Menjadi Terang

Menjadi Terang - Oleh: Bhante Ven Uggaseno (Samaggi Viriya 4 September 2016)
Setiap orang pasti menginginkan untuk berjalan di jalan yang terang. Hampir bisa dipastikan, tak ada yang mau tersesat di dalam kegelapan. Salah satu cara untuk mencapai terangnya hidup itu adalah dengan Pengendalian diri.
Dalam hidup, setiap manusia seharusnya memiliki KENDI yang berisikan JAMU JATI JARAN supaya hidupnya bahagia...Kendi yang bermanfaat adalah kendi yang berisi air yang bisa diminum...
Kendalikan diri, langkah awal untuk bisa mengendalikan diri yaitu dengan 3 hal ini...
Jaga Mulut..
Jaga Hati...
Jaga Pikiran...

Jaga Mulut, ada pepatah menyebutkan 'Mulutmu harimaumu'...tepat sekali, berbagai perkara ntah yang kecil ntah yg besar biasanya berawal dari ucapan...semakin diteruskan semakin berbahaya..maka dari itu, dengan menjaga mulut kita melatih diri untuk menciptakan kondisi damai...caranya yaitu berhati-hati dalam berucap, dan sadar...dan satu hal jangan banyak gosip...
Jaga hati, hati berhubungan dengan perasaan, gampangnya, orang pasti punya 2 pilihan baik atau buruk...dengan menjaga hati, kita bisa mengontrol reaksi kita saat muncul suatu perasaan sehingga tidak melekati perasaan itu, ntah senang tidak senang hidup yang kita jalani merupakan penderitaan, kalau kita terus melekati sesuatu, terutama apa yg kita suka, penderitaanlah yang akan menghampiri kita...
Jaga pikiran, dalam Dhammapada ayat 1, kita sering kali membaca bahwa pikiran adalah pelopor, pemimpin, pembentuk, maka dari itu hanya dengan menjaga pikiran kita bisa bahagia, salah satunya yaitu dengan rajin berlatih meditasi...
Biar makin sedap, jamu-jamu pengendalian diri itu dibumbui dengan 5 Samvara...
1. yang pertama, Sila Samvara..
Sila saṁvara adalah pengendalian diri terhadap tingkah laku dan ucapan sesuai dengan moral dan etika yang berlaku dalam norma agama di mana pun kita berada (Tejanando, 2006: 26).

Buat apa sih, orang merawat tindak tanduknya atau merawat sila...coba kita ingat2 setiap kita membacakan Aradhana Sila, Bhante / Samanera selalu membacakan...
Imani pancasikkhapadani
Silena sugatim yanti
Silena bhogasampada
Silena nibbutim yanti
Tasma silam visodhaye

Sadarkah kita akan arti dari kelima kalimat ini?
Ini adalah lima pelatihan sila,
Dengan merawat sila, tercapai alam bahagia.
Dengan merawat sila, diperoleh kekayaan (lahir dan batin).
Dengan merawat sila, tercapai padamnya kilesa.
Oleh karena itu, rawatlah sila dengan sempurna.

Jelas sekali, bahwa orang yang bisa mengendalikan tindak tanduknya, mengikuti sila yang ada, akan hidup dengan bahagia...jika mau kembali ke 3 ramuan dalam kendi, semua yang kita lakukan berasal dari pikiran, ucapan, dan perbuatan...Jika kita mengingat kelima Sila yang selalu kita baca, sila pertama yaitu tentang tidak membunuh berhubungan dengan tindak tanduk jasmani, sila kedua tidak mencuri juga berhubungan dengan tindak tanduk jasmani, begitu pula dengan sila ketiga tak berbuat asusila, sila keempat tak berbohong berhubungan dengan ucapan, sila kelima tidak minum minuman keras atau mabuk2an...berhubungan dengan mulut / ucapan dan perbuatan jasmani...
Hanya dengan berusaha mengendalikan tindak tanduk dan ucapan kita, kita bisa hidup dengan bahagia...lebih jelasnya, hanya dengan mengontrol panca indria atau bahkan dalam Buddhis ada sebutan 6 Indria, kita bisa mengikis kilesa dan mengurangi penderitaan kita...pertanyaannya, sudahkah kita menjaga tindak tanduk kita sehari-hari?
Perlu diingat bahwa, Sila adalah Kebajikan Moral yang dianggap sebagai dasar pembentuk hal2 positif dalam kehidupan kita.
2. Yang kedua, Sati Samvara (pengendalian diri melalui perhatian)
Untuk yang kedua ini, ada slogan yang tepat untuk membuka penjelasannya yaitu 'Eling lan Waspodo'...ya, dalam kehidupan sehari-hari yang harus kita lakukan itu SADAR, ELING...Sadar akan apa tapi?...Kembali lagi, sadar akan apa yg menjadi objek kontak dengan indria kita...Orang yang tak mampu mengembangkan kesadarannya, ibarat mayat hidup yang tak tahu apa-apa yang terjadi di sekitarnya...Dengan waspada seseorang tidak akan melakukan kesalahan dan selau bertindak dengan benar.

