Pandangan Agama Buddha terhadap Perbuatan Baik

 

Pandangan Agama Buddha terhadap Perbuatan Baik

Diulas oleh: Upc. Indra Kurniawan

 

            Selamat malam, sotthi hontu saudara-saudari yang terkasih dalam Dhamma. Kembali pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengulas kembali apa yang telah saya dengar dari uraian Dhamma yang disampaikan oleh YM. Uttamo Mahathera. Tadi siang tepatnya, saya memiliki waktu yang cukup luang dan berkah karena pada saat membuka Youtube, muncul 1 video yang menampilkan foto Bhante. Judul videonya berkenaan dengan perbuatan baik. Berbuat baik bukan hal yang asing lagi bagi kita semua. Semua agama, menurut saya, pasti mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.

            Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin membahas perbuatan baik dari sudut pandang Agama Buddha saja sesuai yang disampaikan oleh Bhante. Perbuatan baik dalam ajaran Buddha sering kali menjadi pembahasan yang menarik. Namun, juga tidak sedikit yang menjadikan perbuatan baik sesuai dengan Dhamma sebagai bahan perbincangan yang mengarah ke perdebatan yang tak ditemukan titik terangnya. Sering kali ada umat Buddha yang menilai bahwa perbuatan A ini loh yang disebut perbuatan baik. Yang lain berkata perbuatan B lah yang merupakan perbuatan baik. Bahkan ada yang luar biasa mengatakan bahwa ia tidak suka ke vihara. Ia juga tidak suka baca Paritta, meditasi, bahkan mendengarkan Dhammadesana. Yang terpenting bagi dia itu adalah tetap berbuat baik. Berbuat baik saja sudah cukup tidak perlu ikut kegiatan agama apa-apa. Pendapat ini membuat orang bingung, perbuatan baik apa sih yang dimaksud.

            Ternyata, semisal ada orang nih habis main judi kalah, terus butuh pinjaman uang. Orang ini akan meminjamkan uang kepada orang tersebut karena menganggap dengan meminjamkan uang itu si penjudi bisa berbuat baik juga dan keluarganya bisa makan. Ada juga yang suka beli narkoba, waktu kehabisan uang datang minta pinjaman uang. Orang itu meminjamkan uang kepada pecandu narkoba tersebut. Dengan prinsip yang sama bahwa berbuat baik saja cukup, ia meminjamkan uang kepada kedua orang kurang baik tersebut. Hal ini membingungkan, kejadian seperti ini disebut berbuat baik atau bukan ya? Kalau tidak benar yang benar seperti apa ya?

            Kita akan melihat perbuatan baik menurut pandangan Agama Buddha. Bagaimana Dhamma mengarahkan kita supaya apa yang kita lakukan benar-benar bisa disebut perbuatan baik dan kita tidak lagi mengatakan seperti prinsip orang yang tadi? Kita akan membahasnya supaya kita bisa mendapatkan pedoman sesuai dengan Dhamma.

1.      Niat

Pikiran adalah pelopor. Sering kali banyak pembicara menjelaskan syair Dhammapada pembuka ini. Dalam hal perbuatan baik, pikiran digaris bawahi sebagai niatan. Di dalam Dhamma sering dikatakan sebagai berikut, “segala sesuatu yang kita lakukan itu niatnya apa?”

Mari kita simak kasus satu ini yang biasanya sering terjadi dalam kehidupan kita. Suatu ketika kita mendengar ada kabar orang kecelakaan, lalu masuk RS. Kita biasanya menjenguknya. Bagi kebanyakan orang, perbuatan demikian ‘menengok orang sakit’ adalah perbuatan baik. Padahal tidak selalu seperti itu. Kadang-kadang kita menengok itu malah untuk memastikan orang yang kita benci benar-benar menderita dan masuk RS. Kalau benar-benar masuk RS, kita jadi happy banget. Orang yang kita benci menderita. Jadi secara fisik seolah-olah kita melakukan perbuatan baik dengan menjenguk orang sakit, tapi kenyataannya niat nya tidak baik.

