Pancasila Buddhis dan Panca Dharma untuk beroleh kebahagiaan dalam hidup

Pancasila Buddhis dan Panca Dharma untuk beroleh kebahagiaan dalam hidup

Pāṇātipātā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.

Adinnādānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yangtidak diberikan.

Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari perbuatan asusila.

Musāvādā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.

Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhā-padaṁsamādiyāmi.

Aku bertekad akan melatih diri menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan bahwa dalam ajaran Buddha, ketika kita bisa memahami isi dari Sutta, Dhammapada, bahkan Tipittaka, hal tersebut merupakan hal yang bagus. Namun penekanannya disini, mengerti saja tidaklah cukup, kita butuh mempraktikkan atau meng-implementasikan ajaran tersebut sebagai suatu tindakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Mengapa harus begitu? Karena pelindung diri kita sendiri bukanlah para Dewa, bukanlah orang lain, bukan hewan peliharaan kita, tapi pelindung diri kita adalah diri kita sendiri. Maka dari itu, kalau kita tak bertindak saat ini tiada hasil di masa depan.
Dalam salah satu Paritta, yang kita kenal dari kecil mungkin adalah kelima Sila. Mulai dari tidak membunuh, tindak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak minum-minuman keras. Kelima Sila tersebut adalah hal pokok yang bisa kita pelajari dan kita ingat. Namun sejatinya, kelima Sila tersebut merupakan suatu hal yang bersifat pasif. Untuk mendukung kelima aturan tersebut, kita harus memahami Panca Dharma Buddhis.
Untuk tidak melakukan pembunuhan terhadap makhluk hidup, kita bisa memahami Panca Dharma yang pertama, yaitu dengan memiliki metta-karuna. Sebenarnya, menciptakan perdamaian dan kerukunan itu sederhana, jangan berbuat jahat, perbanyak cinta kasih dan kasih sayang. Tapi, sayangnya, sering kali manusia tidak waspada, sehingga gampang terhasut oleh masalah, maka timbullah kebencian, amarah, dengki, nafsu, dendam, dll. Dari semua itu, muncullah penderitaan. Sebaliknya, jika kita saling mencintai, mengasihi sesama, dengan praktik dana yang diajarkan Sang Buddha, kita bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diharapkan, tak terkecuali pembunuhan.
Panca Dharma yang kedua mewakili Sila kedua, yaitu samma ajiva, yang dapat diartikan sebagai kesabaran dalam cara berpenghidupan benar. Yang perlu ditekankan di sini yaitu kata kesabaran. Tanpa hal ini, mustahil bagi kita bisa menjalankan apa yg tertulis dalam sila kedua, yaitu tak mengambil apa yg bukan milik kita. Kembali lagi, jika mau mengupas pikiran, dalam pikiran itu bisa muncul banyak fenomena salah satunya perasaan dan nafsu. Kedua hal ini berbahaya jika kita tak bisa mengontrolnya. Yang pasti akan muncul kemelekatan. Melekati sesuatu membuat kita tak mampu melepas sesuatu.Kalau sudah tidak punya, maka dalam diri muncul keinginan untuk memiliki apa yg kita sukai bagaimanapun caranya. Kita jadi tidak sabar, dan mungkin saja pada akhirnya kita mencuri.
Panca Dharma yang ketiga penting bagi yang sudah berpasangan, yaitu santutthi. Puas terhadap apa yang dimilikinya, dalam hal ini pasangan hidupnya. Kenapa masih ada yg selingkuh? Jawabnya, karena belum cukup puas. Dipikir-pikir, punya satu pasangan aja belum tentu bisa mengayomi lahh kok masih pingin cari lagi, parahnya karena nafsu dan ketidakpuasan itu terjadilah tindak asusila.
Panca Dharma yang ketiga ini bisa dibedakan jadi 2, yaitu:


1. Sadarasantutthi, yaitu perasaan puas memiliki satu istri. Dengan kata lain tidak meninggalkan istrinya pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu muda maupun tua, dan tidak berusaha untuk pergi atau mencari wanita lain.

