahui dan menyadari hal tersebut, apa bedanya kita dengan duduk biasa? Sama-sama bernapas. Sama-sama menyadari ada keluar masuknya napas. Tapi kalau duduk biasa, kita tidak berusaha masuk ke diri kita, mengenali batin kita sendiri. Sebagai contoh, kalau seseorang napasnya terasa kasar, berat, itu bisa dilihat bahwa dia sedang ada masalah. Dia tidak bisa menerima keadaan di sekitarnya karena masalah tersebut.

Melatih meditasi bukan hal yang mudah bagi kebanyakan orang karena banyak yang belum paham benar tujuan utamanya apa. Yang diketahui meditasi itu hasilnya sakit, ndak enak. Yang ada setelah sekali latihan, besoknya menyerah tidak mau ikut lagi. Meditasi itu sebenarnya sarana terpraktis untuk melihat ke dalam diri kita sendiri dan pada akhirnya kita bisa lebih memahami dan mencintai diri kita. Dengan cara bagaimanakah hal itu bisa terwujud? Ya kembali, pelan-pelan kita mengikis kilesa kita. Caranya sudah ada semua kok. Kalau kita masih sering marah, latihlah metta bhavana. Kalau kita sulit fokus, latihlah anapanasatti. Keputusannya ada pada diri kita sendiri, kalau sudah sampai tahapan sadar akan perubahan, kita mau mengambil langkah yang mana? Memang tidak semua orang mampu bertahan duduk meditasi selama 1 jam, tapi bukan berarti yang duduknya sebentar-sebentar tidak bisa menciptakan kualitas diri yang lebih baik. Maka dari itu sebagai penutup, saya hanya mau mengajak teman-teman pembaca sekalian, sebagai sesama murid yang masih belajar, ayo kita kembali ke tujuan utama kita untuk berlatih meditasi. Kalau kita tidak tahu tujuan tersebut, kita tidak akan pernah mencapai apa yang benar-benar kita inginkan.

Semoga dengan sedikit ulasan ulang yang saya tuliskan ini, bisa membawa kita mencapai kualitas diri yang lebih baik. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Komentar

Postingan Populer