Ayo Buka Rezeki!!!
Syarat Buka
Rezeki
Diulas oleh: Upc. Indra Kurniawan
“Kalau anda ingin mendapat mawar
merah,
Anda tidak akan mendapatnya kalau
anda tidak menanam,
Ketika anda ingin mawar merah, TANAM
mawar merah!”
(YM. Uttamo MT)
Selamat
siang, sotthi hontu saudara-saudari dalam Dhamma yang berbahagia. Hari ini saya
ingin mengulas ulang topik yang menarik yaitu tentang rezeki yang disampaikan
oleh YM. Uttamo, Mahathera. Ketika seseorang memiliki viriya (semangat) dan
pengertian Dhamma, ditambah lagi dia memahami hukum sebab akibat. Ia juga tahu
hukum pikiran. Ia juga memahami sekaligus mempraktikkan kemoralan, begitu juga
dengan hukum sebab dan akibat. Pertanyaannya, kenapa seseorang itu tidak
SUKSES? Kenapa belum SUKSES?
Ada
yang bilang karena TIMBUNAN KARMA, apa benar begitu? Itu mitos salah. Orang tidak
sukses bukan karena kelahiran, shio, atau karma. Jangan punya pikiran seperti
ini, “Saya orang Blitar ya, jadi ndak bisa sukses.” Salah! Itu mitos keliru! Tidak
ada ceritanya orang gagal karena karma. Karma itu niat, niat anda mau berbuat
saat ini itu apa? Ini karma, bukan hanya soal pekara masa lampau. Lalu, kenapa
tidak sukses? Ada yang jawab malas, belum ketemu-ketemu kuncinya. Ya, kalau
begitu cari dong kuncinya! Pada kesempatan ini, saya akan mengulas kuncinya
yang telah disampaikan oleh Bhante supaya kita bisa sukses seperti sosok Bapak
Andre Wongso.
Saudara
sekalian, yang membedakan beliau dengan kita yang belum sukses adalah kesempatan.
Beliau punya kesempatan untuk sukses. Bagi kita yang belum sukses, ketika
kita lulus ntah hanya lulusan SD atau tahapan yang lebih tinggi dengan cara
bagaimanapun, bagaimana kita mencari kesempatan kita? Di dalam Dhamma,
kesuksesan dan kebahagiaan itu karena 2 hal.
Yang
pertama adalah kemauan yang keras seperti yang biasa disampaikan oleh pembicara
mengenai viriya, semangat, atau spirit, itu kemauan keras. Mencari peluang,
kaya mental, dsb. Itu adalah hal-hal yang harus dimiliki. Tetapi kesempatan
adalah faktor yang tidak bisa dilupakan. Ketika kita berusaha dengan keras, banyak
dari kita yang kadang juga meleset. Misalnya, pada saat kita mau berangkat, ban
kendaraan kempes. Pas mau panggil taxi, taxi nya penuh. Pas sudah hampir dapat
taxi, taxinya sudah mau pulang, tidak mau mengantar. Kesempatan itu kadang
sulit kita dapatkan. Kemudian, kadang ada yang memberi tahu kita ada pekerjaan
baru, kita ingin mencoba. Eh, pas mendaftar, pendaftaran sudah ditutup. Saudara-saudara,
mencari kesempatan itu tidak mudah. Di dalam Dhamma ada cara untuk membuka
kesempatan. Kalau Pak Andre Wongso lebih menjelaskan caranya beliau berjuang,
sekarang kita akan mencari kesempatan agar lebih punya waktu untuk berjuang
supaya bisa sukses seperti beliau.
Untuk
membuka kesempatan ada 1 petikan dari Anguttara Nikaya. Ada beberapa cara untuk
membuka kesempatan. Ada yang ingin sukses di dalam rumah tangga. Ada yang ingin
sukses di dalam pekerjaan, dalam perjodohan, pokok ingin sukses di apa saja. Kalau
dalam bahasa yang agak mistis yaitu ‘buka rezeki’. Mau tahu cara untuk buka
rezeki?
