Pandangan Agama Buddha terhadap Perbuatan Baik
Pandangan
Agama Buddha terhadap Perbuatan Baik
Diulas oleh: Upc. Indra Kurniawan
Selamat malam, sotthi hontu
saudara-saudari yang terkasih dalam Dhamma. Kembali pada kesempatan yang
berbahagia ini, saya ingin mengulas kembali apa yang telah saya dengar dari
uraian Dhamma yang disampaikan oleh YM. Uttamo Mahathera. Tadi siang tepatnya,
saya memiliki waktu yang cukup luang dan berkah karena pada saat membuka
Youtube, muncul 1 video yang menampilkan foto Bhante. Judul videonya berkenaan
dengan perbuatan baik. Berbuat baik bukan hal yang asing lagi bagi kita semua.
Semua agama, menurut saya, pasti mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dalam
kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan kali ini, saya hanya
ingin membahas perbuatan baik dari sudut pandang Agama Buddha saja sesuai yang
disampaikan oleh Bhante. Perbuatan baik dalam ajaran Buddha sering kali menjadi
pembahasan yang menarik. Namun, juga tidak sedikit yang menjadikan perbuatan
baik sesuai dengan Dhamma sebagai bahan perbincangan yang mengarah ke
perdebatan yang tak ditemukan titik terangnya. Sering kali ada umat Buddha yang menilai bahwa
perbuatan A ini loh yang disebut perbuatan baik. Yang lain berkata perbuatan B
lah yang merupakan perbuatan baik. Bahkan ada yang luar biasa mengatakan bahwa
ia tidak suka ke vihara. Ia juga tidak suka baca Paritta, meditasi, bahkan
mendengarkan Dhammadesana. Yang terpenting bagi dia itu adalah tetap berbuat
baik. Berbuat baik saja sudah cukup tidak perlu ikut kegiatan agama apa-apa.
Pendapat ini membuat orang bingung, perbuatan baik apa sih yang dimaksud.
Ternyata,
semisal ada orang nih habis main judi kalah, terus butuh pinjaman uang. Orang
ini akan meminjamkan uang kepada orang tersebut karena menganggap dengan
meminjamkan uang itu si penjudi bisa berbuat baik juga dan keluarganya bisa
makan. Ada juga yang suka beli narkoba, waktu kehabisan uang datang minta
pinjaman uang. Orang itu meminjamkan uang kepada pecandu narkoba tersebut.
Dengan prinsip yang sama bahwa berbuat baik saja cukup, ia meminjamkan uang
kepada kedua orang kurang baik tersebut. Hal ini membingungkan, kejadian
seperti ini disebut berbuat baik atau bukan ya? Kalau tidak benar yang benar
seperti apa ya?
Kita
akan melihat perbuatan baik menurut pandangan Agama Buddha. Bagaimana Dhamma
mengarahkan kita supaya apa yang kita lakukan benar-benar bisa disebut
perbuatan baik dan kita tidak lagi mengatakan seperti prinsip orang yang tadi?
Kita akan membahasnya supaya kita bisa mendapatkan pedoman sesuai dengan
Dhamma.
1. Niat
Pikiran
adalah pelopor. Sering kali banyak pembicara menjelaskan syair Dhammapada
pembuka ini. Dalam hal perbuatan baik, pikiran digaris bawahi sebagai niatan.
Di dalam Dhamma sering dikatakan sebagai berikut, “segala sesuatu yang kita
lakukan itu niatnya apa?”
Mari kita
simak kasus satu ini yang biasanya sering terjadi dalam kehidupan kita. Suatu
ketika kita mendengar ada kabar orang kecelakaan, lalu masuk RS. Kita biasanya
menjenguknya. Bagi kebanyakan orang, perbuatan demikian ‘menengok orang sakit’
adalah perbuatan baik. Padahal tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang kita
menengok itu malah untuk memastikan orang yang kita benci benar-benar menderita
dan masuk RS. Kalau benar-benar masuk RS, kita jadi happy banget. Orang yang
kita benci menderita. Jadi secara fisik seolah-olah kita melakukan perbuatan baik
dengan menjenguk orang sakit, tapi kenyataannya niat nya tidak baik.
