Cinta Abadi

Kinnari - Kinnara

Pada kehidupan lampau, Sang Bodhisatta terlahir sebagai peri laki-laki (Kinnara: Mahasatwa setengah manusia, setengah burung) bernama Canda. Istrinya adalah peri wanita (Kinnari) bernama Candā. Waktu itu, seorang Raja Benares pergi berburu ke pegunungan Himalaya. Tampaklah oleh Sang Raja, Kinnara bersama pasangannya sedang berkeliaran ke sana kemari, membasahi dirinya sendiri dengan minyak wangi, memakan tepung sari bunga, mengenakan bunga untuk pakaian luar dan dalam, berayun dengan senangnya di tanaman merambat, bernyanyi dengan suara yang merdu.
Raja mendengar suara nyanyian ini dan ia mendekat dengan pelan, dan berdiri di tempat yang tersembunyi untuk melihat kedua peri tersebut. Tidak lama kemudian, ia jatuh cinta kepada Kinnari. “Saya akan menembak suaminya,” pikir Sang Raja, “membunuhnya, dan saya akan tinggal di sini bersama dengan istrinya." Kemudian Sang Raja menembakkan panah beracun dan berhasil mengenai Kinnara tersebut. Kinnara terluka meratap kesakitan dan berpikir bahwa ia akan segera mati.
“Menurutku ini kepergianku, darahku mengucur... Saya akan kehilangan pegangan dalam hidup, O Candā! Nafasku mulai sesak! Saya merasakan sakit, jantungku terbakar! O Candā... hatiku merindukanmu."
Kemudian ia terbaring di kursi bunga, kehilangan kesadaran, dan memalingkan kepalanya. Kinnari tidak tahu bahwa suaminya terluka, bahkan tidak tahu saat suaminya meratap kesakitan karena dimabukkan oleh kesenangannya sendiri. Melihatnya terbaring di sana dengan memalingkan kepalanya dan tidak bergerak, ia mulai bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan suaminya. Sewaktu memeriksanya, ia melihat darah mengalir dari tempat luka. Karena tidak mampu menahan rasa sedih akan kehilangan suami tercintanya, ia pun menjerit dengan suara yang keras.
“Kinnara itu pasti telah mati,” pikir Sang Raja, dan ia berjalan keluar menunjukkan dirinya. Ketika melihatnya, Kinnari berpikir, “Ia pasti penjahat yang telah membunuh suamiku tercinta!” dan dengan gemetaran ia berlari menuju bukit. Setelah berdiri di puncak bukit, Kinnari mencela Sang Raja:
“Pangeran jahat yang ada di sana!
Diriku menderita! Suamiku terluka,
Yang sekarang sedang terbaring di tanah
di bawah pohon di dalam hutan."

“O pangeran! penderitaan yang melanda diriku
melihat periku mati hari ini!"
semoga dibayar oleh ibu dan istri Anda sendiri,
Dan semoga ibu Anda berkabung untuk suaminya,
Dan semoga istri Anda berkabung untuk putranya,

Dan semoga istri Anda dapat menyaksikan
dan melihat kehilangan suami dan anak,
Karena dikarenakan nafsu, Anda melakukan
perbuatan ini terhadap suamiku yang tidak bersalah.”

Kemudian Sang Raja berusaha menenangkan Kinnari, "Jangan menangis ataupun bersedih, saya rasa kegelapan di dalam hutan telah membutakan matamu. Sebuah rumah yang megah akan memberikan Anda kerhormatan, dan Anda akan menjadi ratuku.”
“Apa yang Anda katakan ini!?” teriak Kinnari ketika mendengar perkataannya, dan dengan suara sekeras auman seekor singa, Kinnari berteriak,
“Tidak! Saya pasti akan bunuh diri!
Saya tidak akan menjadi milikmu,
Orang yang telah membunuh suamiku yang tidak berdosa
dan semuanya dikarenakan nafsu kepada diriku.”

Ketika mendengar bahwa cintanya ini tidak terbalas, Sang Raja kemudian berkata, “Tetaplah hidup jika Anda mau. O Engkau yang takut! Pergilah ke Himalaya, makhluk yang memakan tumbuh-tumbuhan, dan menyukai pohon di dalam hutan”
Setelah mengucapkan perkataan itu, mau tidak mau Sang Raja pergi. Segera setelah mengetahui kepergian Sang Raja, Kinnari mendatangi dan memeluk suaminya, membawanya ke puncak bukit, dan membaringkannya di tanah yang rata di sana. Dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuannya seraya meratap, "Apa yang harus kulakukan, O periku! di saat sekarang saya tidak bisa melihatmu lagi?"
Kemudian sewaktu meletakkan tangan suaminya di dadanya, Kinnari merasakan bahwa tangannya itu masih hangat. “Suamiku masih hidup!” pikirnya, “Saya akan mencemooh (menghasut) para dewa sampai saya dapat menghidupkannya kembali!” Kemudian ia berteriak dengan keras, “Apakah tidak ada satu dewa pun yang memimpin dunia ini? Apakah mereka semuanya sedang berada dalam suatu perjalanan? Atau mati sebelum petualangan mereka sehingga tidak dapat menyelamatkan suamiku!”
Disebabkan oleh kekuatan dari penderitaannya, tahta Dewa Sakka menjadi panas. Setelah menyelidiki, ia mengetahui penyebabnya. Dengan mengubah wujudnya menjadi seorang brahmana, ia mendekat, dan dari sebuah kendi air ia mengambil air yang kemudian dipercikkan ke tubuh Kinnara. Pada waktu itu juga, racun berhenti bereaksi, warna tubuhnya kembali menjadi normal, ia tidak tahu banyak hal tentang apa yang terjadi selain tentang dimana letak lukanya. Kinnara kemudian berdiri dengan cukup baik. Melihat suami tercintanya sembuh, Kinnari bersujud di kaki Dewa Sakka dan melantunkan pujiannya,
“Terpujilah, brahmana suci!
yang telah memberikan kepada istri yang tidak berdaya ini
Suami tercintanya, dengan memercikkan
air kehidupan kepadanya."

“Mulai dari sekarang, jangan turun dari Gunung Bulan (tempat tinggal Kinnara-Kinnari) dan pergi ke tempat yang dihuni manusia, tetaplah di sini.” Dua kali Dewa Sakka menasihatkan ini dan kemudian kembali ke tempat kediamannya sendiri. Kinnari berkata kepada suaminya, “Mengapa kita harus tetap di sini berada dalam bahaya? Ayo, mari kita pergi ke Gunung Bulan,”
“Mari kita pergi kembali ke gunung itu,
dimana terdapat sungai-sungai indah yang mengalir,
Sungai-sungai yang ditumbuhi dengan bunga:
Tetap tinggal di sana seumur hidup,
di saat angin sepoi-sepoi
Berbisik pada ribuan pohon
Menyenangkan dengan perbincangan waktu yang bahagia.”

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru berkata: “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau, wanita itu mengabdi dan setia kepada diriku.” Kemudian Beliau mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu Anuruddha adalah raja, Ibu Rahula (Yasodhara) adalah Kinnari yg bernama Candā, saya sendiri adalah Kinnara.”
*di-edit dan disesuaikan supaya enak bacanya..

Komentar

Postingan Populer