Setitik Pencerahan
Setitik pencerahan tentang agama
Buddha
Sudah sekitar 15 tahun mungkin saya
mengenal ajaran Buddha. Tapi, saya akui, saya kagum dengan ajaran ini.
Mempelajari ajaran Buddha bukan hal yang bisa dilakukan dalam sekejap. Ajaran
Buddha itu sendiri banyak membahas soal kehidupan, karma, tumimbal lahir, dan
masih banyak lagi. Di lain hal, selama lebih kurang 15 tahun ini saya belajar
agama Buddha, masih banyak hal yang harus saya pahami. Masih banyak hal yang
masih ingin saya pelajari dan tanyakan pada para bijaksana yang lebih mengerti
akan ajaran Buddha. Ya, tidak akan ada habisnya waktu untuk terus belajar
ajaran Buddha.
Sebagai umat
awam, saya mulai merasakan kenyamanan yang saya cari-cari dalam hidup saya ketika
saya belajar ajaran Buddha. Pelan-pelan, saya sadari bahwa banyak hal yang bisa
saya pelajari tentang ajaran ini.
Banyak orang
yang mungkin bertanya-tanya apa sih sebenarnya yang kita pelajari dalam ajaran
tersebut. Apa sih sebenarnya ajaran Buddha? Apakah ajaran Buddha itu
mengajarkan kita untuk menyembah patung-patung saja? Apa sih yang menjadi dasar
dan tujuan ajaran Buddha?
Sore hari
ini, saya tiba-tiba ingin kembali mempelajari sejenak tentang dasar-dasar agama
Buddha. Tidak ada salahnya mungkin bila saya men-sharingkan apa yang saya
dapatkan. Tidak ada maksud untuk menggurui dikarenakan saya pun masih harus
banyak mempelajari agama Buddha.
Banyak dari
saudara-saudara saya atau teman saya yang non-Buddhis bertanya pada saya. Apa
sih yang kamu pelajari dari Buddha? Apa dalam agama Buddha kamu ‘diwajibkan’
untuk terus melakukan pemujaan pada dewa atau patung-patung? Bagi saya, pikiran
semacam itu wajar-wajar saja ditanyakan karena pada dasarnya ada beberapa hal
pokok yang berbeda antara satu agama dengan agama lain.
Agama Buddha
bukanlah sebuah agama dalam pengertian kata yang di mengerti secara umum,
karena ia bukan ‘suatu system kepercayaan dan pemujaan yang disebabkan karena
adanya Dewa’. Agama Buddha tidak menuntut kepercayaan yang membuta dari para
pengikutnya. Karena itu kepercayaan membuta disingkirkan dan diganti
‘kepercayaan yang berdasarkan ilmu pengetahuan’. Dalam pengertian ini,
wajar-wajar saja jika para umat Buddha masih memiliki keragu-raguan tentang
Dhamma.
Umat Buddha
hendaknya mengartikan kepercayaan layaknya seperti seorang pasien dalam
menghormati seorang dokter yang terkemuka, atau seorang murid yang
memperhatikan gurunya. Seorang umat Buddha tidak berpikir bahwa ia dapat
mencapai kesucian hanya dengan mencari perlindungan Sang Buddha atau dengan
percaya membuta pada Beliau. Berbicara apa adanya, seseorang tidak dapat
mensucikan maupun mencemarkan orang lain. Sang Buddha, sebagai Guru, hanya
sebagai penolong, tetapi kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap kesucian
kita.
Dalam
Dhammapada Sang Buddha mengatakan:
‘Oleh
diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri seseorang menjadi tercemar.
Oleh diri sendiri
kejahatan dihindarkan; oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Kesucian dan Kekotoran
tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun dapat mensucikan orang lain.’ (V.165)
Seorang umat Buddha bukan budak
sebuah buku atau individu. Ia tidak akan mengorbankan kebebasan berpikirnya
dengan menjadi seorang pengikut Sang Buddha. Ia sepenuhnya bebas untuk
menggunakan kemauan bebasnya dan mengembangkan pengetahuannya bahkan sampai
tingkat pencapaian KeBuddhaan oleh dirinya sendiri; semua orang memiliki benih
KeBuddhaanya sendiri.