Perilaku
baik di dalam Dhamma dimulai dari niat yang baik. Kalau kita punya niat yang
baik, ntah apapun yang dikatakan orang lain (misal, “Buat apa kamu menjenguk
musuhmu? Biarin saja tidak perlu dikunjungi!), kita tidak peduli. Jawab saja,
“Oh, bukan seperti itu, saya kesini mau bawa obat-obatan untuk dia. Saya juga
membawakan sesuatu yang bisa membuat dia bahagia, niat saya baik.” Kalau niat
kita dari awal baik, tidak perlu tahu apa pendapat orang lain, yang penting
niat kita berbuat baik. Ini adalah dasar pertama perilaku baik berdasarkan
Dhamma.
2. Ikuti tujuan Dhamma yang sebenarnya
Kalau dari
awal kita sudah punya niat yang baik, Dhamma mengajarkan kita kelanjutannya
yaitu mengikuti tujuan Dhamma itu sendiri. Berbuat baiklah untuk mengurangi
ketamakkan, kebencian, dan kegelapan batin. 2 hal yang tertera di poin 1 dan 2
ini adalah fondasi dasar suatu perbuatan baik yang sesuai landasan Dhamma.
Kita ambil
contoh mengunjungi orang sakit di RS tadi. Tanamkan dalam pikiran prinsip ini.
Niat saya menjenguk orang tersebut apa? Niat awal saya untuk mengurangi
kebencian. Saya memang benci dengan orang itu, tapi saya mau menengok dia. Maka
ini adalah benar-benar upaya baik saya untuk berperilaku baik karena saya ingin
mengurangi kebencian. Saya juga membawakan dia obat-obatan, buah, beberapa
kebutuhannya di RS, ini adalah untuk mengurangi ketamakkan, berbuat baik dengan
berdana.
Sesudah
saya menengoknya, membawakan dia barang-barang yang diperlukannya, di rumah
saya mendoakannya. Saya juga bermeditasi untuk dia. Ini perbuatan baik yang
semakin komplit. Ketamakkan dikurangi, begitu juga dengan kebencian. Lengkapnya
saya juga mengurangi kegelapan batin.
Poin
pertama adalah syarat pertama yang berhubungan hanya sebatas pikiran karena
niat berasal dari pikiran. Praktiknya berada di poin kedua yaitu melalui
tindakan dan ucapan kita melakukan perbuatan baik.
3. Tidak ada penyesalan setelah
melakukan perbuatan baik
Ukuran
kebajikan yang lain adalah bahwa tidak ada penyesalan setelah melakukan
perbuatan baik. Sebagai manusia, di dalam batinnya masing-masing, selalu
memiliki ukuran atas perbuatan baik maupun yang tidak baik.
Ukuran yang
baik seperti contoh berikut ini. Suatu ketika kita melihat orang yang jatuh
karena terpeleset ntah di vihara atau di tempat umum. Kalau kita berniat baik
sungguh-sungguh ingin menolong orang tersebut, maka setelah kita fokus pada
kejadian tersebut, kita akan segera berlari menghampiri orang tersebut. Kita
bisa membantu mengangkatnya, menolongnya, menanyakan kondisinya sehingga tahu
apakah perlu dibawa ke RS dll. Proses ini akan terjadi kalau niatan kita baik.
Sebaliknya,
kalau niatnya tidak baik, yang jadi fokus kita bukan orang yang jatuh tapi
“aduu jamnya bagus tuh, perhiasannya juga bagus dan dia kebetulan aja pingsan.”
Ini ukuran kita, kita tahu akan hal itu. Kita mulai menoleh ke kanan dan kiri,
lari mendekat ketika tidak banyak orang bukan untuk menolong tapi untuk
mengambil jam, dompet, atau perhiasannya. Mungkin ikut berempati sedikit dengan
membantu mengangkat, tapi ya hanya bantu sedikit lalu pergi karena barangnya
sudah didapat.
Contoh di
atas ini contoh yang ekstrem. Contoh di kehidupan sehari-hari ada yang lebih
mudah. Bagi anda yang sudah memiliki pasangan atau teman, lihat saja ketika dia
menerima telepon. Lalu anda masuk ke ruangan itu. Kalau suaranya yang awalnya
keras dan jelas tetap seperti itu, berarti dia baik dan jujur.