1. Kenapa Pak Andre Wongso bisa sukses? Acara talk show yang seharusnya bernilai puluhan juta, diberi gratis oleh beliau. Inilah kerelaan yang membuat beliau selalu terbuka rezekinya. Saat siaran di radio, beliau juga mengabdi dengan gratis. Itu sesungguhnya yang membuka rezeki beliau. Sekarang kalau kita balik ke diri kita sendiri, pernah tidak kita kasih gratis kepada lingkungan kita? Pernah tidak melakukan sesuatu tanpa biaya atau gratis kepada keluarga, tetangga, kepada agama, bangsa dan negara? Apakah pernah? Sering? Kalau sering, kok belum sukses?
Ketika kita mau memberi, sesungguhnya kita akan mendapat. Di dunia ini tanam dulu, baru panen. Tidak ada panen dulu, baru tanam. Anda ingin mendapatkan bunga mawar berwarna merah, ketika anda tidak menanam anda tidak akan pernah mendapat. Tapi ketika ingin mawar merah, tanam mawar merah! Apa yang anda perlakukan kepada orang lain itu akan kembali pada diri anda! Ini hukum sukses no 1.
Apa yang ingin
anda dapatkan, anda harus melakukan kepada orang lain. Itu adalah kerelaan. Ada
suatu saat, seorang umat Buddha yang suka sembahyang, rajin sekali. Bukan hari
kebaktian pun, sembahyang ke vihara. Kalau ke vihara dupanya besar sekali,
lebih besar dari mic. Sampai kalau dia mau pulang, Bhante meminta dia cepat
membawa dupanya keluar, kenapa begitu? Asapnya luar biasa. Tiap hari
sembahyang, tidak tahu apa yang diucapkan karena seperti orang kumur, ngedumel
bahasa inggrisnya. Kadang juga seperti orang makan kerupuk di Dhammasala. Suatu
ketika ada seorang nenek yang juga datang belakangan ke Dhammasala. Baru masuk,
nenek itu batuk-batuk. Terus terjadi percakapan antara nenek itu dengan si
umat, seperti ini:
Nenek: Eh, Nip
(seperti ponakan), dupanya bisa dikecilin kah? (memangnya AC atau radio ya
dikecilin, habis ngomong begitu si umat masih sembahyang, si nenek tanya lagi).
Umat:
Dikecilin, dikecilin, apanya yang dikecilin? Kalau kuat silakan ke sini, kalau
tidak kuat keluar saja! Tahu tidak saya lagi sembahyang? (Loo, galak sekali)
Nenek: Kamu
sembahyang pakai dupa besar begitu, lakukannya bagaimana?
Umat: Tiap
hari!
Nenek: Tiap
hari kamu sembahyang terus dengan serius, kamu mengasapi Sang Buddha tiap hari,
Buddha ndak pernah protes. Kamu loo sebentar disenggol saja, sudah marah! Bagaimana
kamu jadi murid Sang Buddha? Mestinya kalau sudah jadi murid Sang Buddha,
banyak sembahyang, kan sabar. Sekarang baru disenggol soal dupanya dikecilin,
marah? Baru dikatain gitu aja. Sang Buddha tiap hari kamu kasih dupa segitu
banyak hayoo, apa ndak napas-Nya sakit semua itu?
Saudara-saudara,
apa sebenarnya maksud cerita ini? Bahwa kadang kita tidak melakukan perbuatan
itu dengan kerelaan. Kita sembahyang maunya pakai dupa yang besar itu kenapa? Karena
sebenarnya kita ada maunya, supaya kalau pakai dupa yang besar hasilnya pun
besar. Bukan begitu. Yang benar, ketika saya tanam padi, tumbuh padi. Ketika saya
ingin mengharapkan sesuatu, saya melakukan 1 kebajikan dengan tulus (kerelaan
dalam Dhamma). Saya rela melakukan ini, bukan karena saya mau minta bayaran. Ketika
tadi anda ditanya, mau tidak berbuat baik? Mau, Bhante. Rela? Ikhlas? Jawabnya
langsung kurang mantap.
