Sadar dalam Meditasi
Sadar dalam Meditasi
Oleh: Indra Kurniawan
Sebelumnya
terimalah salam Dhamma dari saya, Sotthi Hottu. Pada kesempatan ini, saya ingin
menuliskan sedikit apa yang saya pelajari dari kelas meditasi yang saya ikuti.
Saya mengakui saya juga baru pemula dalam hal meditasi, banyak hal yang harus
saya pelajari. Tapi, betapa bahagianya saya, bahwa pada hari Kamis 3 Maret 2016
saya mengikuti latihan meditasi yang dipimpin langsung oleh Samanera Aggasilo
di Yayasan Samaggi Viriya Malang.
Meditasi,
disaat kita mendengar kata ini, banyak dari kita yang mengartikan bahwa
meditasi itu adalah proses dimana kita duduk, menegakkan badan, memejamkan mata
dan diam dalam beberapa waktu. Ada juga yang berkata bahwa meditasi itu yang
ada adalah konsentrasi penuh terhadap suatu objek. Sayang sekali, pengertian di
atas ini belum sepenuhnya benar. Tapi, tidaklah apa-apa, tiada gading yang tak
retak, setiap orang bisa saja memiliki pengetahuan atau pandangan salah, tapi
alangkah indahnya bila kita bisa belajar dari pengalaman kita. Meditasi, dalam
ajaran Buddhis, terdiri dari 2 hal penting, yaitu Satthi serta Samadhi. Satthi
ialah yang kita sebut dengan Kesadaran. Sedangkan Samadhi ialah konsentrasi itu
sendiri. Dalam proses meditasi itu berjalan, tujuan utama kita bukanlah berkonsentrasi
keras terhadap suatu objek sampai-sampai raut muka kita merengut. Tidak juga
kita dianjurkan hanya untuk duduk tenang dan diam saja dalam beberapa saat, itu
sama saja dengan tidur. Dalam prosesnya, meditasi itu bertujuan untuk melatih
kita untuk sadar. Pertanyaannya, sadar akan apa?
Segala
proses yang terjadi dan dilakukan oleh kita sebagian besarnya disertai dengan
kesadaran. Dalam meditasi, kita pun diharapkan untuk tetap sadar terhadap
segala proses yang akan muncul di pikiran kita. Pada saat bermeditasi dengan
objek perasaan dalam batin kita, kita bisa melihat secara sadar perasaan apa
yang akan muncul nantinya. Jika kita sudah sadar, maka akan timbul dengan
sendirinya konsentrasi dalam pikiran kita. Tapi disaat kita berkonsentrasi,
belum tentu kita sadar. Kok bisa begitu??? Samanera menjelaskan proses ini
dengan sebuah contoh riel, ketika seorang murid belajar dengan penuh
konsentrasi, namun ketika ujian hasilnya jelek. Kenapa bisa begitu? Ya, itulah
sebab tidak adanya kesadaran. Jika si murid itu sadar bahwa ia sedang belajar
untuk sebuah ujian dan akhirnya timbul konsentrasi yang baik, maka hasilnya pun
akan jauh lebih baik.
Kembali lagi
ke hal utama kita yaitu meditasi, meditasi dengan objek perasaan dalam batin
mungkin saja bisa menimbulkan kemarahan dalam pikiran kita. Pertanyaannya, mau
diapakan kemarahan itu? Apakah dilawan? Apakah dibiarkan saja? Jawabannya mudah
sekali. Kembali ke soal kesadaran, jika memang muncul kemarahan ketika kita
bermeditasi, sadarilah memang telah muncul kemarahan. Kemarahan yang muncul
dalam diri kita tidak bisa kita lawan begitu saja. Karena ketika kita mau
melawan atau menekan kemarahan kita, itu tiada gunanya, di suatu saat layaknya
bom waktu akan terjadi ledakan yang mungkin lebih besar. Dalam Agama Buddha, segala
sesuatu terjadi melalui proses. Jika ada akibat, pasti diawali oleh sebab.
Begitu juga dengan kemarahan, kemarahan tidaklah timbul begitu saja. Emosi atau
kebencian timbul karena suatu faktor yang kita kenal sebagai Dukkha atau
penderitaan.
Emosi yang tidak bisa terkontrol
dapat menjadikan kita stress. Stress yang berkelanjutan bisa menyebabkan kita
jadi orang gila. Orang gila tampaknya sebagai orang yang menderita. Tapi tunggu
dulu, coba kita pikirkan, sebenarnya kita yang normal ini benar-benar bahagia
atau merekalah yang gila yang bahagia? Ketika kita melihat orang gila diluar
sana tanpa rumah, tanpa sandal, kita biasanya merasa jijik akan orang-orang
tersebut. Tapi lucunya, walaupun mereka seperti itu, mereka itu lebih bahagia
daripada kita yang normal. Kalaupun mereka tidak punya rumah, mereka tidak
punya sandal, kehujanan, sakit, mereka tetap diam. Tidak ada penyesalan, tidak
ada keluhan. Tapi bayangkan ketika kita kepanasan, kehujanan lalu sakit, kita
sering kali mengeluh. Yang ada bukan kebahagiaan yang kita dapat, tapi
penderitaan yang bertambah 2 kali lipat. Jadi, yang perlu diingat, ketika kita
marah dan kita meluapkan emosi kita, kita itu sebenarnya yang ‘gila’.