Perilaku baik di dalam Dhamma dimulai dari niat yang baik. Kalau kita punya niat yang baik, ntah apapun yang dikatakan orang lain (misal, “Buat apa kamu menjenguk musuhmu? Biarin saja tidak perlu dikunjungi!), kita tidak peduli. Jawab saja, “Oh, bukan seperti itu, saya kesini mau bawa obat-obatan untuk dia. Saya juga membawakan sesuatu yang bisa membuat dia bahagia, niat saya baik.” Kalau niat kita dari awal baik, tidak perlu tahu apa pendapat orang lain, yang penting niat kita berbuat baik. Ini adalah dasar pertama perilaku baik berdasarkan Dhamma.

2.      Ikuti tujuan Dhamma yang sebenarnya

Kalau dari awal kita sudah punya niat yang baik, Dhamma mengajarkan kita kelanjutannya yaitu mengikuti tujuan Dhamma itu sendiri. Berbuat baiklah untuk mengurangi ketamakkan, kebencian, dan kegelapan batin. 2 hal yang tertera di poin 1 dan 2 ini adalah fondasi dasar suatu perbuatan baik yang sesuai landasan Dhamma.

Kita ambil contoh mengunjungi orang sakit di RS tadi. Tanamkan dalam pikiran prinsip ini. Niat saya menjenguk orang tersebut apa? Niat awal saya untuk mengurangi kebencian. Saya memang benci dengan orang itu, tapi saya mau menengok dia. Maka ini adalah benar-benar upaya baik saya untuk berperilaku baik karena saya ingin mengurangi kebencian. Saya juga membawakan dia obat-obatan, buah, beberapa kebutuhannya di RS, ini adalah untuk mengurangi ketamakkan, berbuat baik dengan berdana.

Sesudah saya menengoknya, membawakan dia barang-barang yang diperlukannya, di rumah saya mendoakannya. Saya juga bermeditasi untuk dia. Ini perbuatan baik yang semakin komplit. Ketamakkan dikurangi, begitu juga dengan kebencian. Lengkapnya saya juga mengurangi kegelapan batin.

Poin pertama adalah syarat pertama yang berhubungan hanya sebatas pikiran karena niat berasal dari pikiran. Praktiknya berada di poin kedua yaitu melalui tindakan dan ucapan kita melakukan perbuatan baik.

3.      Tidak ada penyesalan setelah melakukan perbuatan baik

Ukuran kebajikan yang lain adalah bahwa tidak ada penyesalan setelah melakukan perbuatan baik. Sebagai manusia, di dalam batinnya masing-masing, selalu memiliki ukuran atas perbuatan baik maupun yang tidak baik.

Ukuran yang baik seperti contoh berikut ini. Suatu ketika kita melihat orang yang jatuh karena terpeleset ntah di vihara atau di tempat umum. Kalau kita berniat baik sungguh-sungguh ingin menolong orang tersebut, maka setelah kita fokus pada kejadian tersebut, kita akan segera berlari menghampiri orang tersebut. Kita bisa membantu mengangkatnya, menolongnya, menanyakan kondisinya sehingga tahu apakah perlu dibawa ke RS dll. Proses ini akan terjadi kalau niatan kita baik.

Sebaliknya, kalau niatnya tidak baik, yang jadi fokus kita bukan orang yang jatuh tapi “aduu jamnya bagus tuh, perhiasannya juga bagus dan dia kebetulan aja pingsan.” Ini ukuran kita, kita tahu akan hal itu. Kita mulai menoleh ke kanan dan kiri, lari mendekat ketika tidak banyak orang bukan untuk menolong tapi untuk mengambil jam, dompet, atau perhiasannya. Mungkin ikut berempati sedikit dengan membantu mengangkat, tapi ya hanya bantu sedikit lalu pergi karena barangnya sudah didapat.

Contoh di atas ini contoh yang ekstrem. Contoh di kehidupan sehari-hari ada yang lebih mudah. Bagi anda yang sudah memiliki pasangan atau teman, lihat saja ketika dia menerima telepon. Lalu anda masuk ke ruangan itu. Kalau suaranya yang awalnya keras dan jelas tetap seperti itu, berarti dia baik dan jujur.