Mungkin kalau
disuruh nata kursi saja, nantinya minta bayaran. “Ayo umat Buddha, ayo, masang
kursi bantu-bantu seminar.” Jawabnya, ‘Bayar berapa dulu, Wani Piro? Kalau tidak
ada bayaran, sorry tidak mau.’ Caranya seperti ini, mau sukses? Walau sudah
lulus sekolah, kalau caranya begitu, tidak buka rezeki. Tapi, kalau pikiran
kita ‘ini untuk Dhamma’, kalau begitu ayo ayo saja menata kursi. “Loo, manusia
kan butuh tenaga, makanan minuman?” Ya beli sendiri, kenapa? Karena ini kan
untuk Dhamma, menyumbang juga untuk Dhamma. Kalau bisa punya tenaga, saya kasih
tenaga. Kalau saya punya uang, saya belikan barang. Itu adalah kebajikan. Ketika
anda berbuat baik seperti itu, buka rezeki. Sehingga suatu ketika jika ada
orang yang melihat bisa saja timbul dalam pikirannya, “Ini orang kok aktif ya,
tiap kali ada acara kok aktif, kok mau bantu ya?” Akhirnya, rezekinya, dia
ditawarin kerja sama orang yang melihat itu. Lah ini kan buka rezeki. Walaupun hanya
lulus SD bisa dapat kerjaan karena ada kerelaan untuk berbuat kebajikan.
Oleh karena
itu, saudara-saudara, bagi anda yang belum sukses di bidang apapun juga, ntah
karir, rumah tangga, pekerjaan, apa saja itu, coba anda mulai mengembangkan
kerelaan. Loo, kalau sama jodoh apa hubungannya? Jelas, mana ada kalau anda
ajak pacar bilangnya “Ayo kita ke restoran pinggir jalan, tapi kamu yang bayari
aku ya.” Perhitungan seperti ini, bagaimana mana mau jadi pacar anda. Tapi ketika
anda ngomong begini, ‘Ayo sini ku bonceng, ikut aku makan di restoran pinggir
jalan, aku yang bayar’, pasti seneng. ‘Besok kita makan di hotel berbintang,
kamu bagian bayar.’ Loo, kok begini? Bukan begini ya, tapi seharusnya “Besok
boleh di resto berbintang, aku juga yang bayar, air putihnya saja.”
Saudara-saudara,
kerelaan mau berbagi itu adalah syarat untuk buka rezeki. Setiap kali anda ada
kesulitan apapun juga, ketika anda bertemu siapapun juga, cobalah anda
mengatakan ‘Apa yang bisa saya bantu?’ Itu tandanya anda mau buka rezeki. Jadi sekali
lagi yang pertama adalah kerelaan. Apapun yang anda punya baik tenaga, ucapan,
pikiran, berikan untuk kebahagiaan makhluk lain. Berikan kebahagiaan untuk
lingkungan anda.
2. Di dalam Dhamma, untuk buka rezeki
ada juga istilahnya “menggunakan jubah”, Pabajja. Praktiknya banyak
sekali bagi orang yang ikut Pabajja Samanera 2 minggu. Manfaatnya langsung
banyak. Merelakan rambut gundul 2 minggu, pakai jubah juga. Di beberapa tempat,
di negara-negara Buddhis, kadang ada semacam tradisi bahwa ketika seseorang
sedang susah dan sebagainya, bagaimana cara mensiasatinya (di cisuak). Ada usul
coba latihan jadi Samanera 2 minggu. Betul sekali, akhirnya bisa sukses loo. “Bhante,
tapi saya ndak mau latihan itu, kan gundul nanti, terus harus bagaimana?”
Ok, penggunaan
jubah dalam hal ini adalah dalam artian simbolik. Anda tidak perlu masuk vihara
jadi bhikkhu atau Samanera. Apa maksudnya? Rambut digundul berarti kita harus
siap ketika rambut kita memutih. Sudahkah saya menjadi orang yang lebih baik? Sudahkah
saya menjadi orang yang lebih bijaksana? Ketika anda merenungkan seperti itu,
sebenarnya anda sudah menjadi seorang Samana di rumah tanpa harus cukur rambut
atau pakai jubah. Ketika anda saat bepergian masih pakai baju yang lama-lama,
kemudian anda rela, ikhlas menerima bahwa memang anda tidak perlu membeli jubah
yang baru, tidak perlu menyiapkan baju yang baru, pada saat itu anda punya
keikhlasan untuk menerima kenyataan. Itu yang membuka rezeki.