Berhubungan dengan emosi atau kemarahan, ada sebuah kasus nyata dimana setiap orang
yang marah pasti ingin menekan kemarahan itu dengan berbuat cinta kasih. Apakah
ini tindakan yang tepat???
Seperti yang saya tulis di atas sana,
kemarahan yang muncul dalam diri kita bukan untuk dilawan. Bayangkan saja,
ketika kita emosi besar, apakah masih mungkin kita memikirkan soal cinta kasih?
Contoh nyatanya, ketika orang bertengkar, terjadi pukul memukul atau baku
hantam, dalam hal ini tiada yang namanya kesadaran. Yang ada adalah konsentrasi
atas bagaimanapun caranya kita harus bisa memukul lawan kita. Disaat kita
berkonsentrasi seperti itu, apakah mungkin muncul kesadaran untuk menyalurkan
cinta kasih?
Kita bisa mengilustrasikan kesadaran
dan pikiran itu seperti saat kita menonton tv. Pikiran itu adalah TV dan
kesadaran adalah kita yang menonton. Kita melihat dari mata kita sendiri apapun
yang ditayangkan oleh TV itu. Sama juga halnya dalam meditasi, dengan
kesadaran, kita bisa melihat perasaan apapun yang akan muncul dalam pikiran
kita. Jika memang yang muncul kemarahan, seperti yang saya bilang, sadari
proses asal muasal munculnya kemarahan. Ya, emosi atau kebencian itu timbul
karena Dukkha atau penderitaan. Dengan menyadari hal ini, maka kemarahan bukan
menjadi hal yang negative lagi. Ketika muncul kemarahan, kita sadar ada
kemarahan, dan itu akan menjadi sebuah kebenaran. Dalam agama Buddha, kita
belajar mengenai Dhamma. Dhamma secara umum diartikan sebagai Ajaran Sang
Buddha. Tapi dalam hal ini, Dhamma adalah kebenaran. Maka ketika kita menyadari
bahwa kemarahan muncul karena Dukkha dan itu benar, maka Kemarahan adalah
Dhamma.
Berhubungan dengan Dhamma itu
sendiri, ada suatu pemahaman universal yang telah diajarkan oleh Sang Buddha
yaitu anicca, anatta, dan dukkha. Sang Buddha mengajarkan segala sesuatu yang
ada di dunia ini akan lenyap. Ya ini adalah sebuah kebenaran. Ketika kita telah
memahami konteks tersebut, kita seharusnya bisa menyadari dengan seharusnya
kemarahan itu juga akan lenyap. Maka tiada yang perlu dikhawatirkan jika timbul
kemarahan atau kebencian dalam diri kita, karena hal-hal tersebut akan lenyap
juga. Kita sadar akan suatu hal yang berupa kebenaran maka berarti kita sadar
akan Dhamma itu sendiri. Dhamma bukanlah hanya sebagai teori, untuk membuktikan
suatu kebenaran maka kita butuh sebuah tindakan yaitu praktik. Begitu juga untuk
memiliki kesadaran yang baik pada saat meditasi, kita butuh berlatih dan
berlatih.
Sang Buddha pernah menyatakan, bahwa
‘Apapun yang Saya katakan pada anda ini tidaklah harus anda percayai tapi anda
boleh membuktikan semuanya dengan kebijaksanaan yang anda miliki’. Saya rasa,
kebijaksanaan pun akan timbul karena adanya kesadaran. Oleh karena itu,
berlatih meditasi bukanlah berarti harus mengosongkan semua pikiran kita.
Bukanlah berarti harus duduk diam konsentrasi penuh sampai muka anda merengut.
Bukan juga ketika kemarahan muncul anda menjadi jengkel dan menghentikan
meditasi anda. Bukan juga ketika anda merasakan kemarahan, anda berusaha
menekan kemarahan dengan menimbulkan cinta kasih. Walaupun anda berusaha
sekeras daya menimbulkan cinta kasih ketika anda marah besar, tidak akan timbul
yang namanya cinta kasih. Meditasi tidak lain adalah melatih kesadaran, jadi
mau tidak mau apapun yang akan muncul saat anda melakukan meditasi, hadapilah
semua itu dengan penuh kesadaran. Dengan sadar, maka semuanya akan menjadi
suatu kebenaran. Jika segala sesuatu menjadi kebenaran, maka dengan kata lain
anda sudah menemukan Dhamma itu sendiri. Sekian sharing dari saya, sabhe satta
bhavantu sukhitatta, sadhu sadhu sadhu.
“Segala sesuatu yang baik, segala
sesuatu yang tidak baik, segala sesuatu yang bukan baik, segala sesuatu yang
bukan tidak baik; itulah yang disebut Dhamma. Dhamma ialah kebenaran. Sadar,
sadar, dan sadarlah maka anda akan menemukan Dhamma itu sendiri. Melatih
Meditasi Melatih Kesadaran”



Komentar
Posting Komentar