Tahu Diri ( Sadar Diri )
TAHU DIRI
(Sadar Diri)
(Artikel bersumber dari Dhammadesana Bhante Sucirano)
Sebelumnya, terimalah salam Dhamma
dari saya, Namo Buddhaya. Tak terasa sebulan lagi kita akan memperingati suatu
peringatan Agung yang hanya bisa kita peringati setahun sekali, yaitu Waisak.
Bagi vihara-vihara Theravada masa-masa sebulan sebelum waisak begitu penting,
karena dari waktu-waktu inilah kita bisa mengundang beberapa Bhante untuk
memberikan wejangan dalam acara Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD). Bagi saya,
momen sebulan ini adalah momen special yang langka dan membahagiakan. Langka
karena hanya setahun sekali. Membahagiakan karena saya bisa bertemu banyak
sekali Bhikkhu-Bhikkhu yang hanya saya tahu namanya saja selama ini. Sang
Buddha dalam Mangala Sutta memberikan suatu ajaran yang bagus sekali, yaitu
bahwa ‘berkumpul dengan orang bijaksana itulah berkah utama’.
Hari
Jumat, tanggal 22 April 2016, Yayasan Samaggi Viriya memulai acara SPD-nya
dengan dihadiri oleh Bhante Sucirano. Pada kesempatan ini, beliau membawakan
ceramah yang cukup membuka pikiran kami dengan tema Tahu Diri. Pada kesempatan
ini, saya akan mencoba menuliskan kembali apa saja yang disampaikan beliau
dengan kata-kata saya sendiri. Selama ini, banyak manusia yang bangga dengan
segala yang dimiliki ntah itu sifat atau kekayaan. Dibalik kebanggaan tersebut,
kadang kala ada suatu aspek yang kelihatannya simple namun terlupakan yaitu
sifat tahu diri atau sadar diri. Tanpa adanya sifat tahu diri ini, seharusnya
yang ada bukan kebanggaan tapi rasa malu.
Dalam
ajaran Buddha, dalam aspek apapun ntah itu meditasi atau kehidupan sehari-hari,
kita dianjurkan untuk dapat memiliki sati (kesadaran) dan panna
(kebijaksanaan). Sadar akan apa? Sadar akan watak kita sendiri. Sadar dengan
kelebihan dan dapat menerima kekurangan kita sendiri. Lalu, bagaimana dengan
kebijaksanaanya? Dengan melatih kesadaran, maka anda pun secara bertahap akan
menjadi orang yang bijaksana. Kembali lagi ke topik utama kali ini, tahu diri,
tahu diri berhubungan dengan watak atau carita. Arti lain dari carita yaitu
sifat, perangai, atau kebiasaan. Lebih jelasnya, carita adalah sifat / watak
yang menonjol dalam diri seseorang. Pertanyaanya, sejauh manakah anda tahu atau
sadar akan watak anda?
Tahu
diri bukanlah hal yang sepele. Jika anda tidak tahu diri dalam kurun waktu yang
lama, bisa saja hasil yang tidak enak terjadi. Menurut ajaran Buddha, ada 6
jenis watak / carita:
1.
Ràga-carita (sifat serakah, bernafsu)
2.
Dosa-carita (sifat pemarah, pembenci)
3.
Moha-carita (sifat bodoh, ketidaktahuan)
4.
Vitakka-carita (sifat khawatir, gelisah,
cemas)
5.
Saddhà-carita (sifat penuh keyakinan)
6.
Buddhi-carita (sifat intelek, pintar)
Dalam artikel yang pernah
saya tulis, lahir itu adalah awal dari penderitaan dan mati hal yang pasti.
Namun, sebenarnya apa sih penyebab penderitaan itu? Penyebab utama penderitaan
itu kemelekatan, semakin anda melekat pada suatu hal jika hal itu lenyap anda
akan menderita. Tapi, di balik itu ada 3 faktor pendukung yang menyebabkan
penderitaan, yaitu Ràga / lobha, dosa, dan moha. Jika diartikan, keserakahan,
kebencian, dan kebodohanlah dalam watak manusia itu sendiri yang menyebabkan
penderitaan. Jadi kalau sudah tahu soal hal ini, apakah anda masih tetap
menyalahkan orang lain kalau anda menderita?