Kalau sebaliknya suaranya mulai mengecil volumenya dan berubah kata-kata menjadi, “hmm...nanti aja ku telepon lagi ya, ada yang ganggu.” Ini jelas, perilakunya tidak benar. Nah, dari sini jelas sekali bahwa setiap individu tau perilakunya masing-masing. Ada orang yang ke vihara dengan menyadari bahwa kelakuannya kurang baik, tapi dia berkata bahwa dia tidak bisa menghentikan perbuatan buruknya itu. Ini yang disebut dengan mengetahui ukuran baik buruknya. Kalau kita mau baik, kita perlu fokus ke yang baik. Kalau dari awal tidak mau baik, ya jadinya seperti tadi, tidak fokus hanya menoleh-noleh.

Pemahamannya seperti ini, dulu waktu sekolah kita pasti sering mengerjakan soal. Kalau kita tahu jawabannya soalnya, tanpa harus noleh sana sini, kita langsung fokus mengisi jawabannya sampai selesai, dikumpulkan dan beres. Tapi bagi yang tidak bisa dan berusaha untuk tidak jujur, mulai gelisah tapi muncul banyak cara. Kita jadi bingung berusaha buka catatan di laci atau mau ambil gulungan kertas di kantong. Mulai lihat kanan kiri, kalau aman ya terus berusaha buka catatan. Kita tahu kok kita berbuat buruk tapi kalau sudah kepepet suara-suara yang bermunculan di kepala kita acuhkan. Jadinya kita memutuskan tidak masalah lah ngrepek atau nyontek. Ujung-ujungnya yang ada muncul penyesalan di kemudian hari. Bahayanya, penyesalan bisa berlaku jangka panjang. Kalau hanya soal ujian, nyesalnya hanya beberapa saat. Kalau keputusan yang sangat penting dalam kehidupan kita dan kita salah mengambilnya, aduuu nyesalnya bertahun-tahun.

Sekali lagi perlu diingat yang namanya perbuatan baik itu diawali niat yang baik. Begitu juga, dia harus sesuai dengan 3 tujuan Dhamma. Yang terakhir, pada akhirnya tidak ada penyesalan setelah melakukannya. Kalau menurut kita ini terlalu rumit, kita bisa ambil yang sederhana saja. Caranya bagaimana? Gunakan prinsip seperti ini saja. Kalau saya mau disakiti, mungkin orang lain juga mau demikian. Kalau saya tidak mau disakiti, berarti yang lain juga sama. Di dalam Dhamma, Sang Buddha pernah menyampaikan bahwa kalau ada makhluk (manusia) yang takut pada kematian, mungkin kita sebenarnya tidak punya hak untuk membunuh makhluk lain. Intinya kalau tidak mau disakiti ya jangan menyakiti yang lain, karena pada dasarnya ada relasi perasaan yang sama, yaitu ingin bahagia. Makhluk lain juga sama dengan kita, tidak mau yang namanya penderitaan. Dengan cara demikian, kita jadi bisa merumuskan perbuatan baik dengan cara yang lebih sederhana.

Dalam Dhamma perbuatan baik banyak macamnya, apa saja yang bisa kita lakukan? Secara riilnya ada banyak macam, kita ambil salah satunya saja yaitu berdana. Berdana itu simbol dari kerelaan yang bersifat materi maupun non materi. Contoh kerelaan yang bersifat materi, di saat pandemi ini, kalau kita punya beberapa helai masker, kita mungkin bisa membagikan masker untuk teman yang membutuhkan. Kalau punya dalam jumlah yang banyak, kita bisa berdana ke yayasan-yayasan sosial atau komunitas yang membutuhkan supaya bisa tetap sehat. Kerelaan bersifat materi ini juga sederhana. Prinsipnya adalah “Kalau saya punya, maka saya bisa bagikan.”

Dalam Dhamma, kita juga mengenal praktik berdana makan kepada Sangha. Kalau ke vihara, hendaknya kita berdana dengan sungguh-sungguh, jangan pilih-pilih. Kalau ada Bhante A yang kita idolakan, dananya banyak, macam-macam. Untuk Bhante B yang kurang disukai, dananya berbeda, bahkan bisa saja tidak dikasih. Yang semacam ini keliru berdasarkan Dhamma. Mau ada berapapun Bhikkhu di vihara, jangan ragu untuk berdana dengan niatan yang baik. Inilah kerelaan yang bersifat materi.