Seorang bhikkhu
menggunakan jubah kemana-mana. Ketika anda misalnya punya baju 5 atau 10 stel,
anda mulai bisa menerima kenyataan ‘ya punyaku ya ini saja, tidak perlu beli
lagi’ berarti anda bisa membedakan keinginan dengan kebutuhan. Orang yang tidak
bisa sukses kadang hanya karena memburu keingingan, tidak ingat apa yang
sesungguhnya dibutuhkan dalam kehidupan ini.
Saudara-saudara
itu tadi hanya tentang jubah, demikian juga makanan. Makanan untuk seorang
Bhikkhu hanya sekali atau 2 kali sehari, pagi dan siang sebelum jam 12. Apa
maksudnya dalam kehidupan anda sehari-hari? Ketika anda bisa menerima makanan
anda yang asin – terlalu asin, manis – terlalu manis, atau yang sedikit –
terlalu sedikit bahkan yang enak – tidak enak, maka berarti anda bisa menerima
sesuatu sebagaimana adanya. Seperti seorang Bhikkhu ketika menerima dana makan,
dia merenungkan kebajikan orang yang sudah berdana makan. Dia makan dengan
tenang dan merenungkan bahwa makanan ini hanya untuk hidup bukan untuk
bersenang-senang. Maka ketika anda melakukan hal demikian di rumah, anda tidak
mudah mengeluh ‘kenapa makanan ini kok ndak enak terus?’ Anda lebih bisa
menerima sebagai kenyataan, maka sesungguhnya anda juga buka rezeki.
Makanan dan
pakaian sudah, kemudian tempat tinggal. Seorang bhikkhu biasanya tinggal di
bawah pohon, atau di gua-gua. “Loo, vihara-vihara seperti di Balerejo dan
lainnya itu bagaimana?” itu hanya titipan. Vihara di Balerejo, Samaggi Jaya,
bukan milik pribadi seorang bhikkhu. Itu hanya dipinjam. Bhikkhu sesungguhnya sudah
menulis di notaris, kuasa balik dan hak waris. Kuasa balik artinya semasa
bhikkhu itu masih hidup, dia sudah membalikkan kuasanya sehingga dia tidak bisa
menjual atau mengubah fungsi vihara sebagai diskotik, hotel, dsb. Tidak bisa
dijual dsb. Itu dibuat di notaris beserta hak waris. Kalau bhikkhu itu
meninggal atau mungkin lepas jubah, itu juga tidak bisa dituntut atau diminta
oleh keluarganya atau bahkan menjadi miliknya, tapi semua itu kembali ke
Sangha. Jadi, seorang bhikkhu bukan pemilik vihara, hanya menjaga,
diperkenankan umat untuk menjaga vihara sampai tutup usia, hanya itu saja.
Kalau anda
kemudian bisa merelakan rumah anda dengan pikiran demikian, “oh ya rumahku mau
dipakai anakku, rumahku mau dipakai cucuku, ya suatu ketika aku akan lahir
kembali, ya sudah rumah ini untuk keluargaku”, ketika anda bisa merelakan
seperti itu, anda sebetulnya buka rezeki.
Kerelaan ini
luar biasa sekali. Tanpa harus menjadi bhikkhu, tanpa harus mencukur rambut,
anda bisa merelakan apa saja yang anda miliki. Kalau anda sudah bisa rela, anda
bisa pabajja, maka kita berlanjut ke yang ketiga.