Bicara soal watak, tiada
orang yang tahu bagaimana diri kita sebenarnya selain diri kita sendiri. Ketika
misalnya kita sudah dicap jelek oleh orang lain, solusinya hanya ada dalam diri
kita yaitu bagaimana kita bisa sadar dan memperbaiki watak kita. Tapi
masalahnya, selama ini apakah kita hidup dengan penuh kesadaran? Apakah kita
memiliki sati dan panna untuk tahu atau sadar akan watak kita? Orang lain bisa
saja menilai watak anda dengan beberapa cara, seperti:
·
Mengamati
gerak-gerik / perilaku
·
Gaya
hidup
·
Makanan
kesukaan
Jika kita melihat 6 macam carita itu,
nomor 1- 4 bisa dianggap sebagai watak negative, dan nomor 5 – 6 sebagai watak
positif. Tapi jangan senang dulu, watak positif dan negative dalam 6 macam
carita itu memiliki hubungan. Seseorang dengan Ràga-carita menunjukkan
persamaan sifat yang umum dengan Saddhà-carita. Begitu juga dengan Dosa-carita dan Buddhi-carita serta Moha-carita dan Vitakka-carita. Penjelasannya seperti di
bawah ini.
Ciri-ciri
orang dengan Ràga-carita dan Saddhà-carita:
1. Biasanya
lembut dan santun
2. Umumnya
bersih dan rapi
3. Menyukai
rasa manis, beraroma, dan makanan yang lunak
Perbedaan
sifat di antara keduanya:
v Seseorang
dengan Ràga-carita penuh nafsu, melekat pada lima kesenangan indrawi, sangat
liar, licik, pelit, sombong dan serakah.
v Sebaliknya
seseorang dengan Saddhà-carita lebih dapat dipercaya dan jujur, murah hati suka
berderma, taat, setia, hormat kepada Tiratana serta gemar mendengarkan uraian
Dhamma.
ü Orang
dengan ràga-carita disarankan untuk meditasi dengan berbagai obyek yang
menjijikkan sebagai penangkal
Apa yang dimaksudkan dengan meditasi dengan objek
menjijikkan? Contoh, untuk sifat serakah untuk urusan makanan, ada orang yang
berlatih mengurangi nafsu serakah dengan makan makanan lalu mengeluarkan lagi
dan menelannya lagi berulang kali. Dengan cara ini, nafsu serakah anda akan
terkikis. Serakah bisa digambarkan dengan serakah akan makanan atau pun posisi
kedudukan. Yang perlu diingat, mempertahankan sifat serakah bukanlah suatu
solusi yang tepat. Serakah dapat menghancurkan diri anda sendiri. Serakah yang
berlebihan adalah penyebab utama kemelekatan. Ketika anda tidak bisa lepas dari
kemelakatan, anda akan terus terlahir dalam 31 alam kehidupan. Penderitaan akan
terus berputar dalam hidup anda. Sifat penuh keyakinan pun tidak selamanya
bagus jika direalisasikan dengan kurang tepat.
Ciri-ciri orang dengan Dosa-carita dan
Buddhi-carita:
1. Umumnya
kasar dan kurang sopan dalam tingkah laku
2. Ceroboh
dan tidak rapi, tidak disiplin
3. Menyukai
rasa pedas, pahit, asam, asin.
4. Tidak
suka dengan pemandangan dan suara-suara yang tidak menyenangkan dengan
mengeluarkan kata kasar, kebencian dan kegusaran.
Perbedaan
sifat di antara keduanya:
v Keduanya
memiliki perbedaan sifat yang mencolok yaitu:
ü Seseorang
dengan Dosa-carita selalu menunjukkan sifat dendam, iri, suka mengumpat, sombong
dan keras kepala.
ü Sedangkan
orang dengan Buddhi-carita:
1. Bebas
dari rasa dendam, cemburu, dan mudah menerima nasihat orang lain.
2. Melakukan segala sesuatu dengan penuh
perhatian serta kebijaksanaan.
3. Siap
belajar dari orang yang bijaksana.
4. Cukup
sadar dengan kehidupan mendatang, oleh karena itu dia suka melakukan perbuatan
baik untuk memenuhi parami.
ü Orang
dengan dosa-carita harus berlatih meditasi mettà bhàvanà secara teratur.