2. Pativatti, yaitu rasa setia kepada suami. Rasa setia tidak terbatas pada waktu. Sekalipun suaminya telah meninggal dunia, ia lebih memilih menjanda seumur hidupnya meskipun sebenarnya oleh tradisi dan hukum negara diperkenankan untuk menikah lagi.
Panca Dharma yang keempat adalah Sacca. Sacca yaitu kejujuran yang diwujudkan sebagai keadilan, kemurnian, kesetiaan, dan perasaan terima kasih. Cara agar tidak berbohong yaitu menguatkan kejujuran kita. Kalau sering berbohong, bagaimana kita bisa dipercaya oleh orang lain. Jangankan berkali-kali, kadang kala 1 kali berbohong saja, orang lain sudah bisa menilai kita dengan pandangan yang tak baik.
Panca Dharma yang terakhir berkaitan dengan Sila kelima, yaitu tidak minum-minuman keras atau hasil penyulingan yang memabukkan serta menyebabkan lemahnya kesadaran. Panca Dharma ini disebut Satisampajanna. Artinya berhubungan dengan kesadaran (Sati) dan pengertian benar. Gampangnya, bisa disederhanakan menjadi Eling lan Waspodo. Kenapa masih ada orang yang minum sampai mabuk? Orang mabuk dikarenakan kurang waspada. Kewaspadaan tersebut dibagi menjadi :

1. Kewaspadaan dalam hal makanan.
2. Kewaspadaan dalam hal pekerjaan.
3. Kewaspadaan dalam hal bertingkah laku.
4. Kewaspadaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan.

Sifat-sifat mulia seorang Ariya berkaitan dengan sila dan praktek-praktek mulia Pancadharma (Kalyana Dharma). Orang yang melatih sila belum tentu sudah memiliki sifat-sifat mulia itu sebelumnya. Praktek-praktek mulia dari Kalyana Dharma ini akan membuat mulia siapa saja yang melaksanakannya.
Dānam Dadantu Saddhāya.

Sīlam Rakkhantu Sabbadā.
Bhāvanābhiratā Hontu.

Berdanalah dengan penuh keyakinan

Rawatlah sila setiap saat
Gemarlah mengembangkan batin
(Devata-Uyyojana Gatha)

Jangan malu untuk memberi! Memberi, secara jelas, adalah melepas, tapi secara kasat mata, memberi dengan penuh keyakinan berarti menambah. Menambah bibit kebajikan yang telah kita tanam, supaya kelak kita dan siapapun baik yang tampak maupun yg tak tampak beroleh kebahagiaan.
Pahami Sila dengan benar, lakukan saat ini dan setiap saat, untuk memperoleh kebahagiaan. Sila adalah moralitas. Kembangkan Sila, untuk terlahir di alam yang bahagia, memperoleh kekayaan, dan tercapai padamnya kilesa. Gunakan kelima Kalyana Dhamma dengan tepat supaya memperkuat pengembangan moralitas kita masing-masing.
Bahagia atau menderitanya kita bukan dari orang lain, melainkan bisa kita temukan dalam diri kita sendiri. Maka dari itu gemar-gemarlah mengembangkan batin, latih meditasi, samatha jika anda tenang batinnya, vipassana untuk lebih paham fenomena2 dalam pikiran kita plus mengikis penderitaan dengan mengerti cara yang tepat menangani perasaan.

DĀNAÑCA DHAMMACARIYĀ CA 

 ÑĀTAKĀNAÑCA SAÑGAHO
ANAVAJJĀNI KAMMĀNI 
 ETAM MAÑGALAM UTTAMAṀ.
Murah hati, hidup dengan kebersihan bathin
Suka menolong sanak keluarga
Tindak-tanduknya tak tercela
Itulah Berkah Termulia


ĀRATĪ VIRATĪ PĀPĀ 

 MAJJA-PĀNĀ CA SAÑÑAMO
APPAMĀDO CA DHAMMESU 
 ETAM MAÑGALAM UTTAMAṀ.
Menghentikan/menghindari setiap kejahatan
Menjauhkan diri dari minuman keras
Tekun di dalam menjalankan kebajikan
Itulah Berkah Termulia


Semoga dengan sedikit ulasan ini, bisa mendukung perbuatan bajik yang kita lakukan, baik itu dana, merawat Sila serta bagi pengembangan batin kita. Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia, sadhuuu...(dikutip dan dikembangkan dari ceramah Samanera Jayaseno di SV 12 Maret 2017)

Komentar

Postingan Populer