Kalau
sebaliknya suaranya mulai mengecil volumenya dan berubah kata-kata menjadi,
“hmm...nanti aja ku telepon lagi ya, ada yang ganggu.” Ini jelas, perilakunya
tidak benar. Nah, dari sini jelas sekali bahwa setiap individu tau perilakunya
masing-masing. Ada orang yang ke vihara dengan menyadari bahwa kelakuannya
kurang baik, tapi dia berkata bahwa dia tidak bisa menghentikan perbuatan
buruknya itu. Ini yang disebut dengan mengetahui ukuran baik buruknya. Kalau
kita mau baik, kita perlu fokus ke yang baik. Kalau dari awal tidak mau baik,
ya jadinya seperti tadi, tidak fokus hanya menoleh-noleh.
Pemahamannya
seperti ini, dulu waktu sekolah kita pasti sering mengerjakan soal. Kalau kita
tahu jawabannya soalnya, tanpa harus noleh sana sini, kita langsung fokus
mengisi jawabannya sampai selesai, dikumpulkan dan beres. Tapi bagi yang tidak
bisa dan berusaha untuk tidak jujur, mulai gelisah tapi muncul banyak cara.
Kita jadi bingung berusaha buka catatan di laci atau mau ambil gulungan kertas
di kantong. Mulai lihat kanan kiri, kalau aman ya terus berusaha buka catatan.
Kita tahu kok kita berbuat buruk tapi kalau sudah kepepet suara-suara yang
bermunculan di kepala kita acuhkan. Jadinya kita memutuskan tidak masalah lah
ngrepek atau nyontek. Ujung-ujungnya yang ada muncul penyesalan di kemudian
hari. Bahayanya, penyesalan bisa berlaku jangka panjang. Kalau hanya soal
ujian, nyesalnya hanya beberapa saat. Kalau keputusan yang sangat penting dalam
kehidupan kita dan kita salah mengambilnya, aduuu nyesalnya bertahun-tahun.
Sekali lagi
perlu diingat yang namanya perbuatan baik itu diawali niat yang baik. Begitu juga,
dia harus sesuai dengan 3 tujuan Dhamma. Yang terakhir, pada akhirnya tidak ada
penyesalan setelah melakukannya. Kalau menurut kita ini terlalu rumit, kita
bisa ambil yang sederhana saja. Caranya bagaimana? Gunakan prinsip seperti ini
saja. Kalau saya mau disakiti, mungkin orang lain juga mau demikian. Kalau saya
tidak mau disakiti, berarti yang lain juga sama. Di dalam Dhamma, Sang Buddha
pernah menyampaikan bahwa kalau ada makhluk (manusia) yang takut pada kematian,
mungkin kita sebenarnya tidak punya hak untuk membunuh makhluk lain. Intinya
kalau tidak mau disakiti ya jangan menyakiti yang lain, karena pada dasarnya
ada relasi perasaan yang sama, yaitu ingin bahagia. Makhluk lain juga sama
dengan kita, tidak mau yang namanya penderitaan. Dengan cara demikian, kita
jadi bisa merumuskan perbuatan baik dengan cara yang lebih sederhana.
Dalam
Dhamma perbuatan baik banyak macamnya, apa saja yang bisa kita lakukan? Secara
riilnya ada banyak macam, kita ambil salah satunya saja yaitu berdana. Berdana
itu simbol dari kerelaan yang bersifat materi maupun non materi. Contoh
kerelaan yang bersifat materi, di saat pandemi ini, kalau kita punya beberapa
helai masker, kita mungkin bisa membagikan masker untuk teman yang membutuhkan.
Kalau punya dalam jumlah yang banyak, kita bisa berdana ke yayasan-yayasan
sosial atau komunitas yang membutuhkan supaya bisa tetap sehat. Kerelaan
bersifat materi ini juga sederhana. Prinsipnya adalah “Kalau saya punya, maka
saya bisa bagikan.”
Dalam
Dhamma, kita juga mengenal praktik berdana makan kepada Sangha. Kalau ke
vihara, hendaknya kita berdana dengan sungguh-sungguh, jangan pilih-pilih.
Kalau ada Bhante A yang kita idolakan, dananya banyak, macam-macam. Untuk
Bhante B yang kurang disukai, dananya berbeda, bahkan bisa saja tidak dikasih.