Marah
bukan hal yang baik. Mengurangi sifat pemarah adalah dengan berlatih
memancarkan cinta kasih. Namun, melatih cinta kasih pun harus dilakukan dengan
tepat. Ada orang yang percaya bahwa dengan mengucapkan ‘sabhe satta bhavantu
sukhitatta’ maka kemarahannya akan lenyap adanya. Namun, ada pula yang ekstrim
yaitu dengan menempelkan stiker dengan kata-kata tersebut ke seluruh bagian
rumah untuk mengingatkan dirinya bahwa ia tidak boleh marah. Namun, pada
akhirnya beliau tetap saja tidak bisa menghilangkan sifat jelek tersebut.
Jika
timbul perasaan marah dalam diri kita, ‘melenyapkan’ atau bahkan ‘menekan’
kemarahan tersebut bukanlah hal yang tepat. Marah yang ditekan sementara akan
meledak lebih kuat layaknya bom waktu. Seperti yang telah saya tulis di salah
satu artikel saya berjudul ‘Sadar dalam Meditasi’, munculnya suatu perasaan
ketika kita berlatih meditasi adalah suatu yang wajar. Tugas kita cukup mudah
yaitu sadar. Bukannya menekan perasaan itu sampai hilang, itu hal yang sia-sia
saja. Ya, kuncinya hanya sadar. Sadar akan perasaan yang muncul, sadar akan
sebab musabab timbulnya perasaan tersebut. Selain itu, sadar pula bahwa anda
sedang bermeditasi karena kalau tidak berarti anda ketiduran. Ketika anda sadar
dalam kurun waktu tertentu, maka akan terpupuk konsentrasi. Ketika anda bisa
menemukan konsentrasi serta kesadaran disitulah anda menemukan kebenaran yang
berupa Dhamma itu sendiri.
Pintar,
menurut saya, pintar yang baik adalah pintar yang disertai kebijaksanaan.
Menjadi bijaksana, anda menjadi tahu apa yang harus anda lakukan atau yang
tidak boleh anda lakukan. Belajar dan berkumpul dengan orang yang bijaksana
juga merupakan berkah utama.
Ciri-ciri orang dengan Moha-carita dan Vitakka-carita:
1. Selalu bersekutu dengan ketidaktahuan, khayalan,
kebingungan dan kelalaian.
2. Sulit
membedakan antara benar dan salah; baik dan buruk.
3. Tidak
mampu membuat keputusan sendiri, selalu mengikuti pendapat orang lain dalam
mengkritik dan memuji orang lain.
4. Mereka
tanpa sati dan panna.
5. Hanya
membuang waktunya dengan bermalas-malasan dan selalu ragu-ragu.
6. Mereka
adalah korban dari kemalasan dan ketumpulan, sehingga sulit untuk melakukan
perbuatan baik atau yang bermanfaat.
ü Orang
dengan moha-carita harus sering berdiskusi dengan orang bijaksana agar moha
bisa dikikis.
ü Mereka
juga seharusnya berlatih meditasi ànàpànasati.
Kata
banyak orang, kebodohan sumber kegagalan. Parahnya lagi, kalau memiliki sifat
ini tapi anda tidak sadar atau tidak tahu diri dan mempertahankan terus
kebodohan itu mau bagaimana lagi. Orang bodoh sudah dinilai tidak baik apalagi
orang bodoh yang tidak mau berubah. Berubah itu tidak enak. Berubah itu
menyakitkan kadang kala. Namun, berubah menjadi lebih baik manfaatnya sangat
banyak. Mau tidak mau, orang bodoh harus mau belajar dari yang lebih bijaksana.
Tapi sayangnya, dalam kenyataannya, orang itu punya yang nama kerennya ‘pride’.
Itulah yang menyebabkan orang bodoh tetap bodoh.
Menggambarkan
orang bodoh itu cukup mudah. Ketika dalam suatu pembicaraan, kadang kala kita
menemukan orang yang belum selesai diberitau menjawab ‘sudah tahu’. Sayangnya,
apa yang dia lakukan pada kenyataannya tidak ada yang benar dan bermanfaat.
Menghubungkan vitakka-carita dan moha-carita adalah hal yang tepat. Orang yang
bodoh cenderung gelisah atau takut dalam membuat keputusan.
