MAJU ATAU MUNDUR??
MAJU ATAU MUNDUR?
OLEH: SILA GUNANANDI
(rangkuman oleh Indra Kurniawan)
Minggu,
14 Agustus 2016, Vihara Samaggi Viriya kembali dihadiri oleh sesosok wanita
luar biasa yang telah memilih jalan hidup sebagai Atthasilani. Beliau adalah
Sila Gunanandi Amita. Pada kesempatan kali ini, beliau memberikan ceramah
Dhamma tentang ‘Kemajuan atau Kemunduran’. Ceramah yang dibawakan singkat namun
sungguh bermakna. Pada kesempatan kali ini, perkenankan saya untuk menyampaikan
kembali dari apa yang saya dengar tadi dengan kata-kata saya sendiri.
Maju
atau mundur? Ketika ada orang bertanya kepada kita, apakah anda ingin maju atau
mundur dalam hidup anda? Setidaknya, sebagian besar orang akan menjawab dengan
lantang, ‘saya mau maju’. Ya, sewajarnya, tiada orang yang ingin hidupnya
mundur. Maju diartikan sebagai hal yang terbaik. Namun, apa yang kita pahami
sebagai suatu kemajuan memiliki gambaran yang berbeda-beda menurut
masing-masing individu. Ada yang ketika bisa mendapatkan harta yang banyak
dalam hidupnya maka ia menyebut keadaan itu sebagai suatu kemajuan. Ada pula
yang menggambarkan sebuah kemajuan dalam hidup jika ia berhasil mendapatkan
gelar yang tinggi dalam pendidikan. Di lain hal, ada pula yang ketika bisa
mencapai suatu tingkat kesucian, ia menyebutnya sebagai kemajuan.
Apakah
keadaan-keadaan di atas disepakati sebagai suatu kemajuan? Apakah dengan
memiliki harta yang banyak kita maju dalam hidup atau lebih baik dari orang
lain? Apakah gelar tinggi menunjukkan kemajuan kita? Kemajuan seperti ini
bukanlah sebuah kemajuan yang ideal. Mendapatkan banyak harta tidak berarti
kita lebih maju dari orang lain. Ketika kita merasa lebih baik dari orang lain,
timbul rasa serakah atau kikir. Timbul juga suatu perasaan tidak mau
kehilangan. Ohh, itu bukan kemajuan namun hanya penderitaan. Karena ketika kita
melekati sesuatu, dan hal itu lenyap, betapa sakitnya hati kita.
Gambaran
lain mengenai kemajuan, layaknya ketika kita naik di tangga. Ketika ada teman
kita, sudah sampai tangga ketujuh, sedangkan kita masih di tangga ketiga, apa
yang harus kita lakukan? Maju dengan cepat sampai tangga kedelapan sehingga
kita bisa menjadi lebih baik dari teman kita. Atau, maju secara bertahap ke
tangga ke empat terlebih dahulu?
Apa
yang disebut sebagai suatu kemajuan, tidak membutuhkan gerakan yang
tergesa-gesa. Jauh lebih baik, melangkah satu demi satu, tahap demi tahap,
namun dilakukan dengan baik. Walaupun di mata orang lain, kita hanya kelihatan
maju selangkah, namun alangkah baiknya dibandingkan dengan orang yang maju
terus namun melupakan esensi kehidupan. Untuk mencapai kemajuan dalam hidup
dengan baik, ada 3 cara yang bisa kita lakukan, yaitu:
1. Melalui kerelaan.
Rela bisa
diartikan ikhlas, tanpa pamrih, mau memberi tak harap kembali. Bila bicara soal
kerelaan, biasanya kita menghubungkan dengan ketika kita memberikan sesuatu
kepada orang lain. Sebagian orang lebih suka menerima daripada memberi karena
jika memberi pasti kehilangan. Kerelaan dalam memberi dibagi menjadi 2 hal,
yaitu memberi materi dan juga non-materi. Orang yang dengan rela dan tekad yang
baik ingin memberikan sesuatu ke orang lain, dia sebenarnya tidak kehilangan
namun malah mendapatkan berkah di masa depan. Dia bisa mendapatkan karma baik
yang akan berbuah suatu saat. Maka dari itu, dari yang apa disampaikan Sila
Gunanandi pada pertemuan sebelumnya tentang berkah-berkah orang berdana,
memberi bukan hal yang harus dipermasalahkan hanya karena kita akan kehilangan
apa yang kita miliki.
Dana pun juga
tidak harus diberikan kepada para Anggota Sangha, bahkan pada sanak keluarga
kita, pada orang yang membutuhkan, dan juga kepada hewan peliharaan kita,
dibutuhkan kerelaan untuk memberikan sesuatu demi kelangsungan hidup mereka.
Dalam
kehidupan sehari-hari, di vihara pun, jika tak ada kerelaan dari para umat atau
para pekerja, maka kondisi vihara tidak akan seindah yang kita tahu. Jika tidak
ada kerelaan dari masing-masing orang, maka mungkin di hari Minggu ini, tidak
ada umat yang hadir dalam puja bakti. Maka dari itu kerelaan bisa membuat kita
menjadi lebih baik atau mendapat kemajuan. Begitu pula, kembali dengan kerelaan
untuk memberikan sesuatu, dari hal ini kita bisa melihat kepribadian seseorang.
Jika orang tersebut sulit untuk merelakan suatu hal untuk diberikan kepada
orang lain, berarti orang tersebut belum bisa melepas kemelekatan ataupun
perasaan serakah atau kikir. Yang menanti hidupnya kelak hanya penderitaan.