Dalam Kitab Suci Dhammapada bab IX ayat 124 yang dikutip oleh Surya Widya, Sang Buddha bersabda:
Apabila seseorang tidak mempunyai luka di telapak tangannya, ia dapat memegang mangkok yang berisi racun, oleh karena racun tidak akan masuk ke dalam tubuhnya. Seseorang yang tidak melakukan perbuatan jahat tidak khawatir akan akibat dari perbuatan jahat (pānamhi ce vano nāssa hareyya pāninā visaṁ, nābbanaṁ visamanveti, natthi pāpaṁ akubbato) (Surya Widya, 2001: 49).
3. Yang ketiga, Khanti Samvara (pengendalian diri melalui kesabaran)
Yang ketiga ini, menurut saya yang benar-benar perlu dilatih dengan baik...Dalam hal ini, salah satu teman saya, bertanya ke Bhante 'apakah sebenarnya sabar itu ada batasnya?'

Sebenarnya, ada 2 kondisi yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut, ada yang menyebut ketika orang marah maka itulah batas kesabarannya..namun, disepakati banyak orang, bahwa kesabaran itu tiada batasnya...
Hidup kita merupakan penderitaan, dimana pastinya timbul banyak masalah yang terjadi di sekitar kita...kalau kita tidak sabar, bayangkan saja, setinggi apa tingkat stress kita, dan saya yakin, kita akan semakin menderita... Dengan memiliki kesabaran baik yang bersifat lahir maupun yang bersifat batin kita, semua akan tahan terhadap masalah-masalah yang timbul dari luar maupun yang timbul dari dalam diri kita sendiri. Melatih kesabaran dapat kita lakukan dengan melaksanakan meditasi.
4. Yang keempat,Viriya Samvara (pengendalian diri melalui usaha benar)
virya samvara yaitu pengendalian diri melalui usaha yang benar berarti menghilangkan pikiran-pikiran jahat dengan usaha yang baik. Usaha yang dilakukan dapat melalui empat cara yaitu: “Menahan pikiran buruk yang belum muncul; mengikis pikiran buruk yang telah muncul; menumbuhkan pikiran baik yang telah muncul dan mengembangkan pikiran baik yang telah muncul."

dalam Dhammapada II: 24, Sang Buddha bersabda sebagai berikut:
Orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan dhamma dan selalu waspada, maka kebahagiaannya akan bertambah (uṭṭhānavato satimato sucikammassa nisammakārino saññatassa ca dhammajīvino appamattassa yaso bhivaddhati)
dengan pengendalian diri melalui usaha yang benar maka seseorang dapat
mengarahkan pikiran menuju tujuan yang hendak dicapai. Umat Buddha harus memiliki semangat atau usaha untuk selalu dapat menjalankan perbuatan-perbuatan baik yang akan mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

5. Yang kelima, Ñāna Saṁvara (Pengendalian diri melalui pengetahuan Dhamma)
ñāna saṁvara adalah pengendalian diri dengan mengunakan pengetahuan Dhamma yang telah dimiliki untuk menghadapi problem atau masalah-masalah yang dihadapi yang muncul dalam kehidupan ini. Pada dasarnya bahwa semua yang berkondisi adalah tidak kekal dan karena tidak kekal maka menimbulkan penderitaan itulah hal yang harus dipahami oleh kita semua.

Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan akan Dhamma hidupnya akan selalu dibarengi dengan pikiran buruk dan nafsu-nafsu keinginan yang rendah. Orang yang seperti ini tidak mengetahui cara apa yang harus dilakukan untuk dapat membebaskan diri dari belenggu ke keserakahan. Mereka selalu bertindak dengan pikiran yang dipenuhi ketidaktahuan dan tidak pernah berpikir untuk dapat melepaskan diri dari kesengsaraan. Namun, bila seseorang memiliki pengetahuan Dhamma yang tinggi maka ia dapat melepaskan diri menuju kebahagiaan.
,Maka dari itu, untuk mendapatkan hidup yang terang, yang perlu dilakukan tak lain adalah mengendalikan diri baik dari tindakan jasmani, ucapan, dan pikiran dengan mengontrol 6 indria kita atau kata lainnya membatasi apa yg bisa diterima oleh 6 indria kita...Pahami hal ini, maka anda akan menjadi lebih baik...
Ditulis ulang dari penjelasan Bhante Ven Uggaseno dengan bahasa saya sendiri...smoga bermanfaat...Sadhuuu...

Komentar

Postingan Populer