Seperti
yang tertulis, salah satu cara yang disarankan yaitu berlatih
meditasi ànàpànasati. Untuk memperjelas yang dimaksud ànàpànasati yaitu objek
keluar masuknya napas. Menggunakan objek ini bukan berarti kita memaksakan
konsentrasi dengan napas yang dibuat-buat, yang ada kita yang sesak napas.
Meditasi bukan memaksakan konsentrasi tapi membiarkan segala sesuatu apa adanya
dengan kesadaran. Meditasi yang rutin dilakukan dapat mengikis kegelisahan kita
karena pikiran kita akan jadi tenang. Jika kita tidak gelisah, maka satu hal
buruk dari watak kita sudah terkikis.
Dalam
Dhammapada dijelaskan bahwa:
Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan
bijaksana; tetapi orang bodoh yang sombong dan menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.
(Syair 63 Bàla Vagga, Dhmp).
Apa yang
berbahaya bagi kita jika kita terlalu lama mengikuti watak negative kita?
Dibenci orang kah? Jika hanya dibenci, mungkin itu masih bisa diperbaiki.
Namun, dalam suatu kebiasaan yang sudah terlalu sering diikuti maka akan muncul
suatu kecenderungan (vasana). Jika orang sudah mengembangkan keempat macam
sifat jelek dan tidak berusaha mengubahnya, kecenderungan (vasana) buruk akan
terus menguasainya dalam kelahiran mendatang. Jadi, ketika kita melihat anak
kecil balita yang pemarah, itu bukan suatu sifat yang tiba-tiba. Sebelum
terlanjur masuk ke kecenderungan yang buruk, maka dari itu kita harus melatih
pikiran kita. Tidak bosan-bosannya saya mendengar bahwa’ Pikiran itu adalah
pelopor, pikiran itu adalah pembentuk’. Pembentuk apa? Pikiran itu membentuk
bagaimana diri kita di hadapan orang lain. Orang lain itu ibarat cermin dari
diri kita. Dalam Dhammapada, sangat jelas sekali diuraikan bahwa:
Pikiran
adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah
pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka
penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu
yang menariknya.
(Dhammapada Atthakatha, syair 1)
Membentuk
suatu pikiran baik bukan hal yang sulit, yang dibutuhkan hanyalah menumbuhkan
faktor-faktor pendukung seperti di bawah ini:
1. Saddhà =
keyakinan
2. Sati =
perhatian murni
3. Hiri = malu
berbuat buruk
4. Ottappa = takut
akan akibat berbuat buruk
5. Alobha = tidak
serakah, kedermawanan
6. Adosa = tidak
membenci, niat baik
7. Amoha = tidak
bodoh, kebijaksanaan
8. Mettà = cinta
kasih, persahabatan
9. Karunà = belas
kasih, welas asih
10. Mudità =
kegembiraan simpatik
11. Upekkhà = keseimbangan batin
12. Sammàvàcà =
perkataan benar
13. Sammàkammanta =
perbuatan benar
14. Sammà-àjãva =
penghidupan benar
Yakin saja tidak cukup tanpa ada faktor-faktor
pendukung lainnya. Disampaikannya topic ini, bukan dimaksudkan untuk ‘menusuk’
hati anda. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Adanya topic
ini bisa berguna bagi anda untuk lebih mengenal diri anda sendiri. Segala
masalah dalam diri anda bukanlah kewajiban orang lain untuk memperbaikinya.
Segala masalah yang terjadi dalam hidup anda juga bukanlah kesalahan orang
lain. Diri anda adalah kewajiban anda sendiri, hanya anda yang bisa
menyelesaikan apa yang menjadi keburukan anda. Dengan tahu watak anda sendiri, diri
anda akan menjadi lebih waspada dan bijaksana. Dengan adanya artikel ini,
semoga semua bisa memperoleh carita positif. Selain itu, semoga semua bisa
berusaha mengenyahkan kebiasaan buruk dan mengembangkan kebaikan sekarang
maupun yang akan datang. Sadhu Sadhu Sadhu
Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah
jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak
sadar seperti orang mati.
Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut,
mengembangkan kesadarannya; ia berbahagia menjalani kehidupan suci.
(Dhammapada II Appamada Vagga: 21-22)
Komentar
Posting Komentar