Dalam agama
Buddha, kita mengenal suatu kebenaran yang disebut Pengertian Benar (Samma
ditthi). Nasihat Sang Buddha untuk para pencari kebenaran adalah untuk tidak
menerima saja segala sesuatu karena kekuasaan orang lain tetapi menggunakan
alasan mereka sendiri dan memutuskan bagi diri mereka sendiri apakah sesuatu
itu benar atau salah.
Selanjutnya,
walaupun diakui bahwa tidak ada kepercayaan membuta dalam agama Buddha,
seseorang boleh bertanya apakah tidak ada pemujaan terhadap patung-patung Sang
Buddha dan pemujaan terhadap berhala di antara umat Buddha.
Umat Buddha
tidak memuja sebuah patung karena mengharapkan pertolongan duniawi atau batin,
tetapi memberikan hormat kepada mereka untuk apa yang diwakilinya. Patung
merupakan symbol untuk mengingat dan menghormati para Buddha. Itu merupakan
tanda terima kasih, mengenangkan kebajikan Sang Buddha dan kalaupun menggunakan
bunga untuk pemujaan itupun hanya untuk merenungkan kesementaraan bunga.
Lalu, yang
ingin saya sharingkan adalah apakah agama Buddha itu suatu system etika /
susila? Banyak orang berpikir, bahwa yang diajarkan dalam Buddhisme adalah
moralitas saja. Sebenarnya, itu kurang tepat. Moralitas / Kesusilaan (Sila)
hanya langkah awal saja dan merupakan suatu cara menuju suatu cara akhir,
tetapi bukan suatu akhir itu sendiri. Mengerti benar tentang Sila saja tidak
membawa Pembebasan atau kesucian sempurna seseorang. Di atas moralitas masih ada
yang namanya Kebijaksanaan (Panna). Dasar agama Buddha adalah Moralitas, dan
kebijaksanaan adalah puncaknya. Kedua kebajikan yang saling melengkapi ini
laksana sepasang sayap seekor burung. Kebijaksanaan bisa diibaratkan layaknya
mata manusia; moralitas seperti kakinya.
Dari
sepercik dasar yang saya babarkan ini, lalu sebenarnya apakah agama Buddha itu
sendiri? Yang pasti agama Buddha bukan suatu jalan metafisika maupun suatu
jalan ketaatan pada tata cara ritual.
·
Bukan
keragu-raguan maupun dogmatis.
·
Bukan
keabdian maupun kenihilan.
·
Bukan
penyiksaan diri maupun pemuasan diri.
·
Bukan
pesimisme ataupun optimism tapi realisme.
·
Bukan
semata-mata duniawi maupun di atas duniawi.
·
Bukan
mementingkan hal-hal luar tetapi memikirkan ke dalam.
·
Bukan
theo-sentris tetapi homo-sentris.
Mungkin, cukup sulit bagi kita
memahami arti-arti yang ada di atas. Singkatnya, dalam bahasa Pali, istilah
agama Buddha adalah Dhamma, yang secara harafiah, berarti apa yang menegakkan
atau menyokong (dia bertindak sesuai dengan prinsip yang demikian mencegahnya
jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan). Dhamma ialah hal yang nyata. Dhamma
ialah Ajaran Kenyataan. Dhamma adalah suatu alat pembebasan dari penderitaan
dan pembebasan itu sendiri.
Ajaran Buddha memang tidak mudah
untuk dipelajari. Banyak hal yang kelihatannya mendasar tapi butuh
kebijaksanaan untuk memahaminya. Namun, dalam hal ini Sang Buddha selalu
mengharapkan umatnya untuk terus belajar. Beliau berkata kepada para muridnya
‘(Dengan menggenggam daun) O, para Bhikkhu, apa yang telah saya ajarkan pada
kamu, sebanding dengan daun-daun yang ada dalam tangan-Ku, dan apa yang belum
Ku-ajarkan padamu, sebanding dengan daun-daun di hutan ini.’
Dengan bekal pengetahuan ini, marilah
kita memulai mengubah cara berpikir kita dengan mengikuti seni berpikir
Buddhis. Tujuan dari mempelajari agama Buddha, adalah untuk menciptakan
keindahan itu sendiri. Keindahan dari apa yang kita lakukan itulah yang akan
mendatangkan kebahagiaan. Sabhe Satta Bhavantu Sugitatta. Semoga semua makhluk
berbahagia. Sadhu3x.
‘Indah itu mahal tapi mahal belum
tentu indah’
(YM. Bhante Dhammasubho)
Komentar
Posting Komentar