Yang semacam ini keliru berdasarkan Dhamma. Mau ada berapapun Bhikkhu di
vihara, jangan ragu untuk berdana dengan niatan yang baik. Inilah kerelaan yang
bersifat materi.
Dipikirkan
lebih mendalam lagi, kerelaan semacam ini adalah demi kebahagiaan si penerima.
Kita mesti memiliki pola pikir seperti ini ‘Oh, saya ingin membahagiakan dia.
Saya punya makanan yang menurut saya enak, maka saya akan danakan.’ Mau
berdananya ke vihara atau panti jompo sama saja yang terpenting adalah landasan
berpikirnya. Jangan karena Bhante tidak bisa menolak dana makanan dari umat,
maka kita memberi makanan yang kurang layak dengan berpikir orang lain tidak
mungkin tahu dana itu dari kita. Dengan memiliki landasan berpikir ‘saya ingin
membahagiakan orang lain’, tanpa disadari kita sudah memiliki kerelaan yang
bersifat materi maupun non materi.
Kerelaan
dalam berdana tidak selalu berupa benda. Satu hal sederhana yang bisa kita
berikan adalah waktu. Kita bisa menyisihkan sedikit waktu kita untuk
mendengarkan keluh kesah orang lain. Ada kalanya orang lain butuh untuk berbagi
cerita. Tugas kita adalah memiliki niatan untuk duduk diam, mendengarkan cerita
tersebut. Syukur-syukur kalau pada akhirnya kita bisa membantu memberikan
nasihat atau masukkan untuk membahagiakannya. Dalam Dhamma, sebenarnya sewaktu
orang baru memulai mengeluh ‘aduuu saya ini kok stress yaa..’, kita bisa
memulai memberikan nasihat. Tapi akan menjadi tidak bijak jika kita yang malah
kebanyakan bicara. Kita perlu memberikan kesempatan orang lain untuk bercerita,
mendengarkan cerita tersebut dengan baik. Setelah selesai, baru kita bisa
memberikan empati terhadap masalahnya lalu dilanjutkan dengan nasihat-nasihat
yang tepat berdasarkan apa yang dia ceritakan dan dengan landasan Dhamma.
Yang perlu
diingat, tidak semua masalah akan dengan cepat terselesaikan. Bisa saja orang
itu balik lagi, stress lagi, cerita hal yang sama. Apakah kita harus emosi?
Tidak, santai saja. Orang yang mau bercerita kepada kita adalah karena dia
merasa nyaman. Dan mungkin saja saat kita memberikan masukkan pada saat itu dia
mengerti tapi waktu pulang dia lupa. Santai dan tenang saja karena mungkin saja
kita juga pernah seperti itu. Contoh, waktu kita kecil, guru kita menjelaskan
banyak hal, sepulang dari rumah kita lupa semuanya. Besoknya kita bertanya lagi
ke guru tersebut. Guru tersebut dengan sabar menjelaskan ulang kepada kita.
Besoknya, kita lupa lagi jadinya bertanya lagi. Gurunya agak pegal sebenarnya
tapi dia tetap memberikan penjelasan. Sebenarnya, di saat itulah guru tersebut juga
belajar untuk mengembangkan kemampuannya karena mungkin dia bisa menemukan cara
yang lebih mudah untuk membantu muridnya.
Sama dengan
kasus kita tadi, itu kesempatan bagi kita untuk belajar dan merefleksi
kalau-kalau ada yang kurang tepat dari nasihat kita. Kita beri lagi
contoh-contoh yang berbeda. Kalau orang itu datang lagi, jangan emosi, ini
kesempatan yang sangat bagus bagi kita untuk berbuat baik melalui pikiran,
ucapan, dan perilaku. Tanpa disadari, ini juga merupakan kesempatan kita untuk
berdana kepada orang lain.
Salah satu
tradisi Buddhis adalah pindapata. Di Singapore, mungkin tidak ada tradisi ini.
Namun, di negara-negara Buddhis, pindapata sering dilakukan. Ketika seorang
umat memasukkan makanan ke dalam bowl Bhante, maka ia akan mengucapkan terima
kasih. Orang yang berbuat baik yang mengucapkan terima kasih, bukan yang
menerima dana. Kenapa bisa begitu? Sederhanya, kalau Bhantenya tidak lewat,
tidak ada kesempatan untuk berbuat baik. Kembali ke kasus nasihat tadi, itu
adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Walau orangnya sama dan tanya
hal yang sama, itu jelas adalah praktik langsung berbuat baik.