Dipikirkan lebih mendalam lagi, kerelaan semacam ini adalah demi kebahagiaan si penerima. Kita mesti memiliki pola pikir seperti ini ‘Oh, saya ingin membahagiakan dia. Saya punya makanan yang menurut saya enak, maka saya akan danakan.’ Mau berdananya ke vihara atau panti jompo sama saja yang terpenting adalah landasan berpikirnya. Jangan karena Bhante tidak bisa menolak dana makanan dari umat, maka kita memberi makanan yang kurang layak dengan berpikir orang lain tidak mungkin tahu dana itu dari kita. Dengan memiliki landasan berpikir ‘saya ingin membahagiakan orang lain’, tanpa disadari kita sudah memiliki kerelaan yang bersifat materi maupun non materi.

Kerelaan dalam berdana tidak selalu berupa benda. Satu hal sederhana yang bisa kita berikan adalah waktu. Kita bisa menyisihkan sedikit waktu kita untuk mendengarkan keluh kesah orang lain. Ada kalanya orang lain butuh untuk berbagi cerita. Tugas kita adalah memiliki niatan untuk duduk diam, mendengarkan cerita tersebut. Syukur-syukur kalau pada akhirnya kita bisa membantu memberikan nasihat atau masukkan untuk membahagiakannya. Dalam Dhamma, sebenarnya sewaktu orang baru memulai mengeluh ‘aduuu saya ini kok stress yaa..’, kita bisa memulai memberikan nasihat. Tapi akan menjadi tidak bijak jika kita yang malah kebanyakan bicara. Kita perlu memberikan kesempatan orang lain untuk bercerita, mendengarkan cerita tersebut dengan baik. Setelah selesai, baru kita bisa memberikan empati terhadap masalahnya lalu dilanjutkan dengan nasihat-nasihat yang tepat berdasarkan apa yang dia ceritakan dan dengan landasan Dhamma.

Yang perlu diingat, tidak semua masalah akan dengan cepat terselesaikan. Bisa saja orang itu balik lagi, stress lagi, cerita hal yang sama. Apakah kita harus emosi? Tidak, santai saja. Orang yang mau bercerita kepada kita adalah karena dia merasa nyaman. Dan mungkin saja saat kita memberikan masukkan pada saat itu dia mengerti tapi waktu pulang dia lupa. Santai dan tenang saja karena mungkin saja kita juga pernah seperti itu. Contoh, waktu kita kecil, guru kita menjelaskan banyak hal, sepulang dari rumah kita lupa semuanya. Besoknya kita bertanya lagi ke guru tersebut. Guru tersebut dengan sabar menjelaskan ulang kepada kita. Besoknya, kita lupa lagi jadinya bertanya lagi. Gurunya agak pegal sebenarnya tapi dia tetap memberikan penjelasan. Sebenarnya, di saat itulah guru tersebut juga belajar untuk mengembangkan kemampuannya karena mungkin dia bisa menemukan cara yang lebih mudah untuk membantu muridnya.

Sama dengan kasus kita tadi, itu kesempatan bagi kita untuk belajar dan merefleksi kalau-kalau ada yang kurang tepat dari nasihat kita. Kita beri lagi contoh-contoh yang berbeda. Kalau orang itu datang lagi, jangan emosi, ini kesempatan yang sangat bagus bagi kita untuk berbuat baik melalui pikiran, ucapan, dan perilaku. Tanpa disadari, ini juga merupakan kesempatan kita untuk berdana kepada orang lain.

Salah satu tradisi Buddhis adalah pindapata. Di Singapore, mungkin tidak ada tradisi ini. Namun, di negara-negara Buddhis, pindapata sering dilakukan. Ketika seorang umat memasukkan makanan ke dalam bowl Bhante, maka ia akan mengucapkan terima kasih. Orang yang berbuat baik yang mengucapkan terima kasih, bukan yang menerima dana. Kenapa bisa begitu? Sederhanya, kalau Bhantenya tidak lewat, tidak ada kesempatan untuk berbuat baik. Kembali ke kasus nasihat tadi, itu adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Walau orangnya sama dan tanya hal yang sama, itu jelas adalah praktik langsung berbuat baik.