- Merawat orang tua adalah hal yang luar biasa. Kalau dari cerita hidup Pak
Andre Wongso, beliau dari kecil sering membantu orang tuanya menumbuk
tepung dan mendapatkan doa dari kedua orang tuanya. Perbuatan demikianlah
yang membuka rezeki. Sekarang kita balik pada diri kita sendiri lagi, semua
dari kita pasti pernah punya orang tua walaupun ada di antara kita yang
belum pernah punya anak. Berarti semua dari kita yang memiliki orang tua,
apa sikap ini sudah bisa kita lakukan terhadap orang tua kita? Sudahkah
anda membantu orang tua? Sudahkah anda merawat orang tua? Sudahkah anda
membahagiakan hidup mereka? Kalau anda tidak bisa membantu orang tua
anda, minimal jangan menyusahkan mereka. Sudahkah kita melakukannya?
Dalam banyak
kesempatan, orang sulit rezekinya, sulit dapat jodoh, sulit dapat pekerjaan,
sulit dapat rumah, sering kali ada saran “Coba kamu minta maaf kepada orang
tua. Coba kamu bernamaskara, sujud kepada orang tua.” Kemudian saat orang tua
mendapatkan sujud dari anaknya, orang tua kemudian mengucapkan kata-kata yang
positif, misalnya “Ya nak, semoga kamu lancar sukses usahamu, semoga kamu
enteng jodoh, semoga kamu berbahagia, dst.” Kata-kata orang tua yang demikian
ketika anak bersujud, itu sangat manjur. Itu juga buka rezeki. Oleh karena itu,
siapa di antara anda yang orang tuanya sudah tidak ada lagi? Ayah dan ibunya
sudah tidak ada. Bagi yang kedua orang tuanya sudah tidak ada, anda bisa di
rumah mengucapkan pelimpahan jasa. Jadi anda berbuat baik atas nama ortu anda. Itu
juga buka rezeki.
Bagi anda yang
kedua orang tuanya masih ada, kesempatan yang baik untuk membahagiakan mereka. Karena
secara hukum alam, orang tua biasanya jalan lebih dulu karena mereka sudah
terlahir lebih awal. Mumpung kita masih punya kesempatan, bantulah orang tua,
bahagiakan mereka, mulailah dari sekarang.
Tunjukkan tindakan anda yang membahagiakan orang tua. Ucapan anda yang
menyenangkan, pola pikir positif yang membahagiakan mereka. Karena dengan orang
tua berbahagia, anda juga buka rezeki.
Tiga
hal ini hanya syarat minimal, sebenarnya banyak sekali cara untuk buka rezeki. Tapi untuk
kesempatan kali ini cukup 3 ini saja. Yang pertama adalah kerelaan. Apa
saja yang anda inginkan untuk dapat, lakukan kepada orang lain. Berikan kebajikan
anda dengan badan, ucapan, dan pikiran agar memberi kebahagiaan pada lingkungan
anda.
Yang
kedua adalah pabajja. Kalau anda punya kesempatan menjadi
Samanera 2 minggu, bagus. Menjadi Samanera 2 tahun, lebih bagus. Anda bisa jadi
bhikkhu 1 tahun - 2 tahun bagus. Anda bisa menjadi bhikkhu puluhan tahun ya tentu
lebih bagus. Kalau tidak bisa, jadilah pabajja di rumah. Melihat pabajja
sebagai simbol pelepasan. Pelepasan tidak melekat pada rambut anda, tidak
melekat dengan pakaian anda, tidak melekat dengan gaya hidup tertentu. Tidak melekat
pada pola makan tertentu, sehingga hasilnya anda menjadi orang yang mudah
menerima atau menjadi orang yang lebih bersyukur terhadap apa yang anda terima
dalam kehidupan sehari-hari.
Yang ketiga adalah menghormati
orang tua. Merawat orang tua. Karena dengan 3 hal ini, rezeki anda akan
terbuka, membuat anda punya kesempatan untuk sukses ketika modal anda sudah
cukup, modal pendidikan anda cukup, modal viriya atau semangat anda cukup. Kesempatan
diciptakan dengan kebajikan melalui 3 hal ini. Demikian yang bisa saya tuliskan
pada kesempatan hari ini, semoga 3 hal ini bisa kita praktikkan dengan
sungguh-sungguh sehingga hidup kita menjadi lebih berkualitas. Sabbe satta
bhavantu sukhitatta.
Komentar
Posting Komentar