Pada zaman modern seperti saat ini, memberikan nasihat
adalah hal yang sangat mudah karena banyak akses media sosial. Yang membingungkan malah terjadi di
kehidupan kita sehari-hari ketika kita melihat atasan atau orang tua kita yang
perilakunya kurang baik. Mau menasihati langsung itu kadang kala sungkan, tidak
enak. Ketika menegur orang tua sendiri memberi nasihat, kadang mereka malah
emosi ke anaknya. Begitu juga dengan atasan, tambah rumit. Lalu, cara yang
tepat untuk memberikan nasihat bagaimana?
Cara paling
mudah adalah dengan mengubah pernyataan menjadi pertanyaan. Jadi semisal
awalnya kita menggunakan pernyataan seperti ini, “Waa, papa ini keliru harusnya
gini gini gini...”, “Kamu itu bos saya, tapi kok kelakuannya tidak beres.” Ini hal
bahaya, seolah-olah kita ini paling pandai dan yang lain kalah dengan kita. Sebaliknya,
kalau kita membuat pertanyaan, kita bisa melihat pola pikir orang lain yang
bisa dikembangkan. Jadi misalnya, yang punya kesalahan papanya nih, kita tahu
papa salah. Tidak perlu lagi kita mengatakan bahwa papa itu gini gini gini,
bisa emosi nanti papanya. Tanya saja dengan baik, misalnya tentang bisnis
perdagangan, “Pa, apakah sudah benar kalau dalam kondisi seperti ini kita malah
mengambil barang itu lebih banyak dari biasanya?” jadi setelah kita bertanya,
biarkan papa menjawab dan dengarkan, lalu bisa bertanya lagi, “Apakah tidak mau
coba ambil sedikit dulu papa atau diganti dengan barang yang berbeda?” Setelah
ini, suatu waktu papanya akan bisa menerima kemungkinan dari ide yang secara
tidak langsung muncul di pertanyaan tersebut dan mau mencobanya. Mau dengan
siapa saja coba lakukan cara pendekatan ini, buat pertanyaan bukan pernyataan.
Pada zaman
Sang Buddha pun, Sang Buddha juga sering melakukan cara serupa. Di dalam
beberapa Sutta, sering kali Sang Buddha memberikan pertanyaan kepada para
Bhikkhu untuk diarahkan kepada suatu kesimpulan, seperti berikut ini:
Buddha: Oh,
para bhikkhu, semua ini kekal atau tidak kekal? Berubah atau tidak berubah?
Para bhikkhu:
Tidak kekal, berubah-ubah Bhante.
Buddha:
Kalau berubah ini penderitaan atau bukan?
Para
bhikkhu: Iya, Dukkha, Bhante.
Buddha:
Dukkha ini tanpa inti kekal atau tidak?
Para
bhikkhu: Iya Bhante tanpa inti kekal.
Inilah yang
disebut dengan Leading by Questions yang diartikan sebagai memimpin atau
mengarahkan orang dengan membuat pertanyaan, kesannya bukan menggurui. Tapi kalau
sebaliknya kita berucap, ‘itu salah, harus gini...’, itu seolah-olah kita
menggurui. Soal memberi nasihat jika masih tetap tidak bisa diterima, sabar,
berikan nasihat lagi yang berbeda.
Berbuat baik
hendaknya bisa dilakukan melalui pikiran dan jasmani kita. Sebagai contoh,
ketika kita melihat orang lain berjalan, dompetnya mau jatuh dan kita
melihatnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengingatkan orang itu ‘awas
dompetnya mau jatuh.’ Begitu saja, sudah merupakan perbuatan baik. Pas di jalan
juga, kalau melihat ada paku payung di jalan, kita bisa angkat dan membuangnya
ke tong sampah. Ini adalah perbuatan baik secara jasmani / fisik. Membantu orang
tua menyeberang jalan juga perbuatan baik. Bermeditasi untuk orang yang sakit
atau menderita itu contoh perbuatan baik melalui pikiran positif. Kalau dilengkapi
dengan berdoa, ini melengkapi perbuatan baik kita melalui ucapan.