Pada zaman modern seperti saat ini, memberikan nasihat adalah hal yang sangat mudah karena banyak akses media sosial. Yang membingungkan malah terjadi di kehidupan kita sehari-hari ketika kita melihat atasan atau orang tua kita yang perilakunya kurang baik. Mau menasihati langsung itu kadang kala sungkan, tidak enak. Ketika menegur orang tua sendiri memberi nasihat, kadang mereka malah emosi ke anaknya. Begitu juga dengan atasan, tambah rumit. Lalu, cara yang tepat untuk memberikan nasihat bagaimana?

Cara paling mudah adalah dengan mengubah pernyataan menjadi pertanyaan. Jadi semisal awalnya kita menggunakan pernyataan seperti ini, “Waa, papa ini keliru harusnya gini gini gini...”, “Kamu itu bos saya, tapi kok kelakuannya tidak beres.” Ini hal bahaya, seolah-olah kita ini paling pandai dan yang lain kalah dengan kita. Sebaliknya, kalau kita membuat pertanyaan, kita bisa melihat pola pikir orang lain yang bisa dikembangkan. Jadi misalnya, yang punya kesalahan papanya nih, kita tahu papa salah. Tidak perlu lagi kita mengatakan bahwa papa itu gini gini gini, bisa emosi nanti papanya. Tanya saja dengan baik, misalnya tentang bisnis perdagangan, “Pa, apakah sudah benar kalau dalam kondisi seperti ini kita malah mengambil barang itu lebih banyak dari biasanya?” jadi setelah kita bertanya, biarkan papa menjawab dan dengarkan, lalu bisa bertanya lagi, “Apakah tidak mau coba ambil sedikit dulu papa atau diganti dengan barang yang berbeda?” Setelah ini, suatu waktu papanya akan bisa menerima kemungkinan dari ide yang secara tidak langsung muncul di pertanyaan tersebut dan mau mencobanya. Mau dengan siapa saja coba lakukan cara pendekatan ini, buat pertanyaan bukan pernyataan.

Pada zaman Sang Buddha pun, Sang Buddha juga sering melakukan cara serupa. Di dalam beberapa Sutta, sering kali Sang Buddha memberikan pertanyaan kepada para Bhikkhu untuk diarahkan kepada suatu kesimpulan, seperti berikut ini:

Buddha: Oh, para bhikkhu, semua ini kekal atau tidak kekal? Berubah atau tidak berubah?

Para bhikkhu: Tidak kekal, berubah-ubah Bhante.

Buddha: Kalau berubah ini penderitaan atau bukan?

Para bhikkhu: Iya, Dukkha, Bhante.

Buddha: Dukkha ini tanpa inti kekal atau tidak?

Para bhikkhu: Iya Bhante tanpa inti kekal.

Inilah yang disebut dengan Leading by Questions yang diartikan sebagai memimpin atau mengarahkan orang dengan membuat pertanyaan, kesannya bukan menggurui. Tapi kalau sebaliknya kita berucap, ‘itu salah, harus gini...’, itu seolah-olah kita menggurui. Soal memberi nasihat jika masih tetap tidak bisa diterima, sabar, berikan nasihat lagi yang berbeda.

Berbuat baik hendaknya bisa dilakukan melalui pikiran dan jasmani kita. Sebagai contoh, ketika kita melihat orang lain berjalan, dompetnya mau jatuh dan kita melihatnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengingatkan orang itu ‘awas dompetnya mau jatuh.’ Begitu saja, sudah merupakan perbuatan baik. Pas di jalan juga, kalau melihat ada paku payung di jalan, kita bisa angkat dan membuangnya ke tong sampah. Ini adalah perbuatan baik secara jasmani / fisik. Membantu orang tua menyeberang jalan juga perbuatan baik. Bermeditasi untuk orang yang sakit atau menderita itu contoh perbuatan baik melalui pikiran positif. Kalau dilengkapi dengan berdoa, ini melengkapi perbuatan baik kita melalui ucapan.