Dalam suatu
kisah Jataka, Sang Buddha bercerita tentang seorang Bodhisatva yang ingin
memberikan atau mendanakan apa yang dimilikinya kepada seorang Paccekha Buddha.
Dalam kisah ini, Sang Bodhisatva memiliki tekad dan kerelaan yang kuat untuk
berdana kepada Buddha tersebut. Namun, ketika Sang Bodhisatva akan keluar dari
rumahnya, timbul gangguan dari Mara berupa kobaran api yang sangat besar. Dalam
hal ini, jika anda menjadi Bodhisatva tersebut, apakah tindakan akan yang akan
anda ambil? Apakah mengurungkan niat anda untuk berdana? Atau terus maju dengan
tekad yang kuat?
Sang
Bodhisatva dengan kerelaan yang kuat untuk memberi dana makan kepada Paccekha
Buddha, dengan gagah berani, Ia maju melewati kobaran api tersebut. Bahkan,
ternyata Sang Bodhisatva berhasil melewati kobaran api tersebut. Dan, Dewa Mara
pun hadir di hadapan Bodhisatvat tersebut sembari berkata,’ Tak pernah ku lihat
orang dengan tekad dan keagungan seperti Anda’.
Sebenarnya, cerita
ini menyimbolkan kehidupan dan gejolak batin manusia. Kobaran api besar
menggambarkan api keserakahan dan api kekikiran. Ketika kita mengalami rasa
ragu-ragu untuk memberikan sesuatu, maka kobaran api tersebut akan mengalahkan
kita. Tapi, sebaliknya, seperti yang dilakukan oleh Sang Bodhisatva, yakin dan
rela untuk berdana kepada Paccekha Buddha, maka di situlah ada kemajuan.
2. Maju dengan berbakti kepada orang tua
Sosok orang
tua begitu penting bagi seorang anak. Tanpa orang tua, kita tak akan bisa menjalani
hidup kita sekarang ini. Jikalau kita bingung mencari hal-hal yang baik dalam
hidup kita, paling tidak hormati orang tua kita. Berikan yang terbaik untuk
mereka.
Perlu diingat
bahwa bukan hal yang mudah untuk bisa melahirkan kita. Kesakitan, perih,
teriakan histeris muncul sebagai tanda perjuangan seorang ibu untuk melahirkan
anaknya. Ketika kita, sebagai seorang anak, masih memiliki kesempatan untuk
berbuat baik kepada orang tua kita, jangan sia-siakan kesempatan tersebut. Kita
tak tahu kapan akhir hidup kita, mungkin saja di saat kita masih muda kita
mendahului orang tua kita. Sokonglah hidup orang tua kita, berikan yang terbaik
bagi mereka kapanpun dan dimanapun. Orang tua rela mengorbankan waktu dan
tenaga nya hanya untuk kebahagiaan kita. Tak relakah kita melakukan seperti
itu?
Hidup kita
itu panjang, namun paling tidak dalam panjangnya hidup kita itu, kita bisa
menciptakan momen bahagia bagi orang tua kita. Jadilah anak yang bisa
membanggakan orang tua. Ada kalanya, sebagai seorang anak kita harus berpisah
dengan orang tua kita. Ada yang tak memiliki ibu, ada yang tak memiliki ayah,
ada juga yang tak memiliki keduanya. Lalu, di saat seperti itu apa yang bisa
kita lakukan untuk mereka?
Pelimpahan
jasa lah yang bisa kita lakukan dalam keadaan seperti itu. Dalam Agama Buddha,
ada momen khusus dalam acara Pattidana. Di sanalah kesempatan terbesar kita
untuk melimpahkan jasa kebaikan bagi sanak keluarga kita yang telah mendahului
kita. Dengan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, bukan hanya kemajuan
yang kita dapat, namun karma baik dan berkah luar biasa bisa kita dapatkan di
kemudian hari.
3. Maju dengan melepas hal-hal duniawi
Dalam hidup
ini, kita tak luput dari kekotoran batin. Hal-hal buruk tersebutlah yang
menimbulkan penderitaan. Tiada orang di dunia ini yang tidak menderita. Banyak
faktor yang menimbulkan penderitaan salah satunya yaitu melekat pada hal-hal
duniawi. Ketika kita menyukai suatu hal, namun tak mau melepasnya, maka
disanalah muncul penderitaan. Melepaskan hal duniawi dari kehidupan kita
bukanlah hal yang mudah. Kita membutuhkan kerelaan dan juga tekad yang kuat.
Sila
Gunanandi pun seperti itu, menjadi seorang Atthasilani juga melalui serangkaian
proses dan tekad yang kuat. Kita tidak harus terjun langsung menjadi seorang
Bhikkhu atau Atthasilani. Kita bisa melatih diri dengan mengikuti retret
Vipassana di vihara. Selain itu, kita bisa juga mengikuti Pabajja. Melalui
hal-hal semacam ini, kita melatih diri untuk sejenak meninggalkan
masalah-masalah atau rutinitas kita sehari-hari. Kita menjadi sosok yang baru.
Dalam jangka waktu tertentu, kita berlatih untuk meningkatkan moralitas dan
juga melatih diri dalam latihan Atthasila. Dari sinilah, kita beroleh kemajuan
baik dalam moralitas maupun dalam ketenangan diri.
Inilah 3 hal yang patut kita lakukan
untuk bisa memperoleh kemajuan. Maju bukan berarti melangkah dengan cepat untuk
mengalahkan orang lain. Maju dilakukan dengan setahap demi setahap untuk
mencapai suatu perubahan yang baik. Semoga dengan mengetahui hal ini, dapat
membantu kita untuk lebih maju serta lebih baik dalam semua hal. Sadhu3x.
Komentar
Posting Komentar