Semua hal
di atas ini adalah contoh perbuatan baik yang sederhana. Kalau kita sering
melakukannya, kita sudah menabung kamma baik sedikit demi sedikit. Dalam Dhamma,
kita dianjurkan untuk tidak berbuat baik langsung dalam jumlah yang besar dalam
satu waktu. Lebih baik kita sering melakukannya walaupun itu sedikit karena
akan mengondisikan kebiasaan untuk berpikir, berucap, dan bertindak baik. Ibarat
air yang menetes sedikit demi sedikit sampai suatu waktu bisa mengisi 1
tempayan penuh. Berbuat baik sekali saja dalam jumlah besar dan tidak berlanjut
tidak dianjurkan.
Lalu, jika
kita melihat prinsip yang disampaikan di awal ulasan tadi bahwa orang tersebut
tidak menyukai membaca paritta, tapi langsung berbuat baik yang lain saja,
apakah hal ini tepat? Membaca paritta tidak membutuhkan waktu yang panjang,
kita ambil contoh namakara patha saja, mungkin hanya butuh waktu 2 menit. Jika dibaca
pagi dan malam hanya 4 menit. 4 menit itu singkat tapi kita sudah berupaya
untuk berpikir, berucap, dan berbuat baik. Namakara itu merupakan penghormatan
kepada Sang Buddha. Itu dihitung hanya sehari. Kalau rutin 30 hari, sama dengan
2 jam non stop kita membaca namakara patha. Anda sudah menyicil banyak sekali
perbuatan baik walau hanya per 2 menit. Akan semakin luar biasa, jika dilakukan
selama setahun. Walau hanya 4 menit sehari, belum tentu saat kita beraktifitas seharian kita bisa selalu berpikiran baik, bisa juga muncul yang tidak baik. Kalau bacaannya
dilengkapi dengan Sutta atau Gatha lain, maka semakin banyak cicilan kamma baik anda.
Jadi kalau
masih ada yang ngomel ‘ah buat apa baca Paritta’, berarti dia belum tahu kalau
baca Paritta itu berarti menabung kamma baik. Ya sama seperti kredit cicilan,
sedikit-sedikit tapi berkelanjutan. Ditambah meditasi, makin luar biasa lagi. Perbuatan
baik, menurut pandangan Dhamma, bisa diwujudkan dari banyak segi. Bisa saja kita mengambil
contoh-contoh di atas yang pada dasarnya adalah 1 kesatuan yang tidak bisa
terpisahkan (kemoralan, kerelaan, dan konsentrasi). Tidak bisa hanya mau
kemoralannya saja tidak berbuat yang lain. Karena hanya dari 1 kesatuan inilah,
perbuatan baik kita menjadi lengkap. Manfaatnya, setiap malam menjelang tidur,
kita tidak punya penyesalan karena tiap hari kita sudah berbuat baik. Bahkan ketika
kematian datang, ketika harus menutup mata dari kehidupan ini untuk terlahir di
alam lain lagi, tidak akan ada penyesalan lagi karena hidup kita sudah diisi
dengan perbuatan baik.
Menurut Dhamma,
sekali lagi perlu ditekankan, perbuatan baik bukan untuk dilakukan sekaligus
dalam jumlah besar tapi terus menerus walau hanya sederhana. Ayo kita
bangkitkan semangat kita untuk terus berbuat baik karena kebaikan itu tak lain
tak bukan akan kembali ke diri kita. Kebaikan itu akan memberi manfaat untuk
diri kita baik dalam kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Sering-seringlah
berbuat baik supaya menjadi 1 kebiasaan sehingga tidak perlu ada penyesalan
dalam hidup kita. Kemanapun kita pergi, kita bisa menjadi sumber kebahagiaan
bagi orang lain. Kalau kita sudah menjadi sedemikian adanya, maka sesungguhnya
kita sudah berhasil melakukan perbuatan baik sesuai dengan Dhamma.
Demikian yang
bisa saya tuliskan dalam ulasan kali ini, semoga semua yang kita lakukan bisa
demikian adanya. Semoga kita terbebas dari segala penderitaan dan bisa menjadi
sumber kebahagiaan bagi orang lain di sekitar kita. Jangan pernah ragu untuk berbuat
baik.
Komentar
Posting Komentar