Semua hal di atas ini adalah contoh perbuatan baik yang sederhana. Kalau kita sering melakukannya, kita sudah menabung kamma baik sedikit demi sedikit. Dalam Dhamma, kita dianjurkan untuk tidak berbuat baik langsung dalam jumlah yang besar dalam satu waktu. Lebih baik kita sering melakukannya walaupun itu sedikit karena akan mengondisikan kebiasaan untuk berpikir, berucap, dan bertindak baik. Ibarat air yang menetes sedikit demi sedikit sampai suatu waktu bisa mengisi 1 tempayan penuh. Berbuat baik sekali saja dalam jumlah besar dan tidak berlanjut tidak dianjurkan.

Lalu, jika kita melihat prinsip yang disampaikan di awal ulasan tadi bahwa orang tersebut tidak menyukai membaca paritta, tapi langsung berbuat baik yang lain saja, apakah hal ini tepat? Membaca paritta tidak membutuhkan waktu yang panjang, kita ambil contoh namakara patha saja, mungkin hanya butuh waktu 2 menit. Jika dibaca pagi dan malam hanya 4 menit. 4 menit itu singkat tapi kita sudah berupaya untuk berpikir, berucap, dan berbuat baik. Namakara itu merupakan penghormatan kepada Sang Buddha. Itu dihitung hanya sehari. Kalau rutin 30 hari, sama dengan 2 jam non stop kita membaca namakara patha. Anda sudah menyicil banyak sekali perbuatan baik walau hanya per 2 menit. Akan semakin luar biasa, jika dilakukan selama setahun. Walau hanya 4 menit sehari, belum tentu saat kita beraktifitas seharian kita bisa selalu berpikiran baik, bisa juga muncul yang tidak baik. Kalau bacaannya dilengkapi dengan Sutta atau Gatha lain, maka semakin banyak cicilan kamma baik anda.

Jadi kalau masih ada yang ngomel ‘ah buat apa baca Paritta’, berarti dia belum tahu kalau baca Paritta itu berarti menabung kamma baik. Ya sama seperti kredit cicilan, sedikit-sedikit tapi berkelanjutan. Ditambah meditasi, makin luar biasa lagi. Perbuatan baik, menurut pandangan Dhamma, bisa diwujudkan dari banyak segi. Bisa saja kita mengambil contoh-contoh di atas yang pada dasarnya adalah 1 kesatuan yang tidak bisa terpisahkan (kemoralan, kerelaan, dan konsentrasi). Tidak bisa hanya mau kemoralannya saja tidak berbuat yang lain. Karena hanya dari 1 kesatuan inilah, perbuatan baik kita menjadi lengkap. Manfaatnya, setiap malam menjelang tidur, kita tidak punya penyesalan karena tiap hari kita sudah berbuat baik. Bahkan ketika kematian datang, ketika harus menutup mata dari kehidupan ini untuk terlahir di alam lain lagi, tidak akan ada penyesalan lagi karena hidup kita sudah diisi dengan perbuatan baik.

Menurut Dhamma, sekali lagi perlu ditekankan, perbuatan baik bukan untuk dilakukan sekaligus dalam jumlah besar tapi terus menerus walau hanya sederhana. Ayo kita bangkitkan semangat kita untuk terus berbuat baik karena kebaikan itu tak lain tak bukan akan kembali ke diri kita. Kebaikan itu akan memberi manfaat untuk diri kita baik dalam kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Sering-seringlah berbuat baik supaya menjadi 1 kebiasaan sehingga tidak perlu ada penyesalan dalam hidup kita. Kemanapun kita pergi, kita bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain. Kalau kita sudah menjadi sedemikian adanya, maka sesungguhnya kita sudah berhasil melakukan perbuatan baik sesuai dengan Dhamma.

Demikian yang bisa saya tuliskan dalam ulasan kali ini, semoga semua yang kita lakukan bisa demikian adanya. Semoga kita terbebas dari segala penderitaan dan bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain di sekitar kita. Jangan pernah ragu untuk berbuat baik.

Komentar

Postingan Populer