Kisah Inspiratif 2 'Mencuri tanpa Ketahuan'

Mencuri tanpa Ketahuan

       Pada zaman dahulu kala, seorang raja ingin menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang pantas. Raja lalu mengadakan sayembara bagi para laki-laki yang mampu mencuri sesuatu dari dalam istana yang dijaga ketat, tanpa ketahuan oleh siapapun. Pemenangnya berhak untuk menikahi putrinya.

            Dalam kurun waktu yang ditentukan, banyak pemuda mengikuti sayembara ini dan menunjukkan kebolehannya. Mereka mengerahkan berbagai kepiawaian dan kesaktian untuk menerobos penjagaan ketat di istana.

            Pada hari penentuan, para peserta dikumpulkan. Pemuda pertama dipanggil menghadap raja dan ditanya hasilnya. Ia menjawab, “Saya mencuri batu rubi ini dan tak seorang pun di istana yang mengetahuinya.” Raja menjawab, “Bukan kamu pemenangnya!”

            Pemuda kedua maju, “Semalam saya mengambil kereta kencana dan membawanya keluar gerbang, para penjaga saya buat terlelap semua, tak ada yang melihat saya.” Raja mempersilakan peserta itu duduk kembali.

            Dengan mantap, peserta berikutnya menghadap, “Ampun Paduka, sayalah yang mengambil mahkota Paduka dari kamar Paduka, dan seluruh barisan pertahanan istana tak ada yang menyadarinya.” Raja menggeleng.

            Semua orang jadi bingung, karena masih saja belum ada yang dinyatakan sebagai pemenang. Akhirnya, seorang pemuda menghadap dengan tangan kosong dan berkata, “Saya tidak mendapatkan apapun.” Raja bertanya, “Mengapa begitu?” Pemuda tersebut menjawab, “Sungguh tidak mungkin kita bisa mencuri tanpa ketahuan oleh siapa pun, karena setidaknya selalu ada satu orang yang mengetahuinya, yaitu diri kita sendiri.” Raja pun tertawa lebar dan menyambut sang menantu barunya.

            Pesan moral:

            Betapa damai dan membahagiakannya hidup ini, jika setiap orang mengindahkan suara hatinya. Pada dasarnya, nurani setiap orang adalah bersih adanya. Di dalam hati kita, setidaknya selalu ada rasa ‘malu’ untuk berbuat buruk dan rasa ‘takut’ akan akibat berbuat buruk. Suara hati yang bersih adalah penjaga dunia sejati. Persoalannya, apakah kita memelihara dan mengindahkan suara hati kita atau tidak?

            Jadi, mencuri itu boleh-boleh saja kok, asal ‘TIDAK ADA’ yang tahu!”

"Susukhaṃ vata jīvāma verinesu averino,
verinesu manussesu viharāma averino.

Susukhaṃ vata jīvāma āturesu anāturā,
āturesu manussesu viharāma anāturā.

Susukhaṃ vata jīvāma ussukesu anussukā,
ussukesu manussesu viharāma anussukā.

"Susukhaṃ vata jīvāma yesan no n’ atthi kiñcanaṃ,
pītibhakkhā bhavissāma devā ābhassarā yathā."

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci
di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci,
kita hidup tanpa benci.
Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit
di antara orang-orang yang berpenyakit;
di antara orang-orang yang berpenyakit,
kita hidup tanpa penyakit.
Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan
di antara orang-orang yang serakah;
di antara orang-orang yang serakah,
kita hidup tanpa keserakahan.
Sungguh bahagia hidup kita ini
apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki.
Kita akan hidup dengan bahagia
bagaikan dewa-dewa di alam yang cemerlang.”
(Dhammapada XV Sukha Vagga 197-200)




Komentar

